Posts

Showing posts with the label Blog Competition

SMSBunda dan Serba-Serbi MPASI

Image
Saat si K memasuki usia empat bulan dua puluh hari, aku mulai berburu informasi tentang MPASI. Berbagai jurnal kulahap. Berbagai sumber kujadikan referensi. Hasilnya? Sungguh membingungkan. Ini tidak sesimpel yang kubayangkan. Berbagai silang pendapat kutemukan. Jangankan di kalangan ibu-ibu, di kalangan ahli kesehatan pun kentara sekali pro dan kontranya. Nambah lagi mom war-nya; MPASI dini vs MPASI 6 bulan, MPASI home made vs MPASI pabrikan, eehhh,ternyata masih nambah Baby Lead Weaning atau MPASI pure yang disuap.

Nyut-nyutan? Tunggu, aku bakal berbagi informasi yang kukumpulkan dari berbagai pro kontra tersebut. Keputusan diambil oleh Ibu sendiri. Yep, Ibu lah yang lebih paham dengan keadaan baby. Bukan tetangga, bukan tukang bully di berbagai medsos, apalagi mantan. Wkakaka. Mantan lagi... Kapan Waktu Terbaik untuk Memulai MPASI? Aku dulu berprinsip si K harus diberi MPASI setelah usianya pas 6 bulan. Eh, lha kok waktu usianya baru menginjak 22 minggu, neneknya menyuapi si K denga…

Tujuh Tahun Bersama Tomkins

Image
Orang-orang menyebut kaki saya dengan ‘ceker’. Sebutan kasar untuk orang yang mempunyai kaki berukuran besar. Dari tiga bersaudara perempuan, hanya saya seorang yang tidak bisa tukar-tukaran alas kaki karena saking jumbonya. Mbak yang pertama, biasanya memakai sandal dengan size 37, ibu dan mbak yang kedua memakai sandal size 36, saya sendiri jika tidak ada ukuran 40, harus rela memakai ukuran 39 yang terlihat sesak.
Tidak hanya sekedar ukuran yang membuat ibu saya pening setiap kali membelikan sepatu atau sandal, selain terkenal dengan ukurannya yang jumbo, kaki saya juga terkenal boros. Sandal yang dibelikan oleh ibu rata-rata bertahan kurang dari satu tahun. Pun begitu untuk sepatu semasa sekolah, nyaris setiap semester ibu harus membelikan saya sepatu yang baru karena sepatu yang lama sudah jebol di bagian jempol. Belum lagi aktivitas saya yang seabreg-abreg saat sekolah, dari pramuka di ambalan hingga pramuka Saka Bakti Husada di dinas Kesehatan Kota, dari PMR hingga Sie Kerohanian…

Ibu Rumah Tangga Melek SNI: Pilar Sukses Mewujudkan Konsumen Cerdas

Image
Ibu adalah penggerak konsumsi dalam keluarga. Survey yang dilakukan pada 23-26 April pada Ibu Rumah Tangga yang tersebar di wilayah Indonesia, memperlihatkan bahwa 84 % penggerak konsumsi keluarga diatur oleh istri. Hanya 16 % yang menjawab jika penggerak konsumsi keluarga ada di tangan suami.[1] Begitu sentralnya posisi Ibu Rumah Tangga dalam mengatur konsumsi keluarga, di era MEA yang bebas, menjadi Ibu Rumah Tangga yang cerdas tidak bisa diremehkan lagi. Tentu saja, setiap Ibu Rumah Tangga berusaha untuk memilih barang yang terbaik bagi keluarganya, bukan? Tidak ada Ibu Rumah Tangga yang menginginkan keluarganya tertimpa sesuatu yang tidak mengenakkan akibat kelalaiannya dalam memilih sebuah barang/ jasa. Perilaku konsumsi Ibu Rumah Tangga dalam memilih barang masih perlu ditinjau kembali. Seluruh Ibu Rumah Tangga mengakui jika label SNI suatu produk penting, tetapi hanya satu orang, atau 5 % dari keseluruhan responden yang memperhatikan label SNI pada saat pembelian produk barang el…

Sayap-sayap Mawaddah; Ilmu, bukan Tabu

Image
"Iki penting, Nduk... Kowe suk yo ngalami." 1Dhawuh yai suatu malam, saat aku berada di hadapannya untuk membahas kitab Maratus Sholikhah. Mukaku bersemu merah, sangat kentara terlihat salah tingkah lantaran pembahasan kali itu merupakan hal yang sensitif; tentang kebutuhan pasangan suami-istri.
Hal Penting yang Dianggap Tabu
Yai mewajibkan aku mengaji kitab Maratus-Sholikhah sebelum mengaji kitab-kitab yang lain.Aku membutuhkan waktu nyaris satu tahun untuk mengaji kitab hijau yang tebalnya tak lebih tebal daripada buku saku UUD 1945. Semua perihal kerumah tanggaan dibahas disana, blak-blakan, termasuk perihal yang dianggap tabu; kebutuhan seks.
Barangkali, dulu aku mengaji dengan sedikit perasaan risih. Apatah lagi jika terkait dengan memuaskan pasangan saat berhubungan badan. Tetapi, kini aku menyadari betapa yang dulu kuanggap tabu, ternyata sangat sentral pengaruhnya bagi ketentraman rumah tangga.
Mawaddah. Sesuatu yang didengung-dengungkan setiap kali mengucapkan selama…

Emak-emak Gendong

Image
"Sesuk adol jahene makde Tun, yo, Nduk. Sopo reti iso gawe tuku buku.1" ujar Ibu saat aku melaporkan jika membutuhkan buku paket penunjang.
Keesokan harinya, aku ikut ibu ke rumah makde Tun yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumah. Ibu menenteng lipatan garung goni dan timbangan gantung. Di pundaknya tersampir selendang kecil lusuh berwarna coklat tua. 
"Dhe, ning ngendi jahene?2" celetuk Ibu saat sampai di halaman rumah makde Tun. Perempuan berambut keriting yang tengah nginang3 itu segera menggiring ibu ke kandang sapi. 
Tumpukan jahe terlihat tak jauh dari tumpukan rumput hijau persediaan pakan sapi. Aku turut menemani Ibu memilah-milih jahe. Mengelompokkan jahe berdasarkan jenis dan kualitasnya. Jahe gajah, jahe merah atau jahe keriting. Jahe yang busuk dipisahkan untuk dibuang. Setelah dipilah, jahe dimasukkan ke dalam karung untuk kemudian di timbang.
Timbangan yang telah dililit selendang diikat kuat-kuat di celah-celah pintu sebelum digunakan u…