Tampilkan postingan dengan label Blogger Perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Blogger Perempuan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Desember 2018

Pergeseran dari Tim Gamis ke Tim Celana dan Tunik

Leave a Comment
Bulan puasa kemarin aku pernah membuat blogpot di widiutami dot com, bareng dengan #BloggerKAH tentang tim gamis dan jilbab segiempat, eh, ternyata sekarang daku bergeser dari tim gamis ke tim celana dan tunik. Dulu juga tim daster addict, sekarang malah enggak punya daster babar blas, dasternya sudah pada pensiun tapi emak K enggak niat beli.

Why?

Si K yang mulai super aktif dan membutuhkan gerak leluasa dan lincah untuk mengikuti langkah-langkahnya menjadi alasan utama. Mobilitas yang semakin tinggi dan mengharuskan aku membonceng ataupun nyetir motor dengan membawa si K, harus mempehatikan benar-benar keamanan dan kenyamanannya, menjadi alasan kedua,

Gamis yang kumiliki biasanya kupakai saat di rumah. Jika keluar rumah dengan menggunakan gamis, aku masih memakai celana kulot sebagai dalamannya, biar kalau nenteng-nenteng ujung gamis auratnya tetap aman. Lha piye, si K itu kalau lompat lincah, jika emaknya ribet dengan gamis, aduh, bocahnya bakal melesat dan aku harus mengejarnya.

Bawahan celana panjang dan rok wanita muslimah yang semakin hari semakin beragam pilihannya, enggak kalah cantik dengan gamis, pun tetap mempehatikan syaiatnya membuatku semakin mantab untuk mengubah style tanpa harus menabrak aturan berpakaian perempuan muslim.
Tunik dan celana kulot favorit,abaikan jilbab yang enggak nyambung, ya!


Memilih Celana yang Nyaman untuk Emak-emak

Dalam memilih celana, daku tergolong cerewet. Cerewetnya ini bukan karena aku sok-sokan, tetapi aku memiliki kenangan buruk karena ceroboh memilih bahan celana.Kala itu aku buru-buru memilih celana kulot, kupilih celana yang sekianya enggak ketat dan enggak nerawang. Eh, ternyata celananya berbahan jersey.

Petaka datang saat aku tengah berdiri di dekat selokan, si K yang usil biasalah, lari sana-sini, naik turun selokan yang enggak ada airnya. Tiba-tiba, si K berpegangan erat pada ujung celanaku, aku yang enggak siap spontan memegang celana yang melorot. Celananya melar, NERAWANG! Byuhhhh. Untung enggak ada orang lain.

Pelajaran pertama, jangan memilih celana yang berbahan jersey jika aktivitasnya menuntut kelincahan. Sekalipun enggak nerawang, tetapi saat celananya enggak sengaja ketarik, otomatis bakal nerawang.Selain itu, celana berbahan jersey gampang melorot, enggak disarankan untuk emak-emak yang mobilitasnya tinggi. Tapi kalau emak-emak nyantai sih enak pakai jenis kain jercey, adem.

Terus, milih celana bahan apa dong?

Aku sekarang lebih memilih celana berbahan wolly crepe, katun atau kanvas. Bagi yang bisa memakai celana denim, celana ini nyaman digunakan. Emak K enggak nyaman karena celana denim biasanya ketat. Daku biasa menggunakan kain jenis denim untuk rok atau gamis.

Atasan Favorit Emak K

Berbicara soal atasan, emak K adalah fans tunik garis keras. Sejak dulu aku menyukai baju dengan panjang sampai selutut. Enggak nyaman memakai baju yang panjangnya cuma sepaha. Bukan apa-apa sih, hanya alasan kepraktisan saja.Enggak mau ribet memeriksa apakah ada aurat yang tersingkap saat jalan atau bergerak.

90% baju atasanku berjenis tunik dengan berbagai bahan. Ada yang jahit sendiri, ada juga yang beli jadi. Biasanya nih, atasan yang beli jadi lengannya kependekan. Maklum, tangan panjang. Tangan panjang dalam arti sebenarnya lho. Hahahaha

Bahan tunik yang nyaman untukku berbahan katun, satin, baloteli, toyobo. Yang enggak perlu disetrika? Bahan wollycrepe.Hahaha, sayang, bahan wollycrepe kalau dipakai di Bojonegoro gerah banget. Bahan denim juga lumayan enggak perlu disetrika. Dasar tim emak-emak malas nyetrika. Heuheuu.


Kalau kamu, tim gamis apa tim celana dan atasan, Mak? Tim apapun, yang penting paling nyaman di badan, ya.


Read More..

Selasa, 21 Juni 2016

Rian Lutfi: Blogger Lebay yang Nggak Bikin Eneg

6
Ada yang bisa mengalahkan cowok ganteng. Ganteng saja nggak cukup. Tahu, apa? Cowok yang humoris. (Qaala Abahnya Kevin pada suatu masa PDKT :p)

 Humoris? Bisa ditebak, tipikal orang yang humoris temannya banyak. Moodboster ketika jenuh melanda. Pemecah suasana sepi menjadi riuh redam. Memaksa orang nyengir nahan geli lantaran melihat ulahnya yang Out Of Topic, padahal sedang gundah gulana. Membuat tipikal serius garuk-garuk kepala sembari membatin, "Elu waras?"

Seperti itulah sosok Rian Rosita Lutfi yang bisa ditangkap dari tulisan blognya. Laiknya kompor mledug yang super lebay, memang. Tetapi lebaynya nggak bikin eneg. Tulisannya n994k 31k1n 54k1t m4t4. Apa cobak bacanya? Les dulu sama anak alay sana. Eh.

Berbeda dengan kebanyakan orang yang ketika nulis tentang keapesan bikin pembaca ketularan sebal dan gondok, blogger pegawai keuangan ini menyulap keapesan yang dialaminya menjadi lelucon yang memaksa sesiapapun yang membaca untuk tertawa. Termasuk aku yang tengah ngepo-in blognya sambil momong si K. Lhah situ rada-rada, masa nyamain dirinya sendiri dengan Gajah saat hamil dan Banteng saat sebelum hamil. Lha wong ada orang dikatain mirip kebo saja tersinggung, si mbak pemilik blog superduperlebay.wordpress.com ini malah mendeklarasikan sendiri. Hayuk lah, suk kita tantang dia di kandang banteng, kalo akur kan berarti benar pengakuannya. Mhuahahahaha.

Sebagai blogger yang istimewa lantaran mendapatkan cuti arisan dengan alasan fokus ke skripsi--eh, Dit, ini bukan alasan mangkir dari tugasq ngeblog, kan?--, eike punya hidangan spesial dari mbak Rian yang nggak didapatkan di blog peserta arisan link lainnya; Wajah kelaparan menanti buka puasa.

Picture Credit: Edited From Her Facebook


Kata orang-orang di kampung suami: Aku kudu misuh! Demi apah saat para wanita, ukhti-ukhti, mamah muda berlomba-lomba upload foto selfi paling cantik dengan berbagai gaya, mbak Rian malah meng-upload foto yang seharusnya menjadi aib yang harus disimpan rapat-rapat. LoL

Lebay yang benar-benar mengocok perut. Hahahaha. Maka, sesiapapun kalian yang sedang badmood. Berkunjunglah ke blognya mbak Rian Rosita Lutfi. Minimal ia akan membuatmu cengar-cengir nahan ngakak.

Dari mbak Rian kita bisa belajar seni menertawakan diri sendiri. Mengubah situasi menyebalkan menjadi situasi yang mengundang tawa. Biar nggak gampang nongol keriput di mukamu itu lho, Dut. Lihatlah, bagaimana mbak Rian mengibaratkan diri sebagai kera saat memanjat toren. Eike kan jadi kangen jaman tomboy yang hobi manjat pohon jambu di depan rumah. Sekarang mah, sudah bertransformasi menjadi perempuan manis yang ngangkat galon saja manggil si Abah K. Elu, Dut, musti belajar dari mbak Rian yang strong ini. STRONG.


Hayuklah, silahkan kepoin blognya mbak Rian Rosita. Meski belakangan jarang update lantaran kesibukan kantorny, tetapi kita bisa baca tulisan-tulisan jaman bahela. Jangan sekali-kali membaca blog mbak jago ngocol ini saat di keramaian, ntar dikira orang nggak waras kan mematikan pasaran. Eh. 
Read More..

Senin, 16 Mei 2016

Susi Ernawati: Blogger Multitalenta dari Negeri Kartini

4
Keberadaan jaringan internet semakin memudahkan orang untuk mencari informasi di era digital. Disinilah peran sentral blogger sebagai penyedia informasi. Susi Ernawati, salah satu blogger dari Negeri Kartini adalah salah satu dari sekian blogger profesional dari Negeri Kartini, Jepara. Rumah mayanya www.susindra.com merupakan tempatnya mempublikasikan aneka artikel yang bermanfaat dan menginspirasi.


Mengangkat Lokalitas Jepara

Sebelum berwisata ke Jepara, berkunjunglah ke rumah maya Susindra terlebih dahulu agar tak mengalami kekecewaan seperti yang kualami lima tahun yang lalu. Saat itu kami sekeluarga berniat untuk berwisata ke Jepara selepas ziarah di Masjid Agung Demak, tetapi karena tak ada referensi yang memadai, kami memutuskan untuk mampir ke pantai Kartini saja. Tebaklah apa yang terjadi. Kami kesasar. Setelah sampai di pantai Kartini kami tidak bisa masuk ke musium Kura-kura karena terlalu sore. Errrr, jadilah kami Cuma memandangi pantainya yang sudah kotor. Hiks.
Susindra mengulas dengan sangat detail dan all out tentang Jepara. You ‘ll find Everything about Jepara and Kartini here. Artikelnya sangat bernas. Mengupas selapis-demi selapis. Tak ketinggalan berbagai event yang diadakan di Jepara. Dengan mengunjungi blog ini, kita bakal tahu kapan baiknya kita berkunjung ke Jepara. Atau gampangnya, jika akan ngebolang ke Jepara, hubungi saja mbak Susi di akun-akun medsos yang tercantum di profil blog beliau. Beliau sangat welcome, abaikan saja wajahnya yang terkesan galak, aslinya asik diajak ngobrol. Dan, gudbye bengong saat di Jepara. :D

Crafter yang Nggak Pelit Bagi Ilmu

Susindra kerap men-share berbagai tutorial DIY di blog. Aneka craft yang pernah beliau buat bisa kita dapatkan tutorialnya tanpa harus membayar mahal. Cukup mengunjungi blognya bermodal paket internet atau hotspot gratisan. Hihihi.
Selain berbagi tutorial di blog, Susindra dengan senang hati memberi pelatihan membuat craft bagi Ibu-ibu. Yang terbaru, beliau memberikan pelatihan membuat bros dari pita di Jepara dengan modal alat-alat yang mudah didapatkan. Eh, Mbak Sus, dibayar nggak? *mata ijo*

(Calon) Eksportir Mebel Jepara

Siapa yang tak pernah dengar kehebatan mebel Jepara? Ukirannya yang indah, dan bahan mebelnya yang terjamin, membuat mebel Jepara dikenal hingga pelosok dunia. Tak sedikit pengrajin mebel di Jepara yang menjadi eksportir. Susindra turut berperan dalam rantai ekspor mebel Jepara ke pelosok dunia dengan menjadi marketing, akunting sekaligus sekretaris di usaha mebel milik saudaranya. Keahliannya dalam bahasa Prancis sangat membantunya dalam berinteraksi dengan importir. Bahkan beliau bisa menyokong bea kuliah dengan kemampuannya berbahasa Prancis ini. Ada yang ingin kursus atau adu bahasa dengan mbak Susi? Atau ada yang mau hunting meubel? Dipersilahkan dengan senang hati. Jangan lupa ngasih fee, ya Mbak. :p

Ibu Rumah Tangga Seabreg Aktivitas

Kekhawatiran terbesar saat suami mengajak menikah adalah kelak saat berumah tangga aku tidak bisa beraktivitas di luar rumah lagi. Apalgi beliau memiliki cita-cita yang rada langka; anaknya harus diasuh ibunya sendiri. Membayangkan harus terkurung di rumah membuatku keder. Akhirnya aku mengajukan permintaan kepada beliau agar beliau tetap memperbolehkanku beraktivitas di luar rumah.
Membaca aktivitas mbak Susi yang merupakan ibu dari dua anak ini membuatku kembali bersemangat. Beneran. Minggu ini aku akan menyambangi Sahabat Tuli Salatiga, dan suami mengijinkan. Yeay!
Selain aktif di komunitas blogger, kepenulisan, mbak Susi juga aktif di GPS Jepara, Gerakan Pungut Sampah, yang merupakan sekumpulan orang-orang pduli dengan sampah, memungut sampah bekas suatu acara yang na'udzubillah banyaknya. Beliau pernah bercerita jika dalam satu kali GPS bisa mengumpulkan sampah lebih dari satu ton. Grrrr terlihat sekali jika negeri ini masih boros sampah.
Dengan aktivitas yang seabreg-abreg ini, beliau masih sempat menjadi admin Warung Blogger. Weleh-weleehh.

Proud You, mbak Susi. Semoga aktivitasnya penuh berkah dan sehat selalu.
Big Hug from Lereng Merbabu.




Read More..

Senin, 25 April 2016

Arinta Adiningtyas; Being Full Time Mother at Home, Why Not?

3
Emak-emak selalu saja identik dengan daster dan seabrek gawean yang nggak kelar-kelar. Apalagi jika punya batita, pagi bau ompol, siang bau bawang, mandi sore lima menit udah bau ompol lagi. Percayalah, dibalik anak-anak yang lucu nggemesin ada emak-emak rempong yang rela makan sembari nggendong batita yang tengah buang angin. Padahal pada saat masih gadis, sekedar  melihat kotoran ayam saja sidah jijai nggak mau melanjutkan ritual makan.
Berbeda dengan Ibu pekerja, ritme full time mother berputar pada hal-hal itu saja, nyaris tak ada perubahan berarti. Jika full time mother tidak kreatif dalam memanage waktu dan kegiatannya, full time mother rentang terserang mati bosan, begitu emak-emak alay bilang. tetapi hal tersebut tidak terjadi pada Arinta Adiningtyas, Ibu Rumah Tangga yang rela melepas profesinya sebagai guru TK demi ikut suaminya. Istri penyayang, mana bisa pisah lama dengan sang suami? Ehm.
Selain mengisi hari-harinya dengan seabreg aktivitas seperti laiknya emak-emak, Arinta juga memanfaatkan waktunya untuk menulis dan merintis bisnis online. Untuk saat ini, Arinta tengah menjadi agen sebuah brand cilok online.

Arinta Adiningtyas, Bloggerpreneur, Full Time Mom at Home, Writer

Lalu, bagaimana agar kita yang memutuskan untuk menjadi full time mother at hom tak mati bosan? Arinta Adiningtyas, blogger pemilik blog Kayu Sirih yang berdomisili di Solo ini berbagi tips agar tak terserang mati bosan meskipun menjadi full time mother at home.
  • Bagi Pekerjaan Rumah dengan Suami
  • "Sejatinya, pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban suami, baik dikerjakan sendiri atau menggaji pembantu. Jika dikerjakan oleh istri, maka itu adalah sedekah istri kepada suami." dhawuh Yai, dua tahun lalu. Kalimat ini sempat menjadi senjata bagi teman-teman untuk meminta calon suaminya menyediakan pembantu kelak setelah menikah. Tetapi, bagi mbak Arinta, pekerjaan rumah bisa menjadi sarana untuk memupuk keromantisan dengan suami. Istri mencuci piring, suami mengepel lantai. Jika tak sempat mencuci baju karena harus mengasuh dua anak yang masih kecil, pakaian kotor diserahkan ke laundry. Memasak menjadi kegiatan yang mengasyikkan bersama sang Adik. Jika kalian nggak bisa masak, plus nggak ada orang yang bisa diajak masak bareng seperti mbak Arinta dan adiknya, cukup memesan makanan di warteg saja. Itung-itung memberdayakan UKM. Eh.
  • Cari Aktivitas Selingan yang Produktif
  • Aktivitas selingan mbak Arinta bisa ditiru, lho. Aktivitas menulis dan jualan cilok online. Selain membunuh rasa bosan juga bisa menjadi sarana penjemput rejeki. Blog mbak Arinta yang pada mulanya dibuatkan oleh suami agar istrinya mempunyai aktivitas, kini bisa menambah tabungan si Amay. Beberapa tulisan mbak Arinta juga dimuat di koran. Aish, honor koran, lumayan buat jalan-jalan ke Gramedia. Jualan cilok? Nggak usah ditanya, benefitnya cukup menjanjikan. 
  • Ajarkan Anak Tanggung Jawab Sejak Dini
  • Cukup lumrah jika anak kecil hobi mengobrak-abrik segala sesuatu. Rasa ingin tahu yang sangat tinggi meneror tangan anak-anak untuk memegang, membanting, membongkar apapun yang ada di sekitarnya. Saat adik-adik bermain di Rumah Pelangi, bilik yang juga menjadi perpustakaan pribadi dan tempat sholat itu berantakan nggak karu-karuan. Maka, ketika mbak Arinta memposting cerita tentang coretan mas Amay pintar beres-beres di facebooknya Arinta Adiningtyas, langsung kuacungkan dua jempol kepada ibu dua anak ini. Mengajarkan anak beberes memang tak mudah, tetapi jika konsisten, pada akhirnya akan terbiasa. Kisah mbak Arinta dan mas Amay sudah membuktikan.
    Tulisan mas Amay yang Diupload di Facebook mbak Arinta

  • Sekali-kali Refreshing Bersama
  • Ibu Rumah Tangga bukan manusia super yang harus kuat menjalani hari-harinya tanpa refreshing. Jangan sampai pikiran konslet lantaran kurang piknik. Please, we are humanbeing, Moms! Sempatkanlah untuk merehatkan diri sejenak. Jika tak punya waktu untuk sekedar me time karena krucil masih nempel trus, refreshing saja bareng-bareng. Tentu dengan persiapan yang matang, ya. Refreshing bareng sekeluarga, selain untuk menyegarkan pikiran juga mampu mempererat ikatan keluarga. Keluarga mbak Arinta beberapa waktu lalu refreshing ke Makassar, lhoh. Lengkap bersama Mama-Papa-mas Amay dan dek Aga. 
Nah, cukup simpel kan tipsnya. Kusudahi dulu tulisan kali ini. Dedek K agak rewel. Gendongan melulu. Heuuu. Untuk lebih mengenal mbak Arinta, sila ceki-ceki blognya yang kece di http://kayusirih.blogspot.co.id/, banyak tulisan bermanfaat disana.
Read More..

Sabtu, 02 April 2016

Elisa Karamoy; Pentingnya 1000 HPK si Kecil

7
Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) si kecil merupakan salah satu fase perkembangan yang tidak boleh dilewatkan oleh orang tua. Pada 1000 HPK, si kecil berada dalam usia Golden Age yang tidak akan terulang pada usia selanjutnya. Asupan nutrisi yang cukup serta stimulus yang diberikan kepada anak menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh orang tua agar kemampuan si kecil pada 1000 HPK berkembang maksimal.
Elisa Karamoy, blogger 3 anak, menuturkan jika stimulus sangat penting peranannya pada perkembangan 1000 HPK si kecil. Ibu Rumah Tangga yang memutuskan untuk menjadi full IRT pada saat kehamilan kedua menuliskan pengalamannya di blog pribadi tentang anak pertamanya yang belum mampu berbicara dan berjalan pada usia 18 bulan akibat kurangnya stimulus.

Di samping nutrisi yang cukup, ujar blogger yang berdomisili di Tangerang ini, si kecil juga memerlukan stimulus, rangsangan dari luar, untuk meningkatkan perkembangannya. Sebagai Ibu dari anak yang pernah mengalami keterlambatan perkembangan hingga perlu berkonsultasi ke ahli tumbuh kembang anak, Elisa Karamoy yang juga berprofesi sebagai Ghost Writer dan Content Writer disamping sebagai IRT dan blogger, memberikan tips untuk menstimulus anak pada 1000 HPK agar tidak mengalami hal yang sama dengannya.
Stimulus yang perlu dilakukan oleh Ibu atau pengasuh anak yang lain terhitung mudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi memberikan pengaruh yang cukup tinggi dalam perkembangan anak.
  1. Berikan pelukan, sentuhan, dan ciuman kepada anak. Selain untuk memberikan stimulus kinestetik pada anak, hal ini juga akan memberikan rasa aman, nyaman dan bahagia.
  2. Ibu perlu, bahkan wajib untuk menampakkan ekspresi bahagia, wajah yang ceria dan tersenyum serta tertawa pada anak karena anak akan merekam semua itu dengan kemampuan visualnya.
  3. Ajak anak berbicara, berbincang-bincang meskipun anak belum mampu merespon. Kegiatan ini merangsang kemampuan audio anak, baik kemampuan mendengar maupun kemampuan berbicara.
Tiga tips ringan itu sangat mudah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bukan? Untuk mendapatkan tips parenting lain dari mbak Elisa Karamoy silahkan kunjungi blognya di www.elisakaroy.com.Ulik-ulik, ublek-ublek dan temukan hal-hal yang menarik disana. Syukur-syukur menemukan berlian. *Eh.
Selamat memanfaatkan 1000 Hari Pertama Kehidupan, Mak. Tips dari mbak Mutia Elisa Karamoy pasti akan saya terapkan ke mas Kevin. Tak rela rasanya menyia-nyiakan 1000 HPK mas Kevin setelah sharing dengan mbak Mutia Elisa Karamoy. big-big thanks!
Read More..

Jumat, 12 Februari 2016

Emak-emak Gendong

3
"Sesuk adol jahene makde Tun, yo, Nduk. Sopo reti iso gawe tuku buku.1" ujar Ibu saat aku melaporkan jika membutuhkan buku paket penunjang.

Keesokan harinya, aku ikut ibu ke rumah makde Tun yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumah. Ibu menenteng lipatan garung goni dan timbangan gantung. Di pundaknya tersampir selendang kecil lusuh berwarna coklat tua. 

"Dhe, ning ngendi jahene?2" celetuk Ibu saat sampai di halaman rumah makde Tun. Perempuan berambut keriting yang tengah nginang3 itu segera menggiring ibu ke kandang sapi. 

Tumpukan jahe terlihat tak jauh dari tumpukan rumput hijau persediaan pakan sapi. Aku turut menemani Ibu memilah-milih jahe. Mengelompokkan jahe berdasarkan jenis dan kualitasnya. Jahe gajah, jahe merah atau jahe keriting. Jahe yang busuk dipisahkan untuk dibuang. Setelah dipilah, jahe dimasukkan ke dalam karung untuk kemudian di timbang.

Timbangan yang telah dililit selendang diikat kuat-kuat di celah-celah pintu sebelum digunakan untuk menimbang karung berisi jahe. Makde Tun membantu Ibu mengangkat karung dengan susur masih bersarang di mulutnya. Ketika sudah selesai menimbang, biasanya Ibu akan menawar harga jahe. Tetapi, kali ini lain, Ibu sedang tidak punya uang untuk membayar jahe, kesepakatan dengan makde Tun agak berbeda; dibantu menjualkan jahenya dengan selisih harga limaratus per kg dari hasil penjualan di pasar, uang akan diantar nanti sore selepas Ibu menjual jahe ke pasar.

Rutinitas seperti itulah yang dilakoni Ibu untuk membiayai sekolahku hingga lulus SMA. Berbagai macam hasil pertanian yang dijual orang-orang di kampung menjadi salah satu perantara rejeki. Alpukat, cabe, pisang, pepaya, hingga jagung. Selepas SMA, Ibu beralih membuka usaha warung makan. Masih banyak teman-teman seperjuangan Ibu dulu yang masih setia melakoni profesi yang sama; emak-emak gendong.

Setiap sore menjelang maghrib, terlihat emak-emak berkeliling kampung dengan selendang terlilit di bahu, tangan memegang timbangan gantung dan karung goni. Mereka bertanya ke setiap rumah, adakah hasil pertanian atau peternakan yang bisa dibeli. Emak-emak perkasa yang menggendong hasil pertanian atau peternakan yang dibelinya dari petani keliling kampung, kembali mencari rumah-rumah yang akan menjual hasil pertaniannya hingga malam menjelang. Jika tiba musim panen aktivitas emak-emak ini bisa sampai larut malam.

Petani di kampung biasanya tergolong orang yang lugu. Tak jarang ada tengkulak yang membeli hasil pertaniannya jauh di bawah harga pasaran. Emak-emak gendong inilah yang menjadi penyelamat petani dari ulah para tengkulak nakal. Selisih harga yang digunakan emak gendong tidak terlalu jauh dengan harga pasaran.

Setelah sore sebelumnya bergerilya dari rumah ke rumah, saat pagi menjelang, emak-emak gendong ini akan standbye di tempat-tempat strategis untuk mencegat orang-orang yang akan membawa hasil pertaniannya ke pasar sembari mempersiapkan dagangannya untuk kembali di jual.

Kami, anak-anak kampung, sangat menyukai aktivitas yang mendadak ramai di pagi hari. Hari minggu pagi biasanya anak-anak kampung akan berkumpul di tempat emak-emak gendong ini mempersiapkan dagangannya. Kami akan mengusik aktivitas mereka, entah memilah-milah cabe hijau dan cabe merah, entah membantu ngureki4 jagung, entah membantu memilah-milah rimpang jahe ataupun mengikat kacang panjang dan sayuran lain. Hasil pertanian yang sudah dipilah-pilah itu bisa meningkatkan nilai jual daripada hasil pertanian yang masih dicampur. Setelah semuanya siap, ada mobil pick up yang akan membantu emak-emak gendong membawa dagangannya ke pasar. Biasanya setelah dagangan emak-emak gendong terangkut dan masih ada space di pick up, pick up tersebut akan menjemput emak gendong di wilayah lain.

Dokumentasi Pribadi

Aku berulang kali ikut rombongan emak-emak gendong ini saat masih kecil. Mengamati aktivitas mereka di pasar, dari mengangkut karung-karung tersebut ke tempat jual beli hasil pertanian, menimbang kembali di hadapan pembeli, hingga menghitung modal serta keuntungan yang diperoleh. 

Keberadaan emak-emak gendong ini sangat sentral di kampung kami. Saat ibu masih menjadi emak gendong, keberadaan mass market ini menjadi salah satu sumber rejeki utama untuk biaya sekolah. Sekarang, saat Ibu sudah tidak menjadi bagiannya, emak-emak gendong inilah yang menjadi andalan saat panen datang. Kami selamat dari akal-akalan para tengkulak nakal yang seringkali berbohong jika harga tengah turun melalui peran emak gendong yang membeli hasil panen dengan selisih harga yang wajar. Keberadaan emak-emak gendong juga membantu kami yang seolah tidak punya waktu untuk panen hasil kebun, mereka siap membeli langsung dari tegalan, alias membeli sekaligus memanen hasil kebun kami.
Dokumentasi Pribadi


Tak jarang, ketika ada petani yang tengah membutuhkan uang, sementara hasil kebun belum siap dipanen, emak-emak gendong ini menjadi tempat jujugan petani agar membeli hasil kebunnya dengan sistem bayar di awal. Jual-beli yang dilakukan berbeda dengan sistem jual beli ijon, dimana tengkulak membeli dengan harga jauh di bawah harga pasaran karena masih hijau--belum siap panen--. Jual-beli yang dilakukan oleh emak-emak gendong lebih manusiawi, membayar harga komoditi sekarang dengan selisih harga tertentu, kelak jika ternyata harga komoditi naik atau jumlah hasil panen melebihi perkiraan, emak-emak gendong ini akan menambahkan uang kepada petani.

#TerimakasihEmakGendong, #ThankYouMassMarket. Keberadaanmu telah memudahkan untuk memasarkan hasil kebun kami.
Dokumentasi Pribadi

Minimnya modal yang dimiliki oleh beberapa Emak Gendong kadangkala membuat emak gendong terpaksa menjual dagangannya ke Pedagang Besar. Alur distribusi yang panjang ini menyebabkan untung yang diperoleh Emak Gendong tidak maksimal. Bahkan, ada sebagian dari mereka yang terpaksa kredit ke bank titil yang banyak beredar di pasar. Bank milik perseorangan dengan bunga tinggi yang merupakan nama lain dari rentenir. Emak-emak Gendong yang meminjam modal dari bank titil ini biasanya kewalahan untuk mengangsur cicilan plus bunga yang dibayar perhari. Tak jarang, dengan keuntungan yang tidak maksimal itu mereka mengalami kerugian karena harus membayar bunga bank titil yang terlalu tinggi.

Adanya program menabung untuk memberdayakan UMKM, muncul harapan agar Emak-emak Gendong ini bisa berkembang melalui program yang digadang-gadang oleh bank BTPN menjadi bagian penggerak ekonomi petani yang memperpendek alur distribusi hasil pertanian, menghilangkan tengkulak-tengkulak nakal yang terus berkeliaran, serta menghubungkan petani dengan produsen atau pengusaha yang membutuhkan bahan mentah dari para petani.

Kurang pas rasanya jika hanya sekedar mengharapkan orang lain yang berperan dalam pemberdayaan Emak-emak Gendong ini. Aku pun mencoba membaca lebih lanjut tentang keterlibatan nasabah bank BTPN dalam program ini. Ternyata, nasabah bank BTPN bisa berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi UMKM dengan cara menabung. Cara yang paling mudah untuk orang (sok) sibuk seperti aku yang merasa tak punya waktu lagi untuk sekedar mengurus kebun dan memasrahkan urusan kebun dengan mengutus orang lain.

Lalu, Seperti Apakah Program Menabung untuk Memberdayakan ini?
Simak simulasi menabung beriku ini;

  1. Ketik menabunguntukmemberdayakan.com atau klik Menabung untuk Memberdayakan, kemudian klik Mulai Simulasi.
  2. Pilih cara login. Aku mencoba Manual Simulasi, kemudian mengisi data yang diminta dan klik Mulai Simulasi button.
  3. Setelah itu, menentukan besaran dana dan jangka waktu menabung yang direncanakan.
  4. Besaran dana yang terkumpul dan contoh profil UMKM yang turut diberdayakan dengan program ini akan ditampilkan dalam microsite. Kita juga bisa membaca profil-profil UMKM di dalam halaman website ini.


Berikut ini ada video tutorial yang memungkinkan kita untuk melihat step bye step secara langsung tentang simulasi menabung di bank BTPN.


Ah, semoga harapan untuk Emak-emak Gendong ini mewujud nyata. Menggerakkan ekonomi di kampung yang seringkali dipermainkan oleh tengkulak-tengkulak nakal.

Catatan:
1. Besuk jual jahenya makde Tun, ya, Nduk. Siapa tahu bisa digunakan untuk membeli buku.
2. Dhe, dimana jahenya?
3. Nginang, aktivitas mengunyah daun sirih, tembakau dan jintan yang biasanya dilakukan oleh mbah-mbah putri di kampung.
4. Ngureki, memisahkan biji jagung dari bonggol jagung.


Read More..