Sejak gagal main pancingan ikan di pasar malam karena kebelet pipis (cerita sebelumnya), Kevin seringkali merengek ngajak mancing ikan.

"Bah, kancingan, Bah." rengeknya. Aku tau maksudnya mau mengajak main pancingan ikan tapi karena dia salah dengar waktu di pasar malam jadinya dikira nama mainan itu adalah kancingan. Karena malam itu aku harus lembur kejar deadline, aku mengabaikan rengekannya dan mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Baru besok malamnya kuturuti keinginannya sampai dia puas.

Setelah aku turuti kemauannya itu sampai puas, aku kira dia sudah tidak akan ngajak main pancingan lagi. Lha kok malah jadi semacam kecanduan. Setiap hari ngajak main pancingan hingga aku memutuskan untuk membelikannya sendiri. Dengan memiliki mainan sendiri apakah membuat drama pancingan berakhir? Ternyata tidak, sodara-sodara.

Saat kuajak ke alun-alun kidul kota Solo, doi berlari-lari dari kejauhan mendekati Odong-odong. Belum juga sampai di tempat odong-odong dia melihat permainan pancingan. Dia pun langsung mbenggal ke arah pancingan tersebut. Dia pun tampak sangat menikmati mainan itu. Bersorak kegirangan ketika kailnya berhasil menangkap ikan yang terbuat dari plastik itu.



Di Taman Balai Kambang pun dia juga merengek ngajak mancing ikan saat sedang menikmati wisata air. Kali ini macing sungguhan dengan kail sungguhan dan ikan sungguhan. Namun baru beberapa saat memegang joran, ia sudah tidak sabar menunggu. Dia menggerutu dan mulai mengamuk. Aku pun mengambil alih joran itu. Setelah beberapa saat menunggu, aku merasakan ada yang menarik-narik joran. "Dapat ikan, Vin", teriakku padanya. Namun dia sudah tidak antusias. Malahan saat ikan itu sudah berhasil ditangkap dan kuajak dia foto bersama gak mau. 


Usai mancing ikan itu, aku mengajaknya keluar untuk mencari makan karena dia bolak-balik mengelus-elus perutnya untuk memberi isyarat kalau dia lapar. Belum juga keluar pintu gerbang Balai Kambang ia melihat ada mainan pancingan di dekat mainan kereta api, ia langsung bergegas lari menuju mainan itu. 

"Bah, pancingan, Bah. Pancingan!", Teriaknya sambil berlari menuju mainan itu. Kali ini, dia sudah tahu namanya.

"Gak jadi makan?", Tanyaku sambil mengejarnya. Dia menggelengkan kepala sambil terus berlari.

Blaaaikkkkk.

Post a Comment

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.