Posts

Showing posts with the label deaf

Ketika Kami Salah Mengartikan Kebaikanmu

Image
Sore itu, aku marah. Ndremimil nggak karu-karuan. Apa pasal? Suami tak mau mengangkatkan telepon. Satu pun beliau tidak berkenan. Bukankah beliau sudah paham jika aku tidak bisa mengangkat telepon, kenapa untuk urusan satu ini susah benar? Suami dan istri harusnya saling melengkapi, bukan begitu? Aku memasang tampang judes. Ketika suami mendekat, aku melengos. Seharusnya beliau memahami kekuranganku dengan membantu mengangkat telepon yang masuk ke nomor handphone-ku. Jauh sebelum beliau melamar, aku sudah menuturkan dengan detail tentang keadaanku yang mengalami tunarungu parsial. Maghrib menjelang, aku masih terkungkung kemarahan. Suami memutuskan untuk keluar tanpa pamit. Aku mencoba untuk tidak peduli.
Imajinasiku semakin liar. Menebak-nebak tak tentu arah.
Apa beliau tidak mau memahami keadaanku yang tunarungu? Apa beliau terbebani mempunyai istri yang tunarungu?
Aku tergugu. Ternyata tidak mudah. Terbayang tentang teman-teman tunarungu yang rerata memilih pasangan sesama tunarun…

Katamu Aku Tuli

Katamu aku tuli, tetapi kenapa masih saja kamu menggertakku kala aku tak mampu menangkap katakatamu? harusnya, kamu maklum. Biarlah, dia tuli. Bukan begitu?

Katakata itu kembali terngiang. babakbabak yang membuat saya betah menangis lama kembali berputar di otak dengan sangat jelasnya kala saya mengikuti pelatihan kader PAUD hari kedua.Ya! babak yang menyadarkan saya bahwa saya tidak sama dengan teman-teman saya, membuat saya harus mengangguk kala Bu Enjang menjelaskan tentang CAP atau LABEL.Bahwa CAP atau LABEL yang ditujukan kepada kita saat kecil akan melekat kuat dalam otak. bahwa sakit akibat kata akan bertahan lebih lama daripada sakit akibat kekerasan fisik.

Saya tidak membual. saya tak lagi merasakan tamparan guru matematika saya saat SMP. Bahkan saya tak ingat lagi di mana cubitan ibu saat saya ngamuk gulingguling di lantai.Tetapi, katakata itu sangat melekat di hati saya, bahkan saya ingat detil kejadiannya. Padahal waktu itu saya masih duduk di TK NOL kecil, sekitar 4 tahu…

Catatan Emak Deaf | Detik-detik Melahirkan

Image
"Abah, cuti, ya. Temani." Aku mengirimkan sms ke suami seminggu sebelum perkiraan lahir dari dokter Obgyn. Suami mengiyakan, menemani berbagai prosedur kontrol di puskesmas Cebongan tempat rencana melahirkan. Melakukan koordinasi dengan bidan yang bertugas mengingat aku seorang tuna rungu parsial.
"InsyaAllah bisa melahirkan normal, Mas. Kan mbaknya bisa baca bibir, bisa dikondisikan nanti." jelas bu Bidan menjawab kekhawatiran suami.
Aku menikmati masa tunggu dengan melakukan aktivitas seperti biasa. Nyuci, memasak, ngepel dan lain sebagainya kulakoni sebagaimana hari-hari biasa. Bahkan masih sempat ngebolang hunting bibit bunga di Kopeng, lereng Merbabu.
Kamis Malam Suami sibuk ngoding. Entah aplikasi apalagi yang tengah digarap. Sementara keinginan untuk diperhatikan mendadak mengalami fluktuasi tinggi. Aku ngambek berat. Nangis tanpa sebab. Suami tetap asik di depan lepingu, mengabaikan istrinya yang nangis geje. Hahahaha.
Kamis 10.30 pm Perut terasa mules. Bo…

Trust Me, BNI Ramah Deaf dengan #AskBNI

Image
Ada kekalutan yang melanda ketika harus  transfer ke bank untuk keperluan usaha suami sendirian, tanpa pendamping sama sekali. Sebagai penyandang tunarungu, aku sangat anti dengan urusan ranah publik, sebab biasanya pelayan publik memanggil antrian dengan panggilan suara.
"Dimana?" aku bertanya kepada suami.
"BNI." suami menjawab dengan singkat melalui sms. Transfer ini harus dilakukan dengan segera, sebab klien meminta pengerjaan website dipercepat.
Rasanya, aku ingin melempar tanggung jawab yang diberikan suami ke orang lain. Tetapi entah kenapa, hari itu semua orang kompak tidak bisa membantu. Aku pun bergegas ke BNI cabang Salatiga yang lokasinya persis di pusat keramaian kota dengan perasaan dag dig dug pless. Membayangkangkan bagaimana jika antrian melalui panggilan suara, apakah kejadian memalukan beberapa tahun yang lalu kembali terulang?
Saat itu, aku mendaftar ke sebuah bank untuk tugas sekolah. Terlihat bank penuh. Tempat duduk tidak ada satu pun yang k…

Atusa | Asosiasi Tuli Salatiga dengan Segudang Karya

Image
Tak ada satu pun manusia yang bisa memilih dilahirkan cacat ataupun sempurna. Jika boleh memilih, semua orang pasti memilih dilahirkan dalam keadaan sempurna, fisik yang prima, wajah yang tampan atau cantik, orang tua yang kaya raya, serta keluarga yang harmonis. 
Bagaimana jika Tuhan Menggariskan jalan hidup dengan kondisi telinga yang tidak berfungsi optimal?
Beragam reaksi atas Garis Tuhan tersebut. Ada yang merutuk, menuduh bahwa Tuhan sungguh tidak adil. Sebagian pasrah, toh, sudah ditakdirkan seperti ini, tetapi tidak ada yang dilakukan lebih lanjut. Sebagian yang lain menerima, legowo atas apa yang Digariskan oleh Tuhan, tetapi tetap berikhtiar, meyakini bahwa ada sesuatu yang indah, yang Disembunyikan oleh Tuhan atas apa yang telah menimpanya.


Atusa, Asosiasi Tuli Salatiga, adalah salah satu perkumpulan yang mewadahi teman-teman tuli untuk legowo dan terus berkarya menemukan berlian indah yang Disembunyikan Tuhan pada diri kami, para penyandang tuli. Atusa dibentuk secara mand…