Tampilkan postingan dengan label Curhatku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhatku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2018

Google Ibarat Sel Kanker Dalam Hidupku

Leave a Comment
Dulu, dulu... banget, aku mengenal Google hanya melalui layanan pencariannya yang kemudian membawaku untuk mengenal layanan emailnya. Setelah berkenalan beberapa saat kemudian berlanjut ke perkenalan pada layanan blogging. Tepatnya tanggal 4 April 2010 aku membuat blog ini. Hari ini, setelah bertahun-tahun menggunakan layanan Google dari yang gratis sampai yang berbayar membuatku menyadari bahwa layanan itu ibarat sel kanker yang menyerang hidupku. Bagaimana tidak? Selama bertahun-tahun, aku tidak menyadari kalau Google mengambil data perilaku penggunaan layanan untuk mengembangbiakkan layanan yang lain. Hingga detik ini, lebih dari 30 layanan Google kugunakan dan semuanya itu menyebar hampir ke seluruh lini kehidupanku.
Menikmati Parangtritis Pada Sore Hari
Pagi hari,  ketika bangun tidur, Gmail adalah salah satu layanan yang sering kugunakan pertama kali. Mengecek apakah ada email baru adalah kegiatan yang hampir rutin kulakukan. Setelah agak siang dan siap melakukan produksi maka blogging akan menjadi alat untuk pemanasan yang bagus untuk memulai segala aktifitas. Pola seperti itu berlangsung cukup lama sebelum sel kanker itu berkembang biak lebih lanjut diawali dengan diluncurkannya platform Android oleh Google.

Setelah menjadi developer Android beberapa saat, aku mengetahui betapa banyaknya layanan Google yang ada. Dari 30 layanan yang telah aku gunakan ternyata itu belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang ditawarkan. Aku akan mencoba menuliskan daftar layanan Google yang kugunakan:
  1. Pencarian Google > pencarian data dan informasi
  2. Gmail > layanan pesan elektronik
  3. Blogger > layanan blog
  4. Contact > penyimpanan kontak seperti nomor telpon, alamat email, dll.
  5. Analytic > menganalisa kunjungan blog dan perilaku pengunjungnya
  6. AMP > mempercepat loading blog
  7. Search Console > optimasi blog agar memiliki peringkat baik di mesin pencari Google 
  8. Google Earth > aplikasi globe digital
  9. Google Maps > peta digital yang diintegrasi dengan citra satelit
  10. Google site > mirip dengan blogger tapi lebih simpel
  11. Google Cloud Storage > Penyimpanan data 
  12. Virtual Machine > layanan vps berbasis cloud
  13. Youtube > layanan beragi dan menonton video
  14. Firebase > paket layanan firebase yang kugunakan sangat banyak seperti realtime database, cloud storage, cloud functions, messaging, authentication, crashlytic, analityc, ads, dan lain sebagainya
  15. Google plus > sosial media
  16. Google Photos > Penyimpanan video dan foto
  17. Drive > Penyimpanan file
  18. Translate > Layanan terjemahan
  19. Hangout > pertukaran pesan, video call, meeting, dll
  20. Bussiness > mengelola bisnis lokal agar tersedia di google maps
  21. Chrome > browser
  22. Android > Operasi sistem
  23. Play Store > toko aplikasi android
  24. Play Store Developer > Akun untuk menjadi developer android dan memasarkannya di google play
  25. Doc > membuat dokumen atau sekedar catatan ringan
  26. Slides > mempuat presentasi
  27. Sheet > membuat laporan keuangan
  28. AdSense > menambah pendapatan dari blog dan youtube
  29. Admob > menambah pendapatan dari aplikasi android
  30. Google for Education > layanan penunjang pendidikan
  31. Gboard > keyboard untuk ponsel android
  32. Google group > diskusi permasalahan google
  33. Streetview > melihat tempat yang ingin kukunjungi secara 3D
  34. Google Form > membuat atau mengisi formulir
  35. Scholar > mencari dan menyimpan referensi ilmiah (tapi ini sudah lama tidak aku gunakan lagi)
Cepatnya peningkatan jumlah penggunaan layanan Google itu ibarat cepatnya kembangbiak sel kanker. Setiap lini kehidupan berusaha dijangkau olehnya dengan cepat dan tepat sehingga aku tidak bisa lagi menoleh ke layanan lain.

Untuk mengangkat semua sel Google dari kehidupanku, membutuhkan perjuangan yang sangat berliku tentunya. Resiko pekerjaan dan jalinan sosial akan berdampak sekali. Untuk itu, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah meninggalkannya satu per satu.
Read More..

Senin, 03 September 2018

Yang Dihilangkan Itu Gengsi, Bukan Rasa Malu

Leave a Comment
Suatu ketika, aku pernah janjian ketemu dengan seseorang. Itu adalah kali pertamanya rencana kami bertemu. Aku belum tahu bagaimana orangnya dan seperti apa perangainya. Hanya saja, aku yakin kalau dia adalah orang yang baik. Setelah bersepakat bertemu di suatu tempat, aku pun berangkat ke sana sesuai waktu yang ditentukan. Seperti biasanya, untuk membunuh rasa bosan itu, aku selalu mencari warung kopi. Ketemulah warung kopi di seberang jalan dan langsung kuhampiri warung tersebut kemudian memesan minuman dingin yang tidak ada bahan kopinya sama sekali. Ya! warung kopi hanyalah jadi tempat pelarian untuk beragam masalah meskipun sebetulnya bukanlah kopi tujuannya ke situ. Sungguh malang nasibnya kopi kalau ketemu orang seperti diriku. hik..hik..

Hampir satu jam aku menunggu orang yang berjanji akan bertemu denganku di sekitar tempat itu. Rasanya batas kekuatan warung kopi untuk menahan rasa jenuh sudah habis. Aku pun membidikkan kamera ponselku ke beberapa spot paling bagus di sekitar tempat itu untuk membunuh kebosanan yang melakukan reinkarnasi. Beberapa menit kemudian orang yang aku tunggu datang menghampiriku. Ia datang bersama anak dan istrinya saat itu. Setelah basa-basi, dia dengan nada bercanda bilang "Ayo pindah ke tempat yang lebih memanusiakan manusia". Aku dengan sedikit terkejut mengiyakan ajakannya. Setelah membayar, aku pun menghampirinya.
Foto ini diambil saat numpang ngeces HP di sebuah warung dekat alun-alun utara Yogyakarta. Hanya sebagai ilustrasi belaka.
Mengenai urusan tempat nongkrong, aku jarang sekali mempermasalahkannya. Mengajak Widut dan si K di warung-warung pinggir jalan yang tampak kumuh pun biasa. Kalaupun ternyata akibat kekumuhan itu kemudian menghilangkan selera makan ya tidak jadi kumakan. Yang penting pikirku adalah niat infak terpenuhi. Melakukan akad bai' itu adalah bagian dari infak makanya aku tidak pernah mempermasalahkan harga entah itu terlalu murah atau terlalu mahal. Menawar pun terkadang hanya kujadikan formalitas belaka. Bukan karena aku merasa kaya, bukan! Ini lebih ke urusan melatih hati untuk bisa menerima qodlo' dan qodar dari Allah. "Semua itu hanya titipan", pikirku. Kalau semua itu titipan dari Allah kemudian dibelanjakan sesuai jalan yang dibolehkan-Nya kan tidak masalah. Boros? Ah tidak juga bagiku. Boros itu kan kalau belanja melebihi kapasitas. Misalnya aku cuma punya uang Rp 5.000 kemudian masuk ke Cafe kelas elit dan pesan masakan paling favorit di sana. Kalau aku bawa uang Rp.50.000 kemudian mampir di warung pinggir jalan hanya habis Rp. 20.000 kan tidak boros meskipun ujung-ujungnya tidak jadi kumakan apa yang kubeli. 

"Apa salahnya sih menjawab tidak bisa atau tidak tahu?", kalimat itu yang sering aku tekankan pada diri sendiri. Selain dari kelas tempat nongkrong, gengsi juga terkadang muncul agar tidak terlihat bodoh sehingga berusaha menjawab atau mengomentari semua hal yang ditanyakan atau dijumpai pada timeline Facebook. Tulisanku yang berjudul Jadi Programmer Itu Berat, Biar Aku Saja sedikit menguraikan sisi kehidupanku yang sering dianggap serba tahu pada hal-hal yang sebetulnya aku tidak tahu. Disamping urusan itu, aku juga sering kali dianggap lebih tahu mengenai urusan agama. Aku berusaha realistis dan menyampaikan apa adanya. Kalau memang tidak tahu ya kukatakan tidak tahu kalau tahu ya kusampaikan sesuai apa yang aku pahami meskipun terasa menyakitkan. Maka dari itu, ada sebagian yang mengatakan kalau aku terlalu jujur. Tampaknya memang aku butuh kelas privat untuk berbohong atau berdiplomasi, sih. Buktinya dari 15 anak yang nyanggar di sini sekarang tinggal 2 saja. Lainnya sudah pada hijrah ke jalan yang benar.
Sumber: Giphy
Aku sering merasa senang dihadapkan dengan beragam masalah. Salah satu contoh ketika aku memiliki konflik dengan seseorang kemudian membuatku merasa lebih benar dari dia maka hal itu membuatku senang. Ya! aku merasa memiliki kesempatan untuk mengukur seberapa tingkat kemampuanku dalam hal menundukkan gengsi. Kalau aku merasa benar kemudian sampai mengacuhkan orang tersebut bearti aku gagal akan tetapi kalau aku masih bisa ta'dzim apalagi sampai kuat ngalap berkah darinya maka aku berhasil. Jadi kesombongan yang ada itu bisa dikonversi menjadi alat yang sangat berharga nilainya bagiku.

Menghadapi orang-orang yang menentang apa yang kulakukan disini, misalnya tentang Sanggar Pelangi, tentang keputusanku pindah ke masjid, dan lain sebagainya yang kemudian memunculkan anggapan yang bukan-bukan, hal itu memang sangat menyenangkan bagiku. Banyak hal yang bisa kupelajari dari situ. Aku merasa memiliki banyak bahan untuk belajar menata hati dan pikiran. Belajar menghilangkan gengsi. Aku tidak malu untuk mengakui kalau aku kalah alim, kalah pintar, kalah kuasa, dan lain sebagainya. Paling tidak, aku tahu bagian diriku yang mana yang perlu diperbaiki. Kalau aku masih gengsi dan merasa berhak dan layak untuk dianggap ada dan berarti bagi masyarakat bearti itu tandanya aku gagal. Sudah sepantasnya seorang khodim yang sedang berhidmah tidak dihargai, bukan? Diabaikan adalah hal yang biasa. Banyak yang malu bertemu dan akrab denganku adalah hal yang wajar. Sekali lagi, di sini, aku niat untuk berkhidmah bukan berjuang. Jadi kalau aku diperlakukan layaknya gembel adalah hal yang normal belaka. Camkan itu, Dut.
Sumber: Giphy

Read More..

Jumat, 31 Agustus 2018

Dekat Tapi Terasa Berjauhan, Kok Bisa?

Leave a Comment
Aku seringkali merasa heran dengan perilaku wanita, terutama istriku sendiri. Setiap hari, aku bekerja di rumah dan selalu bertemu dengannya. Ketika ada waktu luang, aku sering mengajaknya keluar (jalan-jalan) meskipun hanya ke taman kota yang tak perlu mengeluarkan uang untuk jajan. Intinya, quality time itu selalu tersedia untuknya meskipun ya sekenanya saja. Tapi kok tetap saja ia sambat kalau sering merasa kangen padaku. Ciyee... ciyeee..
Dokumentasi jalan-jalan di sekitar Tuntang, kabupaten Semarang
Malam hari, usai sholat isya, ritual sambat kangen itu sering dilakukannya. Padahal! Seharian itu, aku juga selalu di rumah dan berkali-kali bertemu dengannya. Tidak hanya bertemu melainkan juga mengobrol ringan atau main-main dengan si K bareng meskipun sebentar. Tapi kok tetap saja ia bilang kangen padaku. Sebetulnya isyarat apa to itu? Aku pun jadi bertanya-tanya sebetulnya sebanyak apa sih perhatian yang dibutuhkan wanita? Lha wong aku yang setiap hari di rumah saja membuatnya seperti itu lalu bagaimana dengan wanita yang ditinggal kerja suaminya di luar rumah atau bahkan sampai LDR-an sampai berbulan-bulan baru bisa ketemu? Sedalam apa perasaan kangennya itu?

Perilaku itu, sambat kangen itu, sebetulnya sering membuatku jengkel. Bagaimana tidak jengkel jika sedang dikejar deadline malah ia sambat kangen dan tidak mau ditinggal meskipun hanya di kamar sebelah saja. Aku merasa kok doi seperti kurang syukur saja. Dibandingkan dengan teman-teman yang sering berinteraksi di dunia nyata maupun dunia maya, sebetulnya kehidupan kami jelas terasa sangat ideal dan dan diidamkan banyak orang. Siapa sih yang gak suka kerja hanya duduk-duduk di rumah saja? Siapa sih yang gak pengen bisa libur kerja kapan saja? Siapa sih yang tidak ingin bisa jalan-jalan malah mendapat bayaran? Siapa sih yang tidak ingin foto selfie saja dibayar? Update status Facebook, Instagram, Twitter, nulis di blog dibayar? Siapa yang tidak ingin itu semua? Kehidupan kami seperti itu.
sumber: giphy
Tapi bagaimana pun, meskipun jengkel, aku tidak pernah mengabaikan hal itu. Aku tetap memikirkan kok bisa fenomena seperti itu muncul. Aku pun kemudian membuka arsip-arsip pengetahuanku mengenai psikologi wanita yang dulu pernah kupelajari secara serius. Hasilnya membuatku dapat menyimpulkan bahwa pertemuan demi pertemuan yang terjadi setiap hari itu bukanlah pertemuan yang heart to heart. Hanya pertemuan formil saja seperti bertemunya rekan kerja yang satu dengan rekan kerja lainnya. Ketika bertemu ya bertanya sekadarnya atau ngobrol sekadarnya saja. membahas apa saja yang terlintas di kepala bukan apa yang dirasa dalam hati. Mungkin itulah penyebabnya meskipun setiap hari bertemu denganku tetapi ia masih merasa kesepian.

Aku mencoba melakukan kilas balik ke beberapa kejadian demi kejadian lampau yang bagiku sudah bisa menjadi pengerat hubungan dan penawar rindu seperti mengajaknya jalan-jalan atau sekedar makan di warung lesehan pinggir jalan. Kenapa hal itu tidak cukup baginya sebagaimana aku merasa cukup? Dari sini aku menarik kesimpulan seperti ini: Mungkin meskipun kita saat itu memang mengususkan waktu untuk jalan bareng akan tetapi kami memiliki urusan masing-masing dan fokus ke urusan masing-masing. Tanya jawab ya seputar urusan masing-masing dan karir masing-masing. Jarang sekali kok membahas menggunakan kata ganti kita tapi lebih cenderung ke kata ganti aku. Intinya saat itu adalah kita masih berupa dua entitas yang berbeda. Belum bisa membaur satu sama lain. kalaupun menggunakan kata ganti kami, itu pun demi ambisi masing-masing dan tidak ada kaitannya dengan perasaan antara satu dengan yang lain. Misalnya ambisi membangun A, B, C dan seterusnya.
sumber: giphy
Perenungan lebih dalam membawaku berpikir bahwa ternyata frekuensi pertemuan itu tidak menjamin suatu hubungan yang harmonis. Komunikasi yang intensif juga tidak menjamin kebutuhan batin terpenuhi. Perlu adanya saling memahami kebutuhan masing-masing. Resep dan dosis yang diberikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan itu.

Jujur saja, aku belum bisa memetakan apa yang seharusnya dilakukan. Untuk itu lah aku menulis karena melalui tulisanlah komunikasi efektif bisa kami lakukan. Penyampaian ide, perasaan, dan beragam kebutuhan lainnya sangat efektif disampaikan melalui tulisan. Kecuali pembahasan urusan ranjang, saling sentil dan marah lewat tulisan terasa sangat menyenangkan. Apa karena kami terbiasa berkomunikasi lewat tulisan sehingga meskipun dekat terasa seperti berjauhan? Allahu a'lam.
Read More..

Jadi Programmer Itu Berat, Biar Aku Saja

Leave a Comment
Pernahkah kamu dimintai tolong untuk membetulkan handphone yang rusak? tv rusak? monitor rusak? mobil remot mainan rusak? printer rusak? Aku pernah. Seakan-akan, seorang programmer itu dianggap bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang ada kaitannya dengan elektronik. Bahkan sampai istri yang rusak saja pernah diminta untuk betulin. Sumprit. Apakah semuanya berhasil dibetulin? Ya jangan tanya kalau masalah itu. Sebagian sih bisa tapi sebagian yang lainnya bisa dengan syarat ditukar dengan yang baru. Uhuk. Uhuk.
sumber: gipy
Suatu hari, ada yang datang bilang gini "tolong buatin ini, ya. gampang banget kok. Cuma gini, gini, dan gini". Aku mbatin "gampang sih kalo ngomong doang". Aku hampir keceplosan bilang gini "lha kalo gampang silakan bikin sendiri nanti tak bayar dua kali lipat dari harga yang kamu tawarkan". tetapi urung karena memang kan aku orang baik. Ahaay. Siapa kita....? Yak. Tul. Orang baik.

Di lain kesempatan, ada juga yang menganggap kalo kerjaannya programmer itu enak. Tinggal duduk sambil mencet-mencet tombol laptop sesekali menyeruput kopi dan mengepulkan asap rokok. Tampaknya begitu nikmat. "Pekerjaanmu enak, ya. Cuma duduk-duduk doang transferan lancar". Jika ada yang memiliki anggapan seperti itu, biasanya aku langsung menyahut begini "Iya. Enak banget. Aku butuh teman untuk bantu aku menyelesaikan pekerjaan, lho. Mau ikut kerja kayak gini?". Mendengar tawaran seperti itu, umumnya mereka pada mau. Akan tetapi berubah 180o Ketika sudah dijelaskan apa saja yang dibutuhkan dan cara kerjanya bagaimana. "Mumet ora, son?", batinku ketika melihat ekspresinya yang tiba-tiba berubah. Eh lha dalah... ternyata setelah mau pamit aku baru tahu kalau mujinya itu karena mau minjem uang. Modyarr.

Di sisi yang lain, ada juga yang menganggap kalau programmer itu layaknya pengangguran. Lha iya to masak saat umumnya manusia berangkat kerja kok ini malah nyari kehangatan di balik selimut atau dekapan sang istri. Ehem. Terus istri dan anaknya mau dikasih makan batu gitu? Kerja, dong, euy. Kerjaannya kok cuma makan, tidur, dan kelon mulu. Dikira ini bumi milik simbahnya apa? Orang model kayak gitu, biasanya, dikasih rokok sebatang sudah mingkem apalagi ditraktir ngopi. Wah sudah langsung seperti khodimul khos. Kalau dari kalangan ibu-ibu ya cukup dikirimi telor sekilo sudah cukup. Gak usah diambil hati, lah. Cukuplah sakit hati itu sama mantan yang meninggalkamu saat lagi sayang-sayangnya. Ehehehe... ehehehe... ehehehe
sumber: giphy
Tapi memang, jadi programmer itu sering kali memiliki banyak waktu luang untuk keluarga. Apalagi jika kita tidak terlalu tamak untuk menerima semua job yang masuk. Waktu untuk keluarga akan sangat berlimpah. Apalagi (lagi) kalau ditambah dengan bonus liburan dalam rangka rembukan membahas rancangan program yang mau dibuat. Sudah dapat liburan gratis, dapat uang, dapat proyek lagi. Sungguh seperti dunia ini hanya milik programmer belaka.

Jujur saja, jika disuruh memilih pekerjaan yang paling kuingini saat ini adalah ya jadi pengangguran dengan gaji tetap. Misalnya pergi ke sekolah pamitnya ngajar tapi sesampainya di sana hanya mainan sosial media terus muridnya disuruh belajar mandiri. Atau pergi ke kantor dengan alasan rapat tetapi sesampainya di sana buka gadget terus membidikkan kamera ke peserta rapat untuk dibuat streaming. Lumayan kan dapat penghasilan tambahan dari Yutub?

Pengangguran sedang bermain sepeda

Bai de way, aniway, busway, ondemande, saat ini aku tetap bangga menjadi programmer. Yak. Meskipun terasa berat di hati, di otak, dan di kantong. Bagaimana tidak bangga? Kurang beberapa bulan lagi, sudah hampir 10 tahun loh aku menekuni dunia pemrograman dan masih saja tetap miskin. Makanya biar aku saja, jadi programmer itu berat.
Read More..

Rabu, 29 Agustus 2018

Unfriend Teman Baru Diterima 5 Menit

Leave a Comment
Ini adalah cerita nyata dan baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Ketika sedang asyik browsing melalui laptop, kulihat tab browser yang membuka Facebook menunjukkan ada 2 (dua) notifikasi baru. Setelah menyelesaikan ritual browsing, aku pun membuka notifikasi tersebut yang berupa pemberitahuan ada suka baru pada statusku sebelumnya. Tak lama setelah itu muncul satu notifikasi ajakan pertemanan. Kulihat sekilas melalui popup profil akun tersebut ada dua teman yang sama. Keduanya adalah orang yang aktif di Facebook dan statusnya selalu baik dan bergizi. Tanpa pikir panjang, aku pun menerima permintaan pertemanan itu.

Sumber: Giphy


Belum lama permintaan teman kusetujui, ada notifikasi dari Facebook kalau sekarang aku dengan dia terhubung di messenger. Biasa lah. Facebook memang seperti itu jika kedua pengguna baru berteman dan keduanya sama-sama menggunakan messenger maka akan mendapat notifikasi seperti itu. tak lama kemudian ada notifikasi lagi, ternyata doi nginbox menawarkan dagangannya. Tnapa pikir panjang, aku langsung unfriend saja.

Dari dulu, aku memang sensi jika dibroadcast promo-promo seperti itu. Apalagi ini tanpa basa-basi langsung menawarkan produk. Bahasanya sih tidak langsung menawarkan produk melainkan mengajak kerjasama yang sebetulnya juga dalam rangka mempromosikan produknya.

Aku tidak apa-apa dan tidak merasa terganggu dengan teman-teman Facebook yang menjual dagangannya lewat status meskipun sehari-hari statusnya jualan melulu juga tidak masalah asal jangan broadcast saja. Aku pun biasa membahas urusan bisnis menggunakan Facebook dan hal itu memang aku rasa tak masalah. Lha wong Facebook kan alat komunikasi ya tergantung penggunanya mau digunakan untuk apa. Tapi meski demikian setiap ada pengguna yang melakukan broadcast untuk mempromosikan dagangannya maka aku selalu tegas untuk unfriend. Intinya jangan broadcast. Kalo mau promo di status saja. kalo mau nginbox ya boleh asal lihat-lihat sikon.

Sumber: Giphy
Semoga hal ini tidak masuk kategori memutus silaturrahim. Soalnya Facebook kan bukan satu-satunya alat untuk mengeratkan silaturrahim. Saling menghargai, lah. Saling memahami juga. Lha wong sama-sama menggunakannya secara gratis, kok.
Read More..

Rabu, 22 Agustus 2018

Politisasi Khutbah Idul Adha

Leave a Comment
Hari ini benar-benar terasa sangat aneh. Sepertinya aku telah dikuasai setan sampai-sampai sangat sulit untuk mengendalikan diri. Padahal! Biasanya aku bisa mengendalikan diri dalam situasi segenting apapun. Setiap ada masalah, aku bisa berpikir santai. Namun kali ini tidak. Sungguh! Aku tidak mengenali diriku sendiri saat ini. Perasaanku benar-benar tidak karuan bercampur jengkel, marah, dan serba ingin mengumpat. Sampai-sampai si K yang tengah bubuk manja di pangkuanku tiba-tiba menangis dengan sendirinya dan ia tidak menjawab sama sekali pertanyaan mengenai kenapa ia menangis. Ketika kuajak jalan-jalan naik sepeda motor, ia memelukku sambil berdiri dan bersandar dengan penuh kepasrahan. Disuruh duduk sama ibuknya tidak mau. Ada sesuatu yang aneh padanya. Apa karena ia tertular keanehanku hari ini?

Jujur saja, baru kali ini, aku mendengar khutbah tapi malah membuatku marah dan ingin mengumpat. Andai saja aku tidak khawatir membuat jamaah bubar, aku akan melakukan walkout karena sudah merasa malas berada di situ. Aku berusaha mati-matian mencerna isi khutbah yang disampaikan akan tetapi aku gagal memahaminya kecuali mengenai pemimpin dzolim, politikus busuk, kafir, musuh islam, pendusta, bencana alam, krisis, dan istilah-istilah politis khas lainnya yang disampaikan dengan tendensius.


Khotib mengatakan bahwa nabi Ibrahim adalah contoh pemimpin yang ideal. Cara penyampaiannya seakan-akan menggiring jamaah untuk berpikir bahwa Indonesia sedang dipimpin orang dzolim dan butuh sosok seperti nabi Ibrahim untuk menggulingkan kekuasaan itu dan menggantikannya. Jujur saja, saat ia menyampaikan hal itu, aku sudah tidak tahan lagi. Aku melihat ke belakang, ada banyak jamaah yang harus dilalui untuk walkout. Aku kemudian memilih menghidupkan HP (biasanya tak pernah bawa HP untuk sholat Ied. Pagi ini entah kenapa aku ingin membawanya meskipun sesmpainya di masjid kumatikan) dan menulis status di Facebook.


Di awal-awal doa, ia berdoa "berikan kami kemenangan...". Aku tidak tahu yang dimaksud kami itu siapa dan kemenangan dari apa. Aku tidak berani mengamini doa itu.


Gara-gara mendengar khutbah itu, aku mencoba berbagai cara untuk menenangkan diri. Hanya saja sampai aku menulis artikel ini, aku belum bisa menguasi perasanku lagi. Aku berencana untuk sowan Abah untuk minta tolong diobati penyakit hatiku ini. Semoga ketidaksukaan ini tidak semakin berlarut-larut. Aku butuh obat.


Semoga Allah mengampuniku meskipun seandainya sholat Iedku tadi tidak diterima. Semoga rahmat dan kasih sayang-Nya selalu meliputiku. Tanpa itu, aku bukan apa-apa dan bukan pula siapa-siapa.

Read More..

Menertawakan Orang Yang Menertawakan Agama

Leave a Comment
Menjadi guru ngaji itu sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan. Sungguh! Jika aku mau menuruti logika kemanusiaanku maka aku akan sangat sering merasa kecewa dengan perlakuan-perlakuan yang kurasa tidak menyenangkan itu. Oleh karena itu, ketika sedang tidak kuasa untuk menahan diri, aku sering memilih menertawakan mereka. Daripada sakit hati berlarut-larut kan mendingan memilih untuk mengobati hati dengan cara itu sehingga bisa kembali berpikir wajar dan melanjutkan ngajar ngaji.

Murojaah di Sanggar Pelangi
Kemarin, aku benar-benar marah dengan penyanggar yang mengaji di Sanggar Pelangi. Satu hal yang membuatku marah adalah mereka tidak bisa menghargai Al-Qur'an. Aku katakan pada mereka dengan tegas, "Aku sangat cinta dengan Al-Qur'an. Jika aku membaca Al-Qur'an dan kamu malah ramai sendiri maka bisa saja aku menendangmu. Setelah aku tendang kemudian kamu lapor kepada orang tuamu dan orang tuamu datang ke sini untuk protes maka aku akan balik memarahi mereka. Duel pun tak masalah".

Aku sangat tegas dalam mengajar ngaji Al-Qur'an. Jika tidak mau mengikuti aturan yang aku buat maka lebih baik tidak usah belajar denganku. Sebelumnya, aku telah menerapkan metode belajar dengan teori konditioning dan memberikan mereka kebebasan sepenuhnya untuk menentukan waktu belajar dan apa yang ingin dipelajari. Aku meminta mereka untuk membuat jadwal sendiri. Akan tetapi, ternyata mereka masih belum mampu sepenuhnya untuk menjalankan hal itu. Akhirnya aku memilih mengubah metode dengan pengetatan.

Aku sering mendengar orang tua mereka berusaha membuat surat ijin atau datang ke sekolah langsung untuk memberitahu guru atau wali murid ketika anaknya tidak bisa mengikuti pelajaran di sekolah. Akan tetapi dalam urusan ngaji tampaknya mbolos adalah hal yang lumrah. Guru ngaji tidak perlu tahu kenapa mereka tidak datang. Seakan-akan waktu yang disediakan guru ngaji tidaklah dihargai.

Ada juga orang tua yang datang ke sini untuk meminta waktu mendampingi anaknya belajar (privat/les) tapi untuk urusan ngaji anaknya  disuruh datang ke sini sendiri. Jujur saja, aku sering tertawa melihat kenyataan itu.

Aku sering mengamati perilaku-perilaku sosial yang sebetulnya tampak biasa saja akan tetapi menurutku sangat unik. Ada sebagian orang yang ketika diundang kendurian atau acara-acara yang berbentuk ritual keagamaan memilih tempat duduk di ujung belakang atau jika acaranya di rumah maka memilih tempat duduk di teras atau dekat pintu. Namun jika acara itu berupa hiburan, mereka memilih tempat di depan panggung. Hal itu akan sangat lumrah bagi sebagian orang tapi dianggap kurang ajar bagi sebagian yang lain.

Melihat perilaku-perilaku unik itu, aku sering tertawa. Ini caraku menjaga kepercayaan diri bahwa memiliki Al-Qur'an harus bangga meskipun dianggap tidak memiliki taring di mata mereka. Dan aku tahu bahwa aku memiliki hak untuk bersikap tegas bagi siapa saja yang tidak menghargai Al-Qur'an. Aturan yang berlaku saat ini adalah "Lakukan apa yang kalian sukai dan aku akan melakukan apa yang aku sukai". Jadi jangan heran jika aku jarang menghadiri undangan untuk acara-acara yang hanya mengedepankan hiburan belaka sebagaimana aku tidak heran dengan kalian yang sulit untuk diajak menghadiri acara keagamaan,
Read More..

Selasa, 22 Mei 2018

Menyesal Pakai Pascabayar Indosat

Leave a Comment

Sudah hampir sebulan, aku menggunakan pascabayar Indosat paket XXL seharga Rp. 199.000 per bulan. Hal yang membuatku menyesal adalah jaringan internet Indosat yang sangat menjengkelkan. Salah seorang Customer Service di Galeri Indosat Salatiga mengatakan kalau jaringan internet yang digunakan oleh pelanggan pascabayar diprioritaskan. Tapi kenyataannya sama saja. Lemot banget. Lambat. Aku sering marah dan kehilangan kesabaran karenanya. Padahal tujuanku mengambil paket XXL itu adalah untuk menunjang kebutuhan bisnis. Tapi kenyataannya malah rugi. Sangat rugi. Sad smile


Aku tinggal di kota Salatiga. Sebuah Kota Madya yang berada di provinsi Jawa Tengah. Tetapi kenyataannya Indosat tak sepenuhnya bisa digunakan di sini. Aku membayangkan, “bagaimana nanti kalau aku mudik ke Bojonegoro?”. Tempat kelahiranku adalah di di pelosok desa di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur. Benar-benar merasa salah pilih dan sangat menyesal. Crying face


Aku setiap hari membutuhkan koneksi internet untuk berkomunikasi dengan parter kerja yang berada di Amerika Serikat. Kami mendiskusikan proyek yang sedang kami garap sekaligus menggarap proyek tersebut secara realtime. Hanya menggunakan Skype. Itupun hanya berupa chat menggunakan teks. Indosat sudah kuwalahan menangani kebutuhan itu.


Deadline pkerejaanku adalah akhir bulan mei. Indosat telah menghambatku sekian jam setiap hari dengan koneksinya yang sangat-sangat lambat. Aku rugi sangat banyak. Produktivitasku berkurang. Aku menjadi seperti keong. SnailSnailSnail Sangat lambat.


Aku akan mencoba menggunakan pasca bayar ini satu bulan lagi. Kalau rasanya masih sama maka aku akan membuang jauh-jauh Indosat dari kehidupanku. Apakah kenyamanan pengguna itu harus dibayar dengan mahal? Jika jawabannya iya maka aku akan menyatakan perang bisnis dengan Indosat. Broken heart


Read More..

Kamis, 17 Mei 2018

Puasa Ramadhan Puasa Sosmed

Leave a Comment
Bulan ramadhan telah tiba. Rasanya sungguh sangat cepat ramadhan ini kembali menyapa. Entah karena aku yang terlalu hanyut dalam kesenangan dunia sehingga tak terasa usiaku berkurang setiap hari atau kah karena hal lainnya. Bukankah pada umumnya penantian itu terasa lama? Mungkinkah aku tak pernah menantikan kehadiran ramadhan? Duh, Gusti! Ada apakah dengan diriku.

Ilustrasi Sosial Media | wsj.net
Aku rasa, ini adalah suasana yang tepat untuk kembali menyulam cinta pada-Nya. Setelah sekian lama aku mengabaikan-Nya, aku ingin kembali bermanja dengan-Nya. Bermanja sebagaimana sepasang kekasih yang telah lama tak berjumpa.

Puasa sosmed bukanlah bearti meninggalkan segala hal yang berkaitan dengan sosmed. Bukan! Bukan itu maksudku. Tiada larangan bagi kita untuk tetap berinteraksi dengan sesama kawan, kerabat, ataupun keluarga. Ya meskipun melalui sosial media.

Aku hanya berfikir alangkah eloknya jika ramadhan ini kita jadikan momentum untuk memeriksa diri secara penuh. Kita petakan penyakit-penyakit hati yang ada dalam diri kemudian mencari obatnya. Banyaknya ibadah yang kita lakukan akan dapat memperparah penyakit hati yang diderita. Misalnya semakin banyak ibadah semakin tinggi pula kesombongan atau riya' kita kepada sesama manusia.

Terkadang, kita melakukan ibadah di masjid tetapi pikiran kita sedang menyusun rencana pamer di tempat lain. Sebetulnya apakah tujuan ibadah yang kita lakukan? Apakah atas dasar cinta? terpaksa karena takut neraka? ataukah karena ingin mendapatkan derajat di sisi manusia? Suatu perbuatan yang secara kasat mata bernilai ibadah saja bisa kita selewengkan apalagi kalau hanya bermain sosmed?

Kebiasaan kita gojek di sosial media terkadang juga dapat memeriksa adanya masalah hati. Kita sering begitu saja mengungkapkan apa yang kita rasakan dan berbalas sulam dengan kawan yang ada di situ. Sangking asyiknya gojek di situ, kita merasa risih akan kehadiran orang lain. Meskipun tak sampai mengabaikan tetapi merasa sedikit terganggu dengan kehadiran orang lain itu adalah tanda adanya ketidakberesan dalam hati.

Berapa suka, komentar, dibagikan yang didapat terkadang juga dapat kita jadikan untuk menguji adanya penyakit dalam hati. Bagaimana perasaan jika mendapat banyak dan bagaimana jika mendapat sedikit atau bahkan tidak dapat sama sekali. Kita bisa mengukur kondisi kita masing-masing untuk mengetahui adanya penyakit hati atau tidak pada diri kita.

Setelah penyakit hati yang berkaitan dengan sosmed terpetakan maka kita perlu menyusun strategi untuk mengobati hati. Satu persatu penyakit itu diberi perlakuan khusus. Minimal biar tidak semakin parah selagi kita masih belum mendapatkan obatnya yang manjur.

Puasa sosmed cenderung menekankan pada aspek fikiran dan hati. Kalau tubuh kita tidak boleh makan, minum, dan bersenggama selama berpuasa, maka hati dan fikiran kita juga perlu dilatih untuk berpuasa. Dan aku rasa, sosmed adalah tempat yang sangat berguna untuk melatih fikiran dan hati agar ikut berpuasa.
Read More..

Rabu, 16 Mei 2018

Harga Palsu Iklan Xiaomi Oleh Tokopedia

Leave a Comment
Hari ini, aku mencari informasi seputar Xiaomi Redmi 5A melalui Google. Di Facebook ada teman yang menawarkan handphone jenis itu seharga 1,1 juta. Eh, ndilalah lihat iklan Tokopedia nangkring di halaman pencarian. Harganya 1 juta. Karena ada selisih harga dan lebih murah maka aku klik iklan itu. Setibanya di halaman landing iklan aku terkejut ternyata harga yang tertera di iklan berbeda dengan harga aslinya.
Harga Xiaomi Redmi 5A Dibandrol Rp. 1.000.000 Di Iklan Tokopedia
Harga Xiaomi Redmi 5A dengan spek RAM 2 GB dan memori internal 16 GB yang tertera di landing page iklan Tokopedia ternyata tidaklah Rp. 1.000.000 melainkan Rp. 1.300.000. Menurut informasi dibawah harga yang tertera, harga itu telah diubah pada tanggal 12-05-2018 pukul 16.17 WIB. Okelah aku kena tipu batinku.
Harga di Landing Page Iklan Tokopedia

Meskipun aku merasa kena tipu, aku masih berusaha berhusnudzon. Mungkin saja harga sebelum diubah memang 1 juta. Aku pun melihat tab diskusi produk dan berusaha mencari informasi harga sebelum tanggal diubah. Namun ternyata memang sepertinya ulah Tokopedia yang membuat harga palsu pada iklannya yang dibuat pada AdWord.

Ternyata di diskusi produk itu tampak bukan aku saja yang merasa tertipu. Seorang pengguna bernama linitanti mengeluhkan perbedaan harga yang tertera di iklan dengan harga yang tertera di halaman produk.
Diskusi produk tanggal 28 April 2018
Ternyata tanggal 28 April 2018 iklan itu sudah muncul dengan harga Rp. 1.000.000. Sampai pertengahan mei 2018 iklan yang sama masih dipasang dengan harga yang sama.

Tanggal 4 mei 2018 ada seorang pengguna lain yang komplain dengan perbedaan harga yang tertera. Menurut pengguna bernama Afif Muria harga yang tertera 1 juta tapi setelah diklik menjadi 1,3 juta. Hal ini tentu saja menyangkal dugaanku bahwa harga sebelum diubah memang 1 juta. Dibuktikan juga dengan pemilik toko yang mengatakan bahwa ia tidak pernah memasang harga 1 juta melainkan 1.299.000.
Diskusi produk tanggal 4 mei 2018
Terakhir, diskusi produk paling baru yang membahas masalah harga dibuat oleh Muhammad Aji. Ia menanyakan apakah Xiaomi Redmi 5A boleh dibeli dengan harga 1 juta. Pemilik toko menjawab tidak bisa. Jelas itu merupakan ulah pihak marketing Tokopedia. Bukan ulah pemilik toko. Kalau pemilik toko masak baris iklan di Google itu mengarah ke landing page toko yang berbeda-beda. Apa toko-toko itu dimiliki oleh orang yang sama. Aku juga tidak tahu dan tidak berusaha mencari tahu lebih lanjut.
Diskusi produk 15 mei 2015
Begitulah pengalamanku hari ini dengan Tokopedia. Namun tulisan ini tidaklah bearti apa-apa. Kalau ini termasuk ulasan yang negatif pun tak akan berpengaruh pada Tokopedia. Buzzernya akan melibas tulisan ini hanya dengan sekejap mata. Tapi, mbok yao kalau bisa itu buat iklan ya yang sesuai dengan aslinya. Masak ya gak ingat dengan siksa kubur?
Read More..

Kamis, 09 Juli 2015

Indahnya Berbagi

1

Salah satu media komunikasi yang paling sering kugunakan untuk berbagi pengalaman, tips, trik, dan tutorial adalah blog. Ketika ada teman yang berada jauh di tempat menanyakan sesuatu mengenai suatu permasalahan terkait penggunaan software atau masalah-masalah terkait operasi sistem, maka blog adalah salah satu media yang paling sering kugunakan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Terlebih ketika penjelasan melalui telpon tak juga dapat dipahami. Sehingga penjelasan secara visual sangat diperlukan untuk menjelaskan maksud perkataan-perkataanku, meskipun hanya menggunakan bantuan gambar statis.

Blog juga sangat efektif untuk menyebarkan tugas yang sudah selesai dikerjakan agar teman lain bisa nyontek. Winking smile Hal ini sering kulakukan ketika suatu mata kuliah yang kuikuti sudah kupahami. Kukerjakan tugas dari dosen hanya untuk membantu teman-teman. Biasanya, ketika deadline tugas telah datang, aku pun tak ikut mengumpulkan. Itulah rahasianya agar rata-rata nilai mata kuliah dapat C, guys. Smile with tongue out

Imam Syafi’I berkata:

“Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika air mengalir menjadi jernih dan jika tidak mengalir air akan keruh menggenang”

Demikian pula dengan ide yang muncul pada otak kita. Jika terlalu lama terbenam diendapkan di dasar memori akan rusak. Melalui blog, kita bisa mengkomunikasikan ide/gagasan kita kepada para pengunjung blog. Jika gagasan itu dirasa manfaat pasti akan cepat menyebar. Meskipun terkadang menyebarnya ide/gagasan  itu tanpa dituliskan nama penggagasnya. Be right back Tak apa lah. Kalau memang mulai awal niatnya ngeblog ingin berbagi, pasti akan selalu terasa indah. Apapun yang terjadi.

 

Happy Sharing! Happy Blogging!

Read More..

Senin, 06 April 2015

Kapok Mengikuti Kontes Blog PPM Aswaja

Leave a Comment
Kontes blog yang diselenggarakan oleh PPM Aswaja dimulai pada Desember tahun lalu dengan jadwal yang telah tersusun dengan baik. Proses perlombaan pun dimulai. Berjalan tahapan lomba tanpa ada kendala apa pun. Namun, pada proses penilaian, waktu penilaian mundur satu minggu tanpa ada konfirmasi dari pihak PPM Aswaja. Automatis semua jadwal mundur. Ditambah lagi ada jadwal penayangan nominasi yang membutuhkan waktu satu minggu. Penerimaan hadiah pun mundur sampai berminggu-minggu.

Sungguh disayangkan hal ini dilakukan oleh PPM Aswaja. Profesional apa provit oriented?
Read More..

Minggu, 05 April 2015

Dalam Diam Aku Mencintaimu

Leave a Comment
Mungkin engkau merindukanku saat mengatakan bahwa aku mencintaimu atau saat akau mengatakan kalau aku merindukanmu. Mungkin engkau sangat merindukan hal itu. Namun, apa lah dayaku. Aku tak mampu mengungkapkannya padamu. Aku sangat takut konsekuensi yang harus kuhadapi setelah mengatakan hal itu padamu.

Aku berharap engkau bisa mengerti perasaanku. Meskipun aku tak mengungkapkannya padamu. Aku ingin engkau bisa memahai bagaimana sebenarnya kondisi hatiku dalam memperlakukanmu selama ini.

Aku sering mengecup keningmu saat kau tidur. Memandang wajahmu yang tak berdosa itu. Aku hanya mempu mengatakan dalam hati bahwa aku mencintaimu, meskipun andai kukatakan dengan keras kau juga tak bisa mendengarku. Tapi, aku tetap tak berani untuk melakukannya.


Read More..

Pecinta Merindukan Tuhan

Leave a Comment
Kalimah Allah
Kalimah Allah
Ketaatan yang dilakukan seorang hamba, terkadang hanya berwujud sebuah ritual formal yang tidak dapat membuat sang hamba merasa lebih dekat atau mendekat pada Tuhan. Ketaatan ini hanya berupa tindakan untuk memenuhi sesuatu yang telah diwajibkan padanya. Sehingga, pada kenyataannya hanya berbuah rasa terbebas dari tanggung jawab. Itu saja.

Seorang pecinta akan merasakan kehampaan yang luar biasa ketika ketaatan yang dilakukan tidak berbuah kerinduan untuk selalu bertemu dan mendekat dengan yang dicintainya. Dalam keadaan sadar atau tidak, kehampaan ini akan membuahkan suatu kegelisahan yang selalu menyelimuti hati.

Ketika seorang pecinta sadar terhadap sebab yang membuatnya gelisah, tentu ia akan segera berpaling dari segala hal yang menghambat dirinya untuk meraih rindu dan segera mendekat kepada yang dicintainya. Sebaliknya, ketika ia tidak sadar atau bahkan memang tidak tahu penyebab kegelisahannya, ia akan diliputi kegelisahan/kegalauan yang berkepanjangan.

Cinta, rindu, dan gelisah memanglah tidak dapat dipisahkan dari seorang pecinta. Namun, kegelisahan yang bersumber dari ketaatan jarang disadari oleh seorang hamba. Karena ia merasa sudah melaksanakan apa yang diperintah oleh tuhannya. Ia tidak menyadari kalau ketaatan itu yang telah menjadi pengalangnya untuk merindukan dan mendekat pada tuhannya.

Pecinta yang memiliki guru pembimbing (mursyid), dia akan segera diingatkan oleh gurunya ketika ketaatan itu mulai menghijab hatinya. Ini merupakan hal yang sangat penting bagi seorang pecinta karena ia menjadi tahu apa yang menjadi penghalangnya untuk mendekat pada Dzat yang dicintainya. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki mursyid, ia cenderung berprasangka atau membuat rangkaian dugaan-dugaan atas penyebab hilangnya rindu dari hatinya. Jika firasatnya benar, tentu hal itu baik baginya. Namun, jika praduga itu menghasilkan kesimpulan yang salah maka akan membuatnya semakin jauh untuk menyadari bahwa ia telah terpedaya oleh ketaatan.

Semoga Allah memberikan kita semua pembimbing-pembimbing pilihan yang mampu mengantarkan kita untuk semakin rindu dan mendekat pada-Nya.
Read More..

Kamis, 23 Oktober 2014

Kucing Baru, Keluarga Baru

Leave a Comment
Kucing di rumah kami, awalnya hanya satu, tanpa nama, berjenis kelamin betina. Beberapa bulan kemudian, kucing tersebut melahirkan dua anak. Beberapa bulan kemudian, ia melahirkan tiga anak. Jadi, kucing kami sekarang berjumlah?

Awalnya, kami tidak mengetahui tentang kelahiran anak kucing yang baru tersebut. Karena, kelahiran anak-anak kucing itu tidak terjadi di rumah kami. Anak-anak kucing yang lucu itu dilahirkan di rumahnya pak lik, sebelah rumah kami. Beberapa hari setelah lahir baru dibawa ke rumah kami. Itu pun dengan cara diam-diam.
Induk kucing sedang menemani anaknya

Seingatku, anak-anak kucing yang baru lahir itu di bawa ke rumah pada malam hari, waktu itu aku hanya mendengar suaranya. Mereka disembunyikan oleh induknya di dalam tungku, di dapur rumah kami. Siangnya, induk kucing itu baru berani mengenalkan anak-anaknya pada kami. Salah satu anak kucing yang lucu dibawa ke ruang tamu. Beberapa hari kemudian, kedua anaknya yang lain baru dikenalkan dengan kami.
Induk kucing sedang menyusui anaknya
Sekarang, anggota keluarga kami bertambah 3. Semakin ramai suasana rumah ini. Semoga semakin berkah.
Read More..

Sabtu, 18 Oktober 2014

Serunya Plagiasi (Don’t Try This at Home!)

Leave a Comment

 

Begadang semalam suntuk untuk menyusun tugas hingga membuat mata kriyip-kriyip, nafsu makan semakin tinggi, nyandu kopi, hingga mandi  ala bebek agar kuliah tak terlambat?

Sering. Untungnya, kausalitas banyak tugas nggak doyan makan tidak berlaku untukku. (Tapi kok nggak gemuk-gemuk?) :v

Lalu, bagaimana jika tiba-tiba teman sekelompok mengabari bahwa makalah sudah selesai, padahal kita tidak berperan sama sekali?

Aku terkejut. Campur aduk. Senang karena teman sekelompok begitu rajin. Lega karena tak usah begadang. Tenang karena tak usah rebutan lepingu dengan suami. Sekaligus kebat-kebit, bagaimana jika makalahnya amburadul?

Wednesday come.

Ketika presentasi tiba, menit ke lima baik-baik saja.

Menit ke sepuluh saat bagianku untuk mempresentasikan, aku membaca dengan tersendat-sendat, menyadari sesuatu yang ganjil. Sembari membaca, aku menelisik lebih jauh. Mengingat-ingat apa yang ada di slide presentasi dengan yang ada di makalah. Slide presentasi dan makalah berbeda, tak menggambarkan isi makalah.

Deg!

Aku menahan degup jantung dengan mengetuk-ngetukkan bolpoin. Mencari pengalihan agar gugup tak terlalu kentara. Aku melewati dengan baik-baik saja, tetapi degup jantung tak kunjung mereda, malah semakin berpacu cepat.

Pertanyaan-pertanyaan mengalir. Aku memilih diam. Diam dan memperhatikan. Diam dan berfikir untuk mencari kalimat terbaik untuk meralat isi makalah. Diam. Hingga teman-teman mendesakku untuk segera berbicara.

Aku menarik nafas dalam-dalam, menuturkan dengan intonasi yang sangat pelan, “Maaf, di makalah kami kurang lengkap, seharusnya.... bla bla bla.”

“Di slide presentasi kami seharusnya diperjelas, begini, menemukan phi, menggunakan benang untuk menentukan keliling lingkaran, lalu... bla... bla...”

Aku mencoba meralat dengan menggunakan spidol di papan. Dan, hei! Siapa bilang presentasi bisa tuntas dengan slide power point belaka?

Tibalah giliran bu Dosen untuk mengkritisi isi makalah. Untungnya beliau terlalu baik. Beliau hanya menyuruh kami mengedit bagian-bagian tertentu yang mencurigakan, mencari referensi yang lebih baik, meminta kami untuk menjelaskan dengan kalimat yang lebih lugas, dan mengedit total isi kegiatan inti sesuai dengan pendekatan Discovery Learning yang kami gunakan.

Aku lega.

Setidaknya bu Dosen tidak langsung menghakimi di depanku, “Apakah ini copy paste?”

Jika itu yang beliau lakukan, habislah kami macam kepiting panggang.

Aku tertawa untuk melepaskan ketegangan ketika kuliah berakhir, menyikut teman sekelompok, “Lain kali kalau mau copy paste hati-hati, yang cerdas, dong!”

Ah, cukuplah ini yang pertama dan terakhir kalinya. Aku super kapok. Jera. Cukup tahu diri bagaimana susahnya menyusun makalah. Jika guru-guruku tahu soal ini, barangkali beliau sudah berduka lantaran aku tak menghargai ilmu.

Aku sudah cukup menahan malu saat kuliah tadi, tak perlu mengulang-ulang kembali. Malunya melebihi ketika aku ditanya dan tak bisa menjawab. Untuk kasus tak bisa menjawab suatu pertanyaan, cukuplah berujar, “Maaf, saya juga belum tahu. Barangkali nanti ibu Dosen bisa menjelaskan kepada kita dengan detail.”

Masih untung ini bukan sidang skripsi, atau seminar atau acara pubkik lainnya. Cukup ini. Cukup. Tak perlu mengulang, bahkan di media sosial sekali pun. Robbuna terlalu sayang kepadaku, rupanya. Memberi cubitan ketika aku belum terlalu jauh melangkah di jalur yang salah.

Mohon maaf untuk yang kami salahgunakan makalahnya.

Read More..

Sabtu, 20 September 2014

Merindukan Kyai

Leave a Comment
Semalam, sepulang dari Boyolali hati ini terasa gundah. Entah apa sebabnya, aku juga tidak tahu. Tanpa melihat jam, aku ajak istriku, +Mustika Ungu  untuk ke rumahnya Kyai untuk bertemu dengannya. Tak ada firasat apa-apa, tak ada praduga apa-apa, rasa ingin bertemu dengan Yai sangat kuat.

Setibanya di rumah Yai, istri berkata, "kok gak nunggu Isya sekalian?"

Aku kaget, ternyata belum isya. Aku kira sudah sekitar jam 8. Lalu aku bilang pada istriku untuk sholah berjamaah dengan Yai saja. Yai menemui kami, berbincang sebentar lalu mengimami sholat Isya.

Usai sholat isya' perbincangan pun dilanjutkan. Yai berusaha memberi arahan, bimbingan, dan semangat kepada kami. Katanya, wajar kalau oarang berumah tangga itu mendapat ujian. Kemudian, Yai menceritakan masa awal pernikahannya dengan bu Nyai dulu, cobaannya lebih berat.

Beberapa saat kemudian, Anakanya Yai, mas Syukron menyuguhkan minuman untuk kami. Aku kaget, kenapa mas Syukron? biasanya bu Nyai yang menjamu kami. Hatiku bertanya-tanya, apa bu nyai sedang marah dengan kami atau bu nyai sakit. Banyak praduga yang muncul.

Hampir satu jam berbincang dengan Yai, bu nyai keluar dengan senyum yang menyejukkan hati. Aku salami beliau. Bu Nyai sudah seperti ibu kandungku, beliau membimbing kami dengan sepenuh hati sebagaimana membimbing anak-anak kandungnya.

Yai memberikan saran pada kami untuk menemui seseorang, di sana akan diajari mengenai percetakan untuk dibuat usaha yang bisa dikerjakan di rumah. Aku kaget, kenapa saran yai persis seperti yang aku pikirkan? Awalnya memang aku ingin membuat percetakan, ke rumah yai ingin mendapat arahan, selain mengobati rinduku padanya. Ternyata belum sampai di minta sudah diberi arahan. Masya Allah. Rindu pada Yai itu ternyata membawa rejeki. :-)
Read More..

Senin, 07 Oktober 2013

Gadis Penjual Nasi

Leave a Comment

Sore itu perutku terasa lapar. Sehabis sholat Ashar, kususuri sepanjang jalan depan musholla Syukron Maghfuuro untuk mencari warung yang menjual nasi. Kulihat di kiri jalan di depan Rolak Outbond ada satu warung yang menjual nasi, tapi kuteruskan langkah untuk mencari warung lain yang dulu pernah aku singgahi sewaktu aku masih tinggal di asrama Al-Mufidah. Namun sayang, warung itu sudah beralih fungsi menjadi salon. Aku pun menghentikan langkah, berfikir sejenak, hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali ke warung depan Rolak Outbound.

Warung yang cukup sederhana, tembok depan terbuat dari triplek yang dicat warna agak kuning. di  sebelah kiri dari pintu ada sebuah meja panjang terbuat dari kayu dipasang memanjang ke arah pintu, disebelah kanannya meja panjang dipasang memanjang kekanan, dan diujung kanan juga dipasang meja panjang yang memanjang ke arah pintu bagian kanan. Sehingga ketiga meja tersebut membentuk huruf U.

Perlahan aku masuk warung itu, kulihat ada tiga laki-laki di sana, yang dua sudah makan, dan yang satu hanya berbincang dengan penjaga warung, mungkin dia suaminya penjaga warung itu.

Penjaga warung itu memang cantik, wajar kalau banyak pemuda yang suka beli makan di warungnya. Senyumannya memang menawan, wajahnya tampak putih bersih, tingginya juga sepadan dengan tubuhnya yang tak kurus juga tak gemuk itu. “Namun sayang, dia tidak berjilbab”. Kataku dalam hati.

Sejak saat itu, hampir setiap hari aku membeli nasi di warung itu. Bukan karena penjaganya cantik dan enak dipandang. Namun, karena itu adalah satu-satunya warung terdekat di daerah sini.

Kemarin, tanggal 06 Oktober 2013 seperti biasa aku adzan maghrib di Musholla Syukron Maghfuuro, setelah sholat qobliyah, sepert ibiasanya aku melantunkan pujian (budaya nahdliyin). Setelah beberapa saat pujian, jamaah yang hadir sudah siap untuk melaksanakan sholat jama’ah, lalu kukumandang iqomah sebagai tanda bahwa sholat magrib berjamaah akan segera dimulai. Usai melantunkan iqomah, kukembalikan mikrofon di tempatnya, ketika kumemutar badan untuk ikut barisan sholat tanpa sengaja kumemandang sepasang mata yang juga memandangku. Sepertinya aku mengenal pandangan itu, namun siapa? Ah sudah lah tidak usah difikir, sekarang waktunya sholat. “Allahu Akbar”. Kumulai sholatku.

Hari ini, tanggal 07 Okt. 13, aku tidak adzan untuk sholat maghrib, karena sudah ada pak Mul yang biasanya adzan di sini. Setelah sholat qobliyah, aku duduk di belakang pak Mul sambil mendengarkan lantunan pujiannya. Ketika kumengedarkan pandangan ke samping kanan, ke arah pintu, melihat jamaah yang berbondong-bondong datang, kutangkap pandangan yang tak asing bagiku. Saat itu aku teringat siapa dia, “Masya Allah! ternyata dia aktif ikut jama’ah meskipun tidak berjilbab.”kataku dalam hati. Ternyata dia adalah penjaga warung yang cantik itu.

 

 

 

Karah, 07 Oktober 2013

Read More..

Telatnya Bantuan Biaya Hidup Bidik Misi

1

Seperti semester-semester sebelumnya, bantuan biaya hidup beasiswa bidik misi telat cair di awal semester. Semester ini satu bulan lebih belum cair. Hari ini tanggal 07 Okt. 2013 kulihat saldo melalui mobile banking sudah ada transferan dari yang berwenang sekitar 2 juta, namun ketika kulihat dari ATM malah mendapat warning dari mesin ATM kalau saldo tidak mencukupi. Aku tidak tahu maksudnya uang dua juta yang ditransfer itu untuk apa, kok tidak seperti biasanya 3,6 juta untuk satu semester. Kalaupun tanya ke pihak universitas yang menangani bidik misi biasanya malah ditanggapi sinis, mungkin mereka sudah capek, soalnya ribuan mahasiswa menanyakan hal yang sama.

Telatnya bantuan tersebut membuatku benar-benar tak bisa berkutik, biaya pondok semester lalu belum aku bayar, hutang juga belum aku bayar, bahkan aku sampai harus merelakan diri untuk tidak ngeprin tugas PPL 2 karena tidak punya uang. Akibatnya, bayang-bayang lulus kuliah di masa perpanjangan waktu semakin jelas. Banyak tugas dan kuliah yang terlewatkan karena disambi mencari penghidupan.

Dua bulan lalu aku telah berjanji akan melunasi biaya pondok. Namun, sampai saat ini belum juga terealisasi. Uang yang aku alokasikan untuk itu malah tersedot habis untuk PPL 2. Sekarang hanya bisa menunggu pencairan biaya hidup semester ini yang belum ada tanda-tanda kejelasan.

Aku harus keluar dari pondok, karena aku telah berjanji kalau sampai bulan Agustus belum bisa membayar biaya pondok, maka aku siap dikeluarkan dari pondok. Setelah keluar dari pondok kehidupan semakin tidak jelas. Tidak ada tempat tinggal tidak ada uang. Lalu aku meminta izin untuk tinggal di pesma IPNU Walisongo, namun ternyata Pesma itu dikhususkan untuk mahasiswa-mahasiswa baru, namun untuk sementara aku boleh tinggal di sana sebelum mendapat tempat tinggal.

Satu hari, dua hari aku tinggal di sana. Jalan keluar masih terasa buntu. Tak ada pandangan akan tinggal di mana dan menutupi kebutuhan hidup dari mana. Senior asrama menawarkan untuk tinggal di Musholla di daerah Karah (Sebelah barat kampus Unesa Ketintang). Katanya, Mas Dedy (Eks Ketua Umum UKKI) mencari pengganti untuk mengurus musholla. Saat itu juga aku meluncur ke markas besar UKKI. Kutemui Idris, kuminta nomernya mas Dedy, dia tak punya dan menyarankan untuk menanyakan kepada Ulum (Ketua Umum UKKI Sekarang). Langsung ku SMS Ulum,

“Ulum, aku minta nomere Mas Dedi.”

“Siapa?”

“Budairi”.

“0857xxxx”.

Masih bersama Idris, sambil mennyeruput kopi suguhan darinya, kami membahas tentang rencana untuk mengadakan Bidang Tahfidz Qur’an di UKKI. Sambil kuketik sms untuk mas Dedi kami berbincang sampai waktu menunjukkan pukuk 14.30 di depan markas AMBAM.

Balasan sms dari mas Dedi tak kunjung datang. Keesokan harinya baru muncul satu sms darinya,

“Siapa?”

“Budairi Mas”.

Dia pun tak membalas sms lagi.

Dua hari kemudian dia baru sms,

“Posisi?”

“Asrama IPNU, dekat dengan masjil Al-Mufidah”. Jawabku.

Dia tak membalas sms lagi. Aku pun pulang karena kehabisan bekal. Seelah mengantarkan titipan ibu untuk adik yang berada di Kediri, aku pulang bersama mas Anto.

Tanggal 27 September 2013 mas Dedi sms.

“Budairi, sampeyn nek jam 9 an pagi, coba ke kantor persewaan terop sebelahe musholla, yang jaga kantor itu wakil ta’mir.

“Iya, Insya Allah”.

Aku pun menemui pak Syaiful yang menjaga ABADI HS di sebelah musholla Syukron Maghfuuro daerah Karah. Di sana diinterview seperti ketika melamar kerja, dites nahwu dan shorof juga. “Wah semakin seru saja”. Kataku dalam hati.

Akhirnya siang itu aku mulai tinggal di Musholla untuk menekan biaya hidup di Surabaya. Semoga biaya hidup dari program bidik misi segera dapat dicairkan. Amin.

Karah, 07 Oktober 2013

Read More..

Memudarnya Cinta

Leave a Comment

Sebelumnya, aku sangat mengharapkan dia menjadi istriku. Aku juga yakin kalau dia benar-benar serius denganku. Melihat pengorbanannya yang begitu besar, kasih sayangnya, perhatiannya memang menunjukkan kalau dia benar-benar serius denganku.

Malam itu dia menelponku. Mengabarkan kalau mendapat tawaran beasiswa S2 di Malang. Waktu itu antara kami berdua telah sepakat akan melangsungkan pernikahan dalam wakttu dekat.setelah mendapat tawaran tersebut akhirnya kami memutuskan untuk menunda rencana pernikahan itu. Biar kami sama-samamenyelesaikan kuliah terlebih dahulu.

Perkuliahannya pun di mula. Semester pertama dia sangatlah sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Disamping itu, dia juga masih mempunyai tanggungan untuk mengajar di sekolah yang menjadi batu loncatan untuk mendapat beasiswa S2 itu. Meskipun terkadang aku merasa bosan dengan responnya yang datar, bahkan tak jarang dia terdiam membisu tanpa memberi kabar sedikitpun padaku, namun akau masih tetap  berusaha meyakinan pada diriku bahwa dia masih tetap menjaga komitmen antara kami berdua.

Semester awal berlalu. Waktu itu hampir bersamaan dengan tahun ajaran baru untuk tingkat SMP. Adikku yang baru lulus kelas 6 Madrasah Ibtidaiyyah aku sekolahkan di tempatia mengajar. Dia membantu semua biaya masuk SMP dan biaya pondok serta membayar ketering dan biaya menjahit seragam sekolah.

Awal semester dua di mulai. Komunikasi sudah semakin jarang. Smsku jarang dibalas, telponku jarang dijawab. Aku tak tahu apa yang terjadi di sana. Mungkin dia sedang sibuk dengan tugas-tugasnya. Mungkin dia ingin fokus pada kuliahnya. (Bersambung).

Read More..