Posts

Showing posts with the label Diari Kita

Pensiun yang Tertunda dan Murid Berkebutuhan Khusus

Image
Aku adalah murid yang paling dekil dan bodoh saat kelas 3 SD. Nilai Matematika dua koma, jangan tanya bagaimana dengan pelajaran yang lain, mirip-mirip kursi terbalik. Kala itu, pengaturan tempat duduk berdasarkan nomor absen. Sebagai pemilik absen paling buntut, aku duduk di bangku paling pojok belakang.
Pojok belakang terjauh dari meja guru. Bangku pojok belakang adalah neraka bagi seorang Hard of Hearing sepertiku. Hari-hariku di sekolah cuma bingung, nyaris setiap menit aku mengusik teman sebangku, "Pak Guru nyuruh apa, sih?"
Jangan tanya apakah aku bisa menyimak pelajaran. Boro-boro nyimak, 'baca' mulutnya pak Guru saja aku enggak bisa. Bisa dibilang kala itu aku cuma setor muka. Aku tidak tahu, apakah pak Guru sama sekali tidak tahu tentang telingaku yang istimewa, ataukah sebenarnya tahu tetapi tidak peduli.
Lagipula, itu sudah berlalu. Aku tidak akan bercerita tentang pak Guru di kelas tiga, sebab itu hanya membuatku menuang air garam ke dalam luka yang suda…

Mencuci Sayur dengan Cinta

Image
"Jadi, Nduk... Setelah dibersihkan, sayurnya digebyur dari atas. Untuk menghilangkan najis."  Dhawuh yai Nasrudin, tiga tahun yang lalu. Saat aku belum menikah, boro-boro nikah, kenal abah K saja belum. Aku tercengang. Weleh... mencuci sayur saja ada aturannya, gumamku. Itu baru satu diantara sekian petuah yai Nasrudin tentang pernikahan  yang beliau sarikan dari kitab Maratus-Shoolikhah. Astagah, nikah ternyata butuh banyak persiapan. 
Dan, dua tahun ini aku merasakan, betapa ilmu tentang pernikahan dan segala tetek bengeknya harus dipelajari benar-benar. Yai Nasrudin dulu sudah dhawuh, ujian sesungguhnya adalah ketika aku sudah menikah, bukan ketika aku lancar menjawab pertanyaan yai Nasrudin tentang materi yang telah beliau sampaikan. Asli, ujian ini nggak bisa nyontek sama sekali. Langsung berhadapan dengan segala permasalahan yang ada.
Kapokmu kapan, Dut?
Satu pasal yang beliau sampaikan adalah tentang mempersiapkan sayur-mayur, lauk, beras dlsb sebelum dimasak. Tak …

Full Day School di Mata Alifia Seftin Oktriwina, (Calon) Psikolog dari Padang

Image

SMSBunda dan Serba-Serbi MPASI

Image
Saat si K memasuki usia empat bulan dua puluh hari, aku mulai berburu informasi tentang MPASI. Berbagai jurnal kulahap. Berbagai sumber kujadikan referensi. Hasilnya? Sungguh membingungkan. Ini tidak sesimpel yang kubayangkan. Berbagai silang pendapat kutemukan. Jangankan di kalangan ibu-ibu, di kalangan ahli kesehatan pun kentara sekali pro dan kontranya. Nambah lagi mom war-nya; MPASI dini vs MPASI 6 bulan, MPASI home made vs MPASI pabrikan, eehhh,ternyata masih nambah Baby Lead Weaning atau MPASI pure yang disuap.

Nyut-nyutan? Tunggu, aku bakal berbagi informasi yang kukumpulkan dari berbagai pro kontra tersebut. Keputusan diambil oleh Ibu sendiri. Yep, Ibu lah yang lebih paham dengan keadaan baby. Bukan tetangga, bukan tukang bully di berbagai medsos, apalagi mantan. Wkakaka. Mantan lagi... Kapan Waktu Terbaik untuk Memulai MPASI? Aku dulu berprinsip si K harus diberi MPASI setelah usianya pas 6 bulan. Eh, lha kok waktu usianya baru menginjak 22 minggu, neneknya menyuapi si K denga…

Benarkah Si Kecil Terkena Sawan?

Si K tiba-tiba menolak untuk menyusu, padahal ekspresi wajahnya sangat kentara jika dia kelaparan. Tidak perlu menunggu lama, si K menangis histeris hingga tetangga datang dan bertanya, ada apa? Butuh waktu yang agak lama untuk mengalihkan perhatian si K dan membuatnya tenang.
Berbagai spekulasi berkelebat. Hari itu usia si K menginjak bulan keempat, jadwal si K imunisasi DPT dan BCG. Si K demam hingga 38 derajat celcius. Tetapi, kerewelan si K sangat lain dari biasanya. Bulan-bulan lalu selepas imunisasi, si K paling-paling minta digendong sembari menyusu terus-menerus. Ini kenapa tangisan si K histeris? Apakah imunisasi di bulan keempat sakitnya melebihi bulan-bulan sebelumnya?
Maghrib menjelang, tangis si K semakin histeris. Aku kewalahan untuk menenangkan. Ketika aku berniat memberi ASI, si K sontak menolak keras-keras. Memberontak disertai tangis yang lebih histeris. Aku pun menyusul Abah si K ke mushola, meminta beliau segera pulang.
Si K tenang saat bersama Abahnya. Kekhawatir…

Romantika tanpa Kata

Image
Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga yang diadakan oleh Riawani Elyta.
Tapi aku belum bisa membaca bibirnya Sms Asma membuat Zahra merinding. Ini kesekian kalinya Asma bercerita tentang seorang laki-laki. Zahra berfikir keras bagaimana caranya membalas sms Asma. Ia tahu, Asma begitu selektif memilih seorang laki-laki untuk menjadi pendamping hidupnya. “Zahra, ada yang mau… emm… ngajak kenalan!” pipi dan hidung Asma memerah. Zahra tertawa, meledek, “Cu-ma nga-jak ke-na-lan, ka-mu sam-pai ka-yak ke-pi-ting re-bus be-gi-tu?” Asma cemberut setelah menerjemahkan bibir Zahra dengan susah payah, “Kamu sih, ngomongnya jangan sambil ketawa. Susah nangkepnya, nih.” Zahra masih sibuk menghentikan tawanya, menarik nafas panjang, lantas menghembuskan pelan-pelan. Zahra mencolek jempol tangan kanannya ke bawah dagu secara berulang, matanya menggoda Asma. Mempraktikkan bahasa isyarat, Siapa… siapa? “Emm, seseorang…” Asma menggaruk-garuk jilbab ungunya…