Membangun kedekatan dengan Kevin itu susah-susah-gampang. Perlu menyamakan frekuensi untuk dapat bisa berkomunikasi dengannya secara personal. Bukan komunikasi yang sebatas memberikan instruksi, melarang sesuatu, atau ceramah panjang lebar terkait suatu nilai.

Sedikit demi sedikit kedekatan itu terbangun melalui beragam cara. Melalui mengajaknya bermain bersama, membaca cerita, berolahraga, makan bersama, dan sederet aktivitas lainnya yang dapat memicu bangkitnya emosi interpersonal. Terkadang, sangking rekatnya hubungan emosi itu, Kevin bukan lagi terasa seperti seorang anak dan orang tua melainkan seperti antara seorang sahabat dengan sahabatnya.

Seringkali Kevin mengingatkanku terkait sesuatu. Misalnya saat aku lupa belum berdoa sebelum makan, terlalu lama pegang handphone, atau ketika dia mendengar suara adzan sedangkan aku masih sibuk melakukan sesuatu.

Suatu hari, emosi Kevin labil. Dia menjadi sangat sensitif dan mudah marah-marah. Sejak pagi hari, dia seringkali minta handphone untuk main game. Berkali-kali kualihkan perhatiannya pada hal lain, berkali-kali pula dia minta handphone lagi saat teringat akan hal itu.




Saat itu, aku merasa tak lagi mengenal Kevin. Bonding yang kubangun dengannya sekian lama dengan susah payah seketika hancur hanya karena dia dipinjami handphone untuk main game oleh seseorang. Sampai beberapa hari Kevin menjadi seperti orang asing bagiku. Dia tak mau lagi mendengar kata-kataku. Sulit sekali diajak ngobrol santai. Dia cenderung uring-uringan meskipun sudah kuajak keliling Solo dan bermain di tempat yang dia inginkan untuk mengalihkan perhatiannya.

Post a Comment

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.