Tampilkan postingan dengan label Diari Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diari Kita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2018

Pensiun yang Tertunda dan Murid Berkebutuhan Khusus

2
Aku adalah murid yang paling dekil dan bodoh saat kelas 3 SD. Nilai Matematika dua koma, jangan tanya bagaimana dengan pelajaran yang lain, mirip-mirip kursi terbalik. Kala itu, pengaturan tempat duduk berdasarkan nomor absen. Sebagai pemilik absen paling buntut, aku duduk di bangku paling pojok belakang.

Pojok belakang terjauh dari meja guru. Bangku pojok belakang adalah neraka bagi seorang Hard of Hearing sepertiku. Hari-hariku di sekolah cuma bingung, nyaris setiap menit aku mengusik teman sebangku, "Pak Guru nyuruh apa, sih?"

Jangan tanya apakah aku bisa menyimak pelajaran. Boro-boro nyimak, 'baca' mulutnya pak Guru saja aku enggak bisa. Bisa dibilang kala itu aku cuma setor muka. Aku tidak tahu, apakah pak Guru sama sekali tidak tahu tentang telingaku yang istimewa, ataukah sebenarnya tahu tetapi tidak peduli.

Lagipula, itu sudah berlalu. Aku tidak akan bercerita tentang pak Guru di kelas tiga, sebab itu hanya membuatku menuang air garam ke dalam luka yang sudah kusembunyikan dalam lorong waktu. Aku akan menceritakan kepada kalian, sesosok guru yang menjadi hujan setelah kemarau panjang.



Pensiun yang Tertunda dan Murid Berkebutuhan Khusus

Aku memanggilnya pak Tondo. Masih terhitung saudara jauh, entah dari jalur mana. Pak Tondo sudah memasuki usia pensiun kala itu, tetapi karena belum ada guru pengganti yang menggantikan beliau, sekolah meminta beliau tetap mengajar di sekolah.

Entah apa yang ada di benak beliau dulu, sudahlah ditunda pensiunnya, di kelas ketemu anak berkebetuhan khusus dengan nilai yang na'udzubillah

"Utami, duduk di sini. Di depan Bapak." seru pak Tondo, ketika mendapatiku duduk di bangku bagian tengah. Disambut suara 'yes!' dari teman yang disuruh pindah oleh Pak Tondo. Jadilah aku duduk di depan meja guru persis, tempat duduk yang menjadi neraka bagi kebanykan murid, apalagi kalau gurunya tipe main tangan, tempat duduk persis di depan guru adalah tempat strategis untuk menggebrak pakai penggaris panjang. 

Tunas yang Tumbuh Setelah Kemarau Panjang

Kamu tahu bunga Zephyranthes Rosea? Ehmm. Lili Hujan? Bunga bawang-bawangan? Aku merasa, sejak di bangku kelas empat, tunas-tunas otakku mulai tumbuh setelah setahun sebelumnya kering-kerontang dan nyaris kehilangan nyawa untuk sekolah.


"Ada yang masih bingung?" tanya pak Tondo, berdiri di samping tempat dudukku.

Aku mengangguk pelan, cara mencari akar bilangan cukup membuat otakku panas.

Tidak kusangka, pak Tondo menjelaskan ulang kepadaku dengan sangat sabar. Di saat teman-teman yang lain sudah setor hasil pekerjaan mereka, aku masih dijelaskan oleh pak Tondo. Malu? Enggak, sebab pak Tondo tidak pernah membandingkan dengan murid yang lain. Sungguh, kata-kata, "Itu lho, si X sudah selesai." tidak pernah keluar dari beliau.

Di menit keberapa entah, di saat aku berhasil menyelesaikan soal akar, pak Tondo berseru, "Nah! Utami bisa, kan? Bisa."

Aku terpesona. Terpesona dengan kemampuanku sendiri, terpesona dengan senyum beliau yang mengembang. Hei, aku yang berulangkali dituding budheg, ternyata bisa membuat guruku tersenyum. Saat itulah, tunas-tunas percaya diriku mulai tumbuh. Gairah belajar melesak, aku tertantang untuk menyelesaikan soal-soal yang lain.

Utami kecil yang budheg itu, mulai merangkak, menyusun kembali mimpi-mimpinya yang nyaris tenggelam. Aku bukan pemuja rangking, tetapi tidak bisa memungkiri jika rangking empat yang bertengger di rapor kelas empat menjadi salah satu kebanggan yang memunculkan rasa percaya diri bahwa aku bisa seperti teman-teman Dengar, meskipun pendengaranku sangat terbatas dan sering diolok-olok loading lama.

Satu tahun bersama pak Tondo terasa begitu singkat. Mungkin, akulah murid yang paling nelangsa ketika pak Tondo resmi pensiun dan berhenti mengajar. Tanpa beliau sadari, pendampingan pak Tondo selama setahun adalah saat-saat aku membangun pijakan percaya diri juga pijakan pantang menyerah, yang masih sangat bermanfaat sampai sekarang.

Hiks-hiks, aku nangis.

Ternyata, Pak Tondo Masih Mengingatku di Hari Tuanya, juga Kilasan Tingkahku saat Di Kelas

Terakhir berkunjung ke rumah beliau adalah empat tahun yag lalu. Sebelum menikah, pak Tondo adalah salah satu daftar wajib kunjungan kala lebaran. Setelah menikah aku belum mengunjungi rumah beliau lagi karena sempitnya waktu, kepepet akan mudik sowan ke kampung halaman. 

Saat berkunjung ke rumah beliau, beliau selalu bercerita tentang kilasan-kilasan saat aku berada di kelas. Cerita-cerita yang membuatku malu, padahal dalam hati aku bangga karena beliau masih mengingatku, lengkap dengan kilasan saat di kelas belasan tahun yang lalu. Saat aku ganti bercerita tentang aktivitas sekolahku, aktivitas kuliahku, senyum beliau mengembang, dengan kucuran doa-doa yang indah. Gusti, gerimis hatiku, kumohon, Muliakan guruku.

Dear, Bapak.
Entah Bapak akan membaca atau tidak, terimakasih atas waktu dan cinta yang kauberi belasan tahun yang lalu. Semangat untuk berbenah dan belajar yang kudapat dari Bapak, masih kupakai sampai sekarang.

Terimakasih telah membantu menemukan harta karunku.

***

Fiuuuhhh, melow parah. Pagi ini aku menangis mengingat beliau. Masih banyak orang-orang yang sangat berkesan dalam hidupku, mungkin aku akan menuliskannya lain kali. Terimakasih #BloggerKAH, mbak Arin dan mbak Rani yang membuatku menulis blogpost ini.

Teruslah berbuat baik. kadangkala tanpa disangka, kebaikan-kebaikan yang bagi kita receh sangat berharga di kehidupan orang lain.
Oh iya, jangan lupa baca cerita mbak Rani Kejutan di Balik Kebaikan Kecil dan mbak Arin Mengenang Kebaikan Orang Lain, Agar Aku Selalu Ingat, Aku Sangat Beruntung ya. Sampai jumpa lagi di kollab bulan depan. :D





Read More..

Rabu, 07 September 2016

Mencuci Sayur dengan Cinta

3
"Jadi, Nduk... Setelah dibersihkan, sayurnya digebyur dari atas. Untuk menghilangkan najis."
 Dhawuh yai Nasrudin, tiga tahun yang lalu. Saat aku belum menikah, boro-boro nikah, kenal abah K saja belum. Aku tercengang. Weleh... mencuci sayur saja ada aturannya, gumamku. Itu baru satu diantara sekian petuah yai Nasrudin tentang pernikahan  yang beliau sarikan dari kitab Maratus-Shoolikhah. Astagah, nikah ternyata butuh banyak persiapan. 

Dan, dua tahun ini aku merasakan, betapa ilmu tentang pernikahan dan segala tetek bengeknya harus dipelajari benar-benar. Yai Nasrudin dulu sudah dhawuh, ujian sesungguhnya adalah ketika aku sudah menikah, bukan ketika aku lancar menjawab pertanyaan yai Nasrudin tentang materi yang telah beliau sampaikan. Asli, ujian ini nggak bisa nyontek sama sekali. Langsung berhadapan dengan segala permasalahan yang ada.

Kapokmu kapan, Dut?

Satu pasal yang beliau sampaikan adalah tentang mempersiapkan sayur-mayur, lauk, beras dlsb sebelum dimasak. Tak pisa dipungkiri, kita tak tahu pasti apakah beras dan segala ubo rampenya bebas dari najis ketika berpindah dari tangan ke tangan hingga sampai ke tangan kita. Jika beli sayur di pasar pagi, sudah pasti ragu tentang kesuciannya, lha wong digelethakin begitu saja di lesehan. Campur dengan aneka macam sayur yang barangkali masih membawa aroma pupuk kandang. Heuu.

Lalu, agar kita yakin se-haqul yakinnya, mari kita sucikan segala yang akan kita masak. Bukan sekedar cuci bersih, tetapi juga suci. Karena makanan adalah urusan partikel-partikel pembangun jasad. Untuk menjadikan jasad baik, maka apa yang harus masuk juga berasal dari hal yang baik.

Mencuci Sayur dengan Cinta

"Mencuci sebersih-bersihnya terlebih dahulu, kemudian disiram air mengalir dari atas. Boleh langsung dari kran, boleh dibantu dengan gayung, dengan air suci yang mensucikan. Jika tidak bisa dipegang dengan tangan, seperti beras atau sayur yang kecil-kecil, boleh dibantu dengan wadah berpori yang memungkinkan air langsung mengalir ke bawah."


 Simpel saja, kan? Nggak butuh waktu yang banyak, tetapi manfaatnya insyaAllah baik untuk jasad sesiapa yang memakan masakan kita. Hmm, anyway, mencuci sayur dan aneka printilannya dengan air yang mengalir sangat dianjurkan oleh ahli kesehatan.

Manfaat Mencuci Sayur dengan Cinta


Dyah Suryani, S.Si, M.Kes, mempublikasikan sebuah jurnal hasil penelitian sayur kubis pada pedagang pecel lele di kelurahan Warungboto, Yogyakarta. Penelitian ini menunjukkan bahwa dari 16 pedagany yang mencuci sayur dengan serampangan, terdapat 5 orang yang sampel kubisnya mengandung telur cacing nematoda usus. Penyebabnya sangat simpel, pedagang mencuci kubis di air baskom berulang kali, sehingga telur cacing nematoda usus kembali menempel di kubis. Saran beliau simpel, cuci sayuran dengan air yang mengalir, insyaAllah akan mengurangi kontaminasi cacing nematoda usus.

Penelitian dari mahasiswa Universitas Udayana Bali juga menunjukkan bahwa mencuci kacang panjang dengan air yang mengalir dapat menurunkan residu insektisida yang terdapat pada kacang panjang. Residu insektisida akan ikut hanyut bersama air yang mengalir. Jurnalnya bisa diakses disini. Masih banyak penelitian yang menggambarkan betapa pentingnya mencuci sayur-mayur dan segala bahan makanan dengan air mengalir sebelum dimasak.

Hmm, mencuci saja ada ilmunya, kan ya. Menyajikan untuk yang dicinta dengan segenap cinta, dengan kidung-kidung doa. Sssst, WiDut juga mendapatkan petuah manjur dari yai Nasrudin agar suami dan anak-anak selalu kangen untuk pulang; memasak dengan cinta, dimulai dengan menyiapkan dengan cinta, dibumbui dengan sholawat dan doa untuk yang tercinta. Pelet versi syar'i. Sudah banyak yang membuktikan, Abah K contohnya, mendadak ingin pulang kampung hanya karena kangen dengan sambal buatan Emak tercinta. Hayo, siapa yang nggak kangen dengan masakan ibu? :p

Selamat mencuci sayur dengan cinta, semoga doa-doa yang terkidung selalu membersamai orang tercinta.
Read More..

Selasa, 06 September 2016

Full Day School di Mata Alifia Seftin Oktriwina, (Calon) Psikolog dari Padang

Leave a Comment
Selepas dilantik sebagai Mendikbud, pak Muhadjir dibully habis-habisan karena pernyataannya tentang full day school. Publik ditarik ke dua kutub, pro dan kontra.

Pihak yang pro beralasan pergaulan anak-anak sekarang yang semakin mengkhawatirkan. Adanya full day school diharapkan bisa menjaga pergaulan anak, mendidik anak untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mengembangkan bakat anak sedini mungkin. Bagi golongan pro, full day school laksana oase di tengah kekhawatiran minimnya waktu orang tua untuk mendampingi anak. Full Day School adalah solusi tentang segambreng permasalahan orang tua yang tidak memiliki waktu atau kemampuan cukup untuk membersamai anak.

Di sisi lain, pihak yang kontra menganggap bahwa full day school adalah penghalang sosialisasi anak dengan orang tua dan lingkungan, pun menjadi batu ganjalan tentang kegiatan sore anak, dari kesenian, ketrampilan hingga keagamaan. Kegiatan full day school dianggap melebihi batas karena memforsir anak hingga sore hari.

Tak sedikit yang saling menghujat, merasa dirinya paling benar. Aku pun, sempat menolak gagasan ini karena berkaca pada pengalaman pahit dua tahun yang lalu ketika mendampingi seorang adik yang tertekan dengan segambreng target di sekolahnya yang berkonsep full day school. Adik ini belum mampu memahami konsep perkalian paling sederhana, padahal dia sudah 3 bulan menjelang Ujian Akhir Sekolah dan berhasil membuatku merapal Hasbunallah Wa Ni'mal Wakiil saking gregetannya. Gimana nggak gregetan, wong kemampuan kognitifnya di bawah standar kok targetnya teteup menghafal juz 30. Hosh hosh, ngos-ngosan dia... Yang membuatku menegur orang tuanya adalah... Si Adik ini ternyata tidak niat sekolah di full day school sejak awal. Kalau begini, yang repot siapa? Orang tuanya, gurunya, kepala sekolahnya, dan... guru lesnya.

Di lain pihak, ketika aku berdiskusi dengan seorang sahabat yang anaknya saat SD sekolah di full day school dan saat SMP sekolah di sekolah umum, beliau bercerita betapa kentara perbedaan dalam diri anak, baik secara kualitas maupun kuantitas. Saat SD, anak sahabat ini mampu melampaui target hafalan juz 30, kesehariannya lebih tertata, disiplin serta kreatif, terbawa dengan aura lingkungan sekolah full day school. Setelah memasuki SMP, anak ini mengalami penurunan hafalan serta kedisiplinannya mengendor.

Hmmm, daripada terbawa arus gonjang-ganjing pro dan kontra, mending kita minta pendapat ahlinya saja. Psikolog salah satunya, apakah full day school baik untuk anak? Aku pun memanfaatkan momen Arisan Link, kebetulan yang menang adalah mbak Alifia Seftin Oktriwina, seorang (calon) psikolog yang tinggal di Padang, anggota termuda di grup kami, aktivis kampus yang punya kegiatan seabreg-abreg, plus pemilik blog http://alivia-awin.blogspot.co.id/.



Mbak Awin, begitu kami akrab memanggilnya, menyarankan agar menanyakan kepada anak sabelum orang tua memutuskan sekolah untuk anak. Bagaimanapun, kelak yang menjalani semua adalah anak. Lalu, jika anak memilih untuk sekolah di full day school bagaimana? Beritahu semua tentang sekolah kepada anak. Berikut yang perlu dijelaskan kepada anak:
  1. Kegiatan di Sekolah yang meliputi jam kegiatan, pelajaran, aktivitas sekolah. Sedetail mungkin, sehingga anak memiliki gambaran untuk mempersiapkan diri sebelum sekolah.
  2. Konsekuensi Sekolah Pilihan, jelaskan kepada anak, apa saja konsekuensi yang harus dijalani oleh anak ketika sekolah di sekolah tersebut. Misalnya, di sebuah SDIT Salatiga, anak ditargetkan hafal 3 juz selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.
  3. Keadaan Lingkungan Sekolah, ajak anak untuk mengobservasi sendiri lingkungan sekolah. Tanyakan padanya, apakah ia bisa enjoy jika keadaan lingkungan sekolah seperti itu.
 Jika ketiga hal pokok tersebut dijawab dengan positif oleh anak, yuk, lanjutkan proses untuk sekolah di full day school dengan men-support penuh kegiatan anak. Jangan lupa untuk memperhatikan kemampuan kognitif anak, lhoh. Selalu diskusikan dengan orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Jangan menanyakan tentang cara menanam padi kepada orang yang profesinya sebagai programmer, salah-salah malah dikasih bahasa pemrograman untuk menjinakkan tanah. Peace.
Belum punya kenalan untuk diajak diskusi tentang seluk-beluk psikologi? Feel free to contact mbak Awin. Beliau orangnya super welcome untuk diajak diskusi, hanya harus sabar karena beliau ini punya kegiatan seabreg-abreg. Heuheuuu. Sembari menunggu diskusi dengan mbak Awin, tengoklah blog beliau yang sudah dibangun sejak tahun 2010.





Read More..

Rabu, 31 Agustus 2016

SMSBunda dan Serba-Serbi MPASI

13

Saat si K memasuki usia empat bulan dua puluh hari, aku mulai berburu informasi tentang MPASI. Berbagai jurnal kulahap. Berbagai sumber kujadikan referensi. Hasilnya? Sungguh membingungkan. Ini tidak sesimpel yang kubayangkan. Berbagai silang pendapat kutemukan. Jangankan di kalangan ibu-ibu, di kalangan ahli kesehatan pun kentara sekali pro dan kontranya. Nambah lagi mom war-nya; MPASI dini vs MPASI 6 bulan, MPASI home made vs MPASI pabrikan, eehhh,ternyata masih nambah Baby Lead Weaning atau MPASI pure yang disuap.

Nyut-nyutan? Tunggu, aku bakal berbagi informasi yang kukumpulkan dari berbagai pro kontra tersebut. Keputusan diambil oleh Ibu sendiri. Yep, Ibu lah yang lebih paham dengan keadaan baby. Bukan tetangga, bukan tukang bully di berbagai medsos, apalagi mantan. Wkakaka. Mantan lagi...

Kapan Waktu Terbaik untuk Memulai MPASI?

Aku dulu berprinsip si K harus diberi MPASI setelah usianya pas 6 bulan. Eh, lha kok waktu usianya baru menginjak 22 minggu, neneknya menyuapi si K dengan roti bayi karena nggak kelar-kelar rewelnya. Bete? Pasti. Merasa gagal ASIX 6 bulan. Duh, Gustiiii. Mau marah juga nggak bisa, kalah pengalaman dengan Ibu. Seharian gegoleran di kasur, chat teman-teman, tanya sana-sini, apa roti bayi yang dimakan si K tidak membahayakan perutnya? 

Tetiba, ada sms masuk. Penasaran? Iya dong, wong sekarang jamannya WA, Line, BBM, ada sms tentu excited banget. Heuheuuu. Ternyata dari SMSBunda yang mengabarkan jika sudah tiba saatnya memberi MPASI si kecil. 


Eh, wait! Ini beneran apa ngaco, nih? Sebagai Emak yang cerdas,cermat dan bersahaja, eh, aku pun kroscek ke berbagai jurnal resmi IDAI. Ternyata, pemberian MPASI nggak kudu pas enam bulan, lho. Waktu terbaik untuk memulai MPASI ternyata tidak sama untuk setiap anak. Ada observasi perkembangan oromotor anak untuk menentukan apakah anak sudah siap menerima MPASI atau belum. 

Ini dia tiga patokan perkembangan oromotor yang harus diperhatikan sebelum memulai MPASI:
  1. Anak mampu duduk dengan kepala tegak.
  2. Anak bisa mngkordinasikan mata, tangan, dan mulut untuk menerima makan. 
  3. Mampu menelan makanan padat 
 
Rerata anak Indonesia mencapai perkembangan oromotor tersebut pada usia enam bulan. Makanya, IDAI menyarankan untuk memberikan MPASI pada usia enam bulan. ESPEHAN (Eropan Society For Pediatric Gasthro Hepatology and Nutrition), menyarankan untuk memulai pemberian MPASI pada usia 17 minggu sampai 26 minggu. 
Dengan catatan TIDAK BOLEH LEBIH DARI 27 MINGGU DAN KURANG DARI 16 MINGGU
Iya, jika kurang dari 16 minggu maka tergolong MPASI dini yang bisa membahayakan pencernaan karena organ pencernaan bayi belum siap untuk menerima makanan padat. Jika lebih dari 27 minggu, anak rawan terkena defisiensi atau kekurangan zat besi karena kandungan ASI sudah tidak mencukupi kebutuhan nutrisinya. Anak usia 6 bulan-an sudah usil banget, kan? 

Nah, karena si K sudah mampu mengangkat kepala, bahkan geleng-geleng ekstrem, tangannya pun bisa memegang segala mainan kemudian dikenyot-kenyot, maka aku memutuskan untuk melanjutkan MPASI yang sudah dimulai oleh neneknya si K. Sekarang kegalauanku berlanjut tentang Mom War lainnya, MPASI Home Made atau MPASI pabrikan. Emak K mah gitu, dikit-dikit galau. LoL 

MPASI Home Made atau MPASI Pabrikan?

Sebagai emak yang idealis, saat hamil si K aku mencari aneka resep MPASI home made karena terlanjur serem dengan gosip yang beredar bahwa MPASI pabrikan tidak aman. Dan... setelah si K tiba masanya untuk MPASI, ternyata ini tidak sesimpel yang kubayangkan. Ada pertimbangan higienisitas, kandungan gizi dan tentu waktu untuk membuatnya. 

Jika Ibu tidak bisa menyediakan MPASi dengan nilai gizi yang mencukupi anak, dianjurkan untuk memberikan MPASI pabrikan yang khusus dirancang untuk bayi sesuai dengan usianya. Jika Ibu mampu menyediakan MPASi dengan nilai gizi yang mencukupi, maka MPASI home made sangat dianjurkan oleh IDAI. 

Keterpenuhan zat besi pada MPASI adalah hal utama yang disoroti oleh IDAI. Zat besi biasanya terkandung dalam daging merah (daging sapi, hati ayam, hati sapi), bayam. Karena aku bukan Ibu yang telaten jika musti ngeblender aneka daging setiap hari, maka aku pun memutuskan untuk memberikan MPASi instan bagi si K setiap pagi. Tentu saja MPASi instan yang kupilih memiliki kandungan fortifikasi zat besi sesuai dengan yang dianjurkan oleh IDAI. MPASi siang dan sore si K home made. Membuatnya cukup mudah. 

WHO Global Strategy for Feeding Infant and Young Children pada tahun 2003 merekomendasikan agar pemberian MPASI memenuhi 4 syarat, sebagaimana yang dikutip oleh IDAI pada buku Rekomendasi Praktik Pemberian Makan Berbasis Bukti pada Bayi dan Batita Indonesia untuk Mencegah Malnutrisi, yaitu:
  1. Tepat waktu (timely), artinya MPASI harus diberikan saat ASI eksklusif sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi 
  2. Adekuat, artinya MPASI memiliki kandungan energi, protein, dan mikronutrien yang dapat memenuhi kebutuhan makronutrien dan mikronutrien bayi sesuai usianya 
  3. Aman, artinya MPASI disiapkan dan disimpan dengan cara cara yang higienis, diberikan menggunakan tangan dan peralatan makan yang bersih 
  4. Diberikan dengan cara yang benar (properly fed), artinya MPASI diberikan dengan memperhatikan sinyal rasa lapar dan kenyang seorang anak. Frekuensi makan dan metode
    pemberian makan harus dapat mendorong anak untuk mengonsumsi makanan secara aktif dalam jumlah yang cukup menggunakan tangan, sendok, atau makan sendiri (disesuaikan dengan usia dan tahap perkembanganseorang anak)
 

Responsif Feeding atau Baby Led Weaning? 

Di media sosial beredar tentang BLW, Baby Led Weaning yang dicetuskan oleh Gill Rapley dan Tracey Murhett, dimana bayi memakan makanannya sendiri. Langsung dalam bentuk utuh. Tidak boleh berwujud bubur, tidak boleh disuapi.  Baby Led Weaning berguna agar anak berlatih makan secara mandiri serta belajar mengunyah makanan.

Responsif feeding adalah cara memberikan makan kepada bayi, dimana ibu aktif mengajak bayi untuk makan dengan cara disuapi dan mengajak berbincang. Responsif feeding berguna untuk membangun kedekatan emosional antara ibu dan bayi. Pada proses pemberian makan dengan responsif feeding, ibu akan belajar tentang tanda lapar pada bayi yang menjadi patokan waktu pemberian makan.

Lalu,si K gimana, Dut? Aku memilih untuk menggabungkan keduanya daripada si K lemes nggak mau makan. Kurang siap mental jika harus seperti ibu-ibu yang telaten banget menunggu anaknya makan sendiri. Jadi, sembari disuapi, si K juga belajar untuk memegang makanan sendiri. Kadang kala tangan si K usil memegang sendok, emaknya ngalah saja membuarkan si K memegang sendok dan memasukkan bubur ke mulutnya sendiri meski baju, wajah dan tangannya menjadi antah berantah belepotan bubur. 

Yah, begitulah dunia emak-emak. Soal MPASi aja bisa pecah jadi berbagai mom war. Hahaha.Any  way, tadi di awal cerita tentang SMS Bunda yang ngingetin telah tiba masa MPASI si K, kan? Itu apaan, Ibu mertua yang sms, ya? Oh, itu sih program gratis dari Kemenkes RI yang bekerja sama dengan Jphiego untuk membantu ibu hamil memperoleh informasi selama kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

SMS BUNDA

Sms Bunda bertujuan untuk menekan angka kematian ibu hamil dan bayi dengan cara mengirimkan sms berisi informasi seputar kehamilan dan bayi sesuai dengan usia kehamilan atau usia bayi bunda. Seperti yang kualami tempo lalu, sembuh dari kegalauan soal MPASI karena layanan smsBunda yang menginformasikan bahwa telah tiba masa MPASI si K dan membuatku mencari informasi lebih lanjut tentang serba-serbi MPASI.

Bunda, Yanda, Kanda, Adinda *ehhh* ingin mendapatkan layanan yang sama denganku? Daftar saja. Gampang, kok. Nggak pakai ngurus borang blah blah blah, memangnya mau daftar apaan? :p

Cukup ketik SMSBunda kirim ke 081184694468 dan ikuti panduan sms berikutnya. Nanti akan ditanyakan kota tempat tinggal dan perkiraan lahir anak jika Bunda masih mengandung atau hari lahir anak jika anak Bunda sudah lahir dan berusia kurang dari dua tahun.

image source: Fanspage SMSBunda



 Yuk, ajak Bunda-bunda dan keluarga sekitarnya untuk bergabung layanan SMSBunda agar tidak lagi menjadi keluarga yang kekurangan informasi tentang kehamilan dan bayi. Jangan khawatir, layanan ini gratis, ya, dan bersumber langsung dari Kemenkes RI. Jika Bunda ingin menggali informasi lebih banyak tentang SMSBunda bisa kepo-in twitter @SMSBunda dan fanspage Facebook SMS Bunda. Yuk, ah, nggak usah nunggu lama, yak. :)

Kapan-kapan kita ngobrol lagi tentang serba-serbi anak dan aneka topik di blog ini *uhk, Dut!* si K sudah bangun, nih. :)
Read More..

Jumat, 19 Agustus 2016

Benarkah Si Kecil Terkena Sawan?

10
Si K tiba-tiba menolak untuk menyusu, padahal ekspresi wajahnya sangat kentara jika dia kelaparan. Tidak perlu menunggu lama, si K menangis histeris hingga tetangga datang dan bertanya, ada apa? Butuh waktu yang agak lama untuk mengalihkan perhatian si K dan membuatnya tenang.

Berbagai spekulasi berkelebat. Hari itu usia si K menginjak bulan keempat, jadwal si K imunisasi DPT dan BCG. Si K demam hingga 38 derajat celcius. Tetapi, kerewelan si K sangat lain dari biasanya. Bulan-bulan lalu selepas imunisasi, si K paling-paling minta digendong sembari menyusu terus-menerus. Ini kenapa tangisan si K histeris? Apakah imunisasi di bulan keempat sakitnya melebihi bulan-bulan sebelumnya?

Maghrib menjelang, tangis si K semakin histeris. Aku kewalahan untuk menenangkan. Ketika aku berniat memberi ASI, si K sontak menolak keras-keras. Memberontak disertai tangis yang lebih histeris. Aku pun menyusul Abah si K ke mushola, meminta beliau segera pulang.

Si K tenang saat bersama Abahnya. Kekhawatiranku semakin memuncak, jam 9 malam si K belum minum sama sekali. Aku pun berinisiatif untuk memerah ASI kemudian memberikan dengan pipet karena khawatir si K dehidrasi.

Dan, Gagal. 

Aku mulai panik. Mbah Buyut dan Bulik datang. Membantu menenangkan si K setelah Abah, Mamak-neneknya- dan Ibunya gagal menenangkan. Mamak pun mencari dino-bengle, umbi-umbian mirip jahe yang memiliki aroma khas. Bengle ini pernah dibalurkan di sekujur tubuhku karena aku mengalami gatal tanpa sebab saat si K berusia 4 bulan dalam kandungan, kata orang tua, indikasi terkena sawan.

Duh, Gustii. 

Bengle dibalurkan di ubun-ubun si K plus area PD. Aku manut saja. Sudah keburu stres dengan si  K yang ogah minum. Nggak mau nambah-nambahi stres karena bentrok dengan Ibu.

Well, gagal lagi. Si K tetap rewel. Aku pun membuka catatan penggalan surah yang dibaca ketika anak rewel dari ning Lubabah Aly berulang-ulang hingga akhirnya si K tertidur di gendongan karena kelelahan. Drama menolak ASI belum berakhir, esok harinya bulik-bulik menyuruhku untuk mengajak si K sowan yai.


"Khawatir diganggu. Kayak si x dulu, disuruh mbah dukun nunggang kuda, baru sembuh dia..." tutur beliau dalam bahasa jawa.

Aku mendadak merinding. Mengingat-ingat masa lalu yang sangat akrab dengan peristiwa makhluk astral, tetapi tidak sekalipun aku mengalami sendiri. Aku terkejut ketika rutinan ngaji malam ahad, teman di sebelahku mendadak histeris, "Mbak, ada mata merah melotot di depan!"

Yang hanya kusambut garukan kepala, "Nglindur kowe, Dek?"

"Widi, nggak dengar suara gamelan?" tanya teman seregu saat kemah. Aku menganggapnya bercanda, lha wong aku tunarungu parsial ngapain dia tanya suara gamelan cobak?

"Serius, Widi, kamu dengar nggak?"

Aku hanya geleng-geleng kepala membaca gerakan bibirnya dan menganggap angin lalu. Selang satu jam kemudian, selepas upacara apel malam, mendadak aku menerima kabar jika ketua regu kesurupan, disusul teman-teman lainnya. Suasana bumi perkemahan malam itu super hening. Hanya untuk ke kamar mandi pun aku tidak berani, Widi, kemaren aku melihat di kamar mandi... dan, aku pun ngompol. Sepanjang malam saat tidur di tenda, aku memeluk buku yasin sembari merapal segala yang kuhafal, berdoa kencang-kencang agar Robbuna mengetuk hati Bapak untuk menjemputku pulang saat itu juga. Errr. Beberapa hari selepas kemah, bisik-bisik terdengar, malam itu tidak ada satu pun orang yang berada di pendopo bumi perkemahan, lalu, siapa yang memainkan gamelan?

Kilasan peristiwa menyadarkanku, betapa keberadaan makhluk ghaib memang nyata adanya. Kerewelan si K dua hari yang lalu kembali memporak-porandakan perasaanku. Si K menolak menyusu nyaris sehari semalam, hingga terlihat kurang cairan, hanya buang air kecil sebanyak dua kali sehari. Jika dulu selepas imunisasi si K hanya minta digendong sampai jam dua belas malam, dua hari yang lalu, si K meminta gendong semalam suntuk dengan drama menolak nyusu yang lebih parah. Huhuhuhu.

Sawan-kah ini?

Saat syukuran ulang tahun ke tujuh belas, delapan tahun silam, salah seorang teman yang kuundang mendadak kesurupan. Menceracau jika perempatan jalan di depan rumah ada penguninya dan meminta sebuah botol untuk memasukkannya ke dalam. Lututku sontak lemas. Tetangga berdatangan, Ada apa?

Bapak menolak mentah-mentah, jangan ngelantur, biarkan saja, toh, puluhan tahun Bapak tinggal disini mereka tidak mengganggu.

Oh, please, kenapa momen ultahku saat itu sedemikian mengenaskan?

Beberapa waktu lalu, bu Nyai menegaskan kembali tentang 'penjaga-penjaga', salah satunya di perempatan depan rumah dan memberi wejangan agar aku tak perlu paranoid, makhluk ghaib memang nyata adanya, ngaji dan tenangkan batin, mereka nggak bakal ganggu...

Apakah...

Dengan memelas, aku meminta Abah K untuk mengambil dua tindakan sekaligus, ke Bidan dan sowan Yai. Titik. Tidak dapat ditawar lengkap dengan ekspresi lelah. Kontrol ke Bidan, si K hanya diperiksa panas dan mulutnya. Tidak sariawan, pun demamnya masih aman, tiga tujuh derajat celcius. 

"Bah, diganggu kali ini. Ayo dong, sowan yai." rengekku, setelah siang harinya gagal ke sowan yai karena beliau tidak ada.

Setelah berbincang mengenai gawean, Abah K menuturkan tentang si K yang rewel sehari semalam dan menolak untuk menyusu. "Niki lho, Pak. Kuatir men yen Kevin diganggu."

Yai mengamati si K, beliau tersenyum, "Coba, suapi sawo ini. Jika dia mau makan, berarti tidak apa-apa."

Aku pun mencoba menyuapi si K. Dan, yes, dia doyan makan. Emaknya lega dong... Yai dan Abah K senyum-senyum. Ehh, ini kenapa pada senyam-senyum? 

"Kalo diganggu itu, matanya menatap terus ke atas. Ngawang-awang.." dhawuh Yai. Aku ber-oh-oh saja. Yang penting si K mau makan sawo dan... menyusu kembali selepas ngenyot sawo. 

Lalu, apa hubungannya sawo dengan nge-tes sawan?
Setelah melalui peristiwa yang mendebarkan tersebut dan hatiku kembali riang gembira melihat si K kembali tersenyum riang, aku baru menyadari tentang sekelebat perkataan si Abah K, "Lha siapa yang nyuwuk sawo itu? Itu mah biar kamu tenang aja, Yi. Paling sawo dari belakang masjid."

*Kemudian ditertawakan orang sekampung*

***

Berbicara tentang makhluk astral memang harus diyakini tentang keberadaannya. Wong, dia toh, makhluknya Gusti Allah. Tetapi, ada baiknya buat Emak-emak membekali diri tentang gangguan ini dan cara mengatasinya. Aku mengumpulkan berbagai resep tentang seluk-beluk ini, eh, emang makanan. :p
Ingat, ya, jangan terburu-buru untuk menjudge anak terkena sawan atau tidak. Teliti dulu, apakah ia sedang dak enak badan, sariawan atau gerah dengan udara yang panas. Jika sedikit-dikit dijudge sawan, jika beneran kena sawan mah.. aduhhh,..

Jika si Kecil Diganggu

Setidaknya, ada dua tanda pokok jika anak diganggu, menangis terus menerus sejak maghrib dan matanya mengawang-awang. Jika sudah yakin ada indikasi diganggu, ada tips dari mbak Arinta Adiningtyas:

Baca Surat Yasin tiga kali, tiupkan ke segelas air yang sudah dilarutkan segenggam garam. Percikkan air ke seluruh sudut rumah, sisanya untuk mandi si kecil. Garam adalah partikel yang menarik energi negatif.

Tak jauh berbeda dengan mbak Rani R Tyas, beliau menberikan tips agar air garam dioleskan ke telapak kaki si kecil.

Mencegah si Kecil Diganggu

Kata orang, lebih baik mencegah daripada mengobati. Heuheuuu. Maka, daripada traumatis dengan kerewelan si Kecil, ada beberapa amalan yang bisa dipilih.

1. Biasakan berwudhu setiap masuk rumah. Paling tidak cuci muka dan cuci kaki agar energi negatif ikut larut dalam air. Jika orang tua disini, biasanya menyuruh kami terlebih dahulu ke dapur sebelum mengunjungi anak kecil.

2. Baca wirid setiap pagi dan sore. Ada banyak pilihan tentang amalan wirid ini. Alma'tsurat sebagaimana yang umum dibaca oleh teman-teman, atau doa ini yang kuperoleh dari ning Lubabah Aly.
U'idzuka bikalimatillahittammah min kulli syaithonin wa haammah wa ainin laammah dafa'tu ankassu' bi alfi alfi la haula wala quwwata illa billah (fallahu khoirun hafidzon wa huwa arhamurrohimin)

Doa tersebut dibaca setiap pagi dan sore, dengan cara menyentuh ubun-ubun anak ketika membaca dan meniupkannya ketika selesai.

Hmm, keberadaan anak memang mendidik ibunya untuk sebenar-benarnya pasrah kepada Robbuna.

Eh, jadi si K ini sakit, diganggu atau gimana, Dut? Eike lebih percaya yai jika si K tidak diganggu. Tetapi... sejujurnya cara di atas sudah kulakukan semua. Jadi embuh yang pas apa, Allahu A'lam. 😂

Kok nggak jadi horor? Heuheuuu. Cobak intip punya mbak Arinta disini dan mbak Rani disini. Bersiap-siaplah untuk merinding disko dengan pengalaman mereka. Eh eh, ada mami Susi Ernawati Susindra juga lhoooh, Blogger kece dari Jepara yang bersedia menjadi tamu kami kali ini. Welcome, Mom, ayo dibaca tulisan mam Susi disini.

Sekian, semua. Semoga bermanfaat. Titip kecup untuk putra-putri tersayang. Semoga selalu berada di Lindungan-Nya dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. 




Read More..

Selasa, 28 Juni 2016

Romantika tanpa Kata

Leave a Comment
Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga yang diadakan oleh Riawani Elyta.

Tapi aku belum bisa membaca bibirnya
Sms Asma membuat Zahra merinding. Ini kesekian kalinya Asma bercerita tentang seorang laki-laki. Zahra berfikir keras bagaimana caranya membalas sms Asma. Ia tahu, Asma begitu selektif memilih seorang laki-laki untuk menjadi pendamping hidupnya.
“Zahra, ada yang mau… emm… ngajak kenalan!” pipi dan hidung Asma memerah.
Zahra tertawa, meledek, “Cu-ma nga-jak ke-na-lan, ka-mu sam-pai ka-yak ke-pi-ting re-bus be-gi-tu?”
Asma cemberut setelah menerjemahkan bibir Zahra dengan susah payah, “Kamu sih, ngomongnya jangan sambil ketawa. Susah nangkepnya, nih.”
Zahra masih sibuk menghentikan tawanya, menarik nafas panjang, lantas menghembuskan pelan-pelan. Zahra mencolek jempol tangan kanannya ke bawah dagu secara berulang, matanya menggoda Asma. Mempraktikkan bahasa isyarat, Siapa… siapa?
“Emm, seseorang…” Asma menggaruk-garuk jilbab ungunya.
Zahra cemberut, menepuk paha Asma keras-keras.
“Aww! Sakit, Zahra!” teriak Asma, matanya melotot.
“Ja-ngan ke-la-ma-an mi-kir!” Zahra tak sabar.
“Sebentar, aku malu.” Asma menelan ludah, “Beliau sedang menghafal Qur’an sekarang. Masih kuliah. Aku sudah bilang apapun, termasuk soal telinga.”
Hening. Asma meremas-remas tangannya, “Tetapi, beliau tidak mundur kayak laki-laki lain, Zahra. Aduuuhhhhh. Padahal, aku sudah bercerita tentang apapun.”
Asma memejamkan mata. Menggigit bibir. “Tetapi, Zahra, aku belum tahu bagaimana perasaanku. Bisa kauceritakan bagaimana rasanya jatuh cinta itu?”
Zahra tertawa tergelak. Ya… ya…, Asma begitu polos!
“Tetapi, Zahra, aku masih ragu soal beliau menerima kenyataan tentang telingaku itu atau tidak.” Celetuk Asma.
Zahra terdiam.
“Trus, ka-mu ja-wab ba-ga-i-ma-na?”
“Aku bilang, beliau harus mencoba berbicara dulu sama aku. Kalau beliau sekiranya berat, aku mundur.” Suara Asma bergetar, “ini belum tentang keluarganya, tentang orang-orang di sekitarnya, apa bisa menerima orang yang tunarungu seperti ini, Ra?”
Zahra termenung mengingat pertemuannya dengan Asma dua hari yang lalu. Siang tadi Asma bertemu dengan lelaki itu, Kevin. Kevin Muzakka lengkapnya.
Kan belum terbiasa, Asma...
###
Nduk, meh ba-li?” tanya lelaki bersurban setelah mengibaskan tangan ke arah Asma, bertanya apakah Asma akan pulang. Asma yang tengah bersiap-siap untuk pulang mengangguk.
Inggih, Yai. Sampun dalu.”
Mengko sik, ora bali sik.” cegah lelaki yang menjadi guru Asma, Kiai Dahlan.
Asma kembali meletakkan tasnya di kursi rotan. Matanya kembali menatap yai. Menunggu yai bercerita. Tetapi hening, seolah-olah yai menunggu Asma untuk berbicara. Asma mengedikkan bahu ketika menoleh ke arah Haikal, sahabatnya yang mengajak sowan ke rumah Kiai Dahlan untuk berpamitan.
Yai, isharat istikarah niku nopo?” Asma menyeletuk, menghilangkan kegugupan yang menyerang lantaran hening yang menerpa ruangan itu.
Yai tersenyum. Matanya berbinar. Sesuatu yang telah dirasakan sejak Asma datang, kini mulai terkuak. Lelaki paruh baya itu memperbaiki duduknya. Pegal yang menyerang punggung dan kaki lantaran usianya yang telah menua mendadak tidak terasa.
“Hmm, istikarah?” Yai tersenyum, mengusap sorbannya ke muka. “Lha, so-po to, Nduk?”
Asma tersentak. Kenapa Yai bertanya seperti itu? Eh, sinten nopone, Yai?”
Kiai Dahlan tersenyum lebar. “Cerita, Nduk… Cerita.”
Asma gemetar. Telapak tangannya berkeringat. Udara Salatiga yang dingin mendadak terasa panas. Gerah. “Anu, Yai…”
Seorang lelaki yang baru ditemuinya dua hari lalu di UNS memintanya untuk segera istikarah. Lelaki yang sebelumnya sering mem-bully di facebook tetiba berniat untuk meminangnya setelah mengutarakan tiga syarat; tidak boleh jadi PNS, ikut kemanapun suami pergi, dan siap untuk hidup sederhana. Ia tidak mempermasalahkan tentang telinganya yang istimewa. Asma pun telah mengutarakan tentang mimpinya untuk emak, Mahkota untuk Emak; hafalan al-Qur’an. Lelaki itu menyanggupi akan mendukung Asma untuk melanjutkan mimpi-mimpinya.
Tapi, yai, Kulo ajrih. Kulo dereng saget maos gerakan mulutnya.” Ujar Asma.
“Coba nggih, nanti sampeyan istikarah. Saiki tak bantu istikarah sik. Lewat Qur’an.”
Asma terdiam seketika. Sebegitu cepatnya kah, Yai?
Kiai Dahlan merapal doa, menyebut nama orang yang berniat meminang Asma; Kevin Muzakka. Dengan gerakan yang lembut, beliau mengusap al-Qur’an. “Siap, Nduk?”
Asma hanya terdiam, menanti yai Dahlan melanjutkan petuahnya. “Sekarang, apapun yang ditunjukkan, kamu harus siap. Jika lebih banyak Kho, Khoir, berarti bagus. Jika banyak Syin, Syu’u, artinya kurang bagus, dan lebih baik kamu mundur.”
Asma menarik nafas berat. Keringat bercucuran, padahal udara di Kaki Merbabu sangat dingin.
Kiai Dahlan mengangsurkan al-Qur’annya kepada Asma, “Buka, Nduk. Dibuka.”
“Sembarang, Yai?”
“Inggih, embarang. Langsung buka saja.” Tegas Kiai Dahlan.
Asma membuka dengan tangan yang gemetar, al Qur’an di tangannya serasa sangat berat. Sekelebatan ia memberikan kembali kepada yai Dahlan. Yai meneliti setiap huruf di halaman yang dibuka Asma.
“Mboten nderek?” gurau Kiai Dahlan ketika melihat Asma menunduk. Asma menggeleng, disambut cekikikan Kiai Dahlan dan Haikal.
“Berarti piro iki mau, Kal?”
###
Ibu masih keberatan soal itu, Kak.
Asma bergetar ketika membaca sms. Aku siap mundur, apapun, pokoknya ibu dulu.Asma mengetik balasan dengan mata berkaca-kaca. Aku tak akan maju jika ibu tidak merestui.
“Ibunya keberatan, Bu’e. Asma nggak mau maju jika ibunya tidak merestui.” Asma menceritakan semuanya kepada Ibu. Termasuk isi pesan-pesan Kevin, “Asma mau mundur, Bu. Ibu jangan kaget nanti, ya.”
Perempuan yang dipanggil ibu itu hanya terdiam, matanya yang teduh menelisik raut wajah Asma. Tangannya yang mulai keriput membelai-beelai kepala Asma. Mulutnya terlihat komat-kamit, meelangitkan doa untuk anak bungsunya.
“Ditunggu kabar selanjutnya saja, Nduk.” Ibu tersenyum, “Jodoh sampun ditulis dening Gusti.”
Asma mengangguk, mempersiapkan diri untuk kembali membersamai adik-adik. Lima bocah terlihat berlarian di halaman rumah. Saling berlari mendahului untuk mendekati Asma.
“Mbak, Za-ki na-ngis!” seru Ahza.
###
“Ah, iya?” Asma tersenyum lebar, menaikkan alis sebagai isyarat meminta kepastian.
Haikal, lelaki berbaju hijau itu mengangguk sembari tersenyum.
Asma menempelkan jempol pada tengah jari kanan, membentuk isyarat abjad K. Lalu menggeser kanan-kiri di depan, bertanya, “Ka-pan?”
Haikal menggerakkan jentiknya dari atas ke bawah dengan gerakan melengkung, mengisyaratkan huruf J, “Ju-ni.”
“Aaaah, A-Syiiiikk.” Asma bertepuk tangan. Haikal tertawa. Asma menjentikkan jari jentiknya ke telinga, “tu-li?”
Haikal mengangguk, mengulang kembali kata-kata Asma tanpa suara, “tu-li.”
Asma tersenyum lebar.
Mengalirlah cerita diantara mereka dengan bahasa isyarat. Banyak orang bergerombol di bawah pohon sepanjang selasar Kartini. Spanduk MMT terbentang lebar, mengajak sesiapa untuk belajar bahassa isyarat bersama. Terlihat beberappa orang tertawa, saling bercanda tanpa suara. Hanya gerakan mulut dan tangan yang bergerak linncah, serta ekspressi muka yang sangat kentara. Rutinitas setiap Minggu pagi yang dijalani Asma selama dua bulan terakhir ini, bergabung bersama Komunitas Tuli Salatiga.
Jari telunjuk Asma bergoyang di depan, mulutnya memperagakan, mana? Dengan senyum lebarnya.
Haikal tertawa. Jarinya lincah menggerakkan abjad isyarat. Asma memusatkan focus matanya ke jari-jari Haikal.
“Pur-wo-ker-to?” Asma mengeja dengan gerakan bibir yang sangat lebar dan jelass. Haikal mengangguk. Mengangkat jempolnya di hadapan Asma dengan tertawa.
Lincah, Haikal mengarahkan telapak tangannya ke Asma, lantas menautkan jempol dengan jari tengahnya, kamu kapan?
Asma tertawa, mengedikkan bahu, entahlah.
Haikal tertawa. Ia menyenggol bahu Adi, lincah memainkan jari seraya menunjuk-nunjuk Asma. Asma main rahasiaan. Haikal, rekan Asma yang juga mengalami tuna rungu akan menikah dengan perempuan asal Purwokerto, perempuan tuna rungu juga. Tiga bulan lagi. Asma melangitkan doa-doa untuk mereka, doa yang tak ia ucapkan langsung kepada Haikal, karena ia belum mampu mengekspreesikannya dengan iyarat. Perbendaharaan isyarat Asma masih sangat terbatas, hari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama masyarakat umum. Asma lebih mahir berbahasa oral daripada berbahasa isyaarat.
###
“Dia belum mempunyai pekerjaan tetap?”
Asma mendesah. Menarik nafas dalam-ddalam. Pertanyaan ini membuat pikirannya semakin kalut, berat. Ia menggeleng pelan. Tangannya sibuk mengaduk segelas teh hangat yang tersaji di depannya.
“Jangan dulu, Ma.”
Empat pasang mata di meja itu tertuju pada Asma. Asma menunduk, belum siap membaca tanggapan orang-orang di sekelilingnya.
“Apa pantas alasan seperti itu digunakan untuk menolak pinangan orang?” Asma memberanikan diri menatap sahabatnya satu persatu.”Kalian tahu, aku seperti ini. Bahkan sahabat terdekatku pun belum tentu mau mengambil langkah berani seperti beliau, kan?”
Mereka terdiam. Mata Asma berkacaa-kaca, “Kalian sudah mengenalku berapa tahun? Kalian tahu siapa ssaja yang dekat denganku. Kalian tahu beraapa orang yang munddur ketika tahu keistimewaanku. Tetapi, tidak ada satu pun yang berani meminangku, dengan konsekuensi seperti ini, konsekuensi memiliki isstri yang cacat!”
Asma mencecap the dengan sendok. Memandang sekeliling. Hening mencekap. Lima anak manusia di meja itu tenggelam dengan sate Madura di depannya. Asma menggigit ujung sedotannya ketika teh mulai mendingin, “Dhawuh yai, seribu satu laki-laki yang bias menerima perempuan cacat.”
“Tapi, setidaknya kamu harus lulus kuliah dulu, Asma.”
“Kalian bias menjamin aku dapat gantinya nggak?” celetuk Asma.
“Mana bias menjamin ganti jodoh, Ma?” Aab tergelak, “Emang kita Tuhan apa?”
 Celetukan Asma mencairkan suasana. Kelima anak manusia itu pun tenggelam dengan berbagai cerita.
###
Juni 2014, Asma menikah dengan Kevin setelah melalui perjalanan panjang. Meminta doa restu kepada orang-orang. Emak, ibu Kevin yang perempuan kampung nan bersahaja, pada akhirnya mengijinkan mereka untuk menikah dengan melangitkan doa-doa agar Robbuna Memudahkan urusan keduanya.
Dua tahun pernikahan mereka, romantisme tidak tercermin dalam kata-kata verbal seperti laiknya drama-drama korea. Romantisme rumah tangga mereka barangkali terucap dalam doa yang dilantunkan pada malam-malam yang panjang.
Kevin yang terus melatih Asma untuk melafadzkan huruf-huruf hijaiyah dengan benar, menyimak bacaan al-Qur’an Asma yang masih belepotan. Kevin yang membangunkan Asma ketika anak mereka yang masih terhitung bulan menangis malam-malam, sementara Asma masih terlelap dalam tidurnya tanpa terganggu dengan suara. Kevin yang dengan setia menerjemahkan pertanyaan orang-orang di sekitar ketika Asma tidak faham. Kevin yang menggantikan tugas Asma mengajarkan lafadz-lafadz Qur’an dan sholawat kepada anak semata wayang mereka... dan aneka tugas lain, ia melakukan tanpa banyak kata. Romantika tanpa Kata.


Dedicated to my Beloved Hubby.
Ini kado kecil untuk ulang tahun pernikahan kita yang kedua,

Terimakasih telah membersamaiku. Terimakasih, sebab kau tak menjadikan keistimewaanku sebagai halangan untuk mencintaiku.. Love You.
Read More..