Rabu, 29 Agustus 2018

Waktu Yang Tepat Untuk Bersih-Besih Pertemanan Facebook

Leave a Comment
Menjelang pemilu raya tahun 2019 nanti, spertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk bersih-bersih pertemanan facebook. Bukan karena berbeda pilihan yang membuat tidak tahan menjaga pertemanan di facebook, bukan. Melainkan karena perilaku buruk yang sering dilakukan kedua kubu pendukung calon presiden membuat hati tidak nyaman. Lha untuk apa to mempertahankan orang seperti itu di daftar pertemanan? Lha wong secara logika antara teman dan bukan teman di Facebook itu sebetulnya juga tidak ngaruh-ngaruh amat. Meskipun tidak dipungkiri juga banyak teman baik yang dikenal melalui Facebook tapi "kenalan" dari facebook itu apa harus menjadi teman secara resmi di facebook?

Ilustrasi unfriend teman facebook | Sumber: lifehacker.com
 Aku merasa biasa saja membatalkan pertemanan dengan pengguna facebook terutama yang sering menyebarkan hoax, mencacimaki, sumpah serapah, dan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan norma agama, hukum, maupun adat-istiadat. Lha wong niatku menggunakan facebook bukan untuk berdakwah, kok. Kalau ada yang mengganggu hati ya mending dihindari. Kalau sudah diingatkan tidak berubah ya mending diunfriend saja. Hidup di dunia nyata saja sudah ruwet masak di sosmed juga mau meruwetkan diri sendiri? Mending ikut faham kenthir yang bisa membuat hidup menjadi lebih nyaman dengan tertawa bersama.

Baru beberapa menit setelah aku menerbitkan Unfriend Teman Baru Diterima 5 Menit, aku membatalkan pertemanan lagi pada pengguna lain. Gara-garanya, ia tendensius mengatai orang mengolok adzan hanya karena membela orang yang dihukum karena dituduh melakukan penistaan agama karena merasa terganggu dengan suara adzan yang terlalu keras. Kurang lebih, apa yang dibagikannya berisi begini: kalau suka mengolok adzan maka jangan gunakan speaker masjid untuk mengumumkan jika ada yang meninggal. Gunakan whatsapp saja. Katakan kalau ada bangkai yang perlu dikubur. Sungguh! aku merasa terganggu dengan kata-kata itu. Makanya aku langsung unfriend saja meskipun dia adalah teman sekolah dulu dan pernah sangat akrab.

Sumber: giphy
 Daftar yang akan kuunfriend sebetulnya masih banyak. Aku memiliki teman di Facebook beragam. Ada yang mendukung kubu A ada yang mendukung kubu B. Ada yang dari partai C ada yang dari partai D. Aku tidak pernah mempermasalahkan perbedaan sudut pandang dan pilihan masing-masing teman. yang menjadi masalah bagiku adalah ketika ada sebagian dari mereka yang menyerang sebagian yang lain dengan kata-kata kasar, tendensius, dan seolah-olah yang berbeda dari mereka diangap salah dan bodoh. Jika sudah demikian maka machine learning yang kutanam di dalam otakku akan otomatis menggerakkan tangan untuk unfriend mereka.

Selama ini, aku tidak pernah merasa ada masalah dengan teman-teman yang tidak setuju dengan tahlilan, ziarah kubur, atau hal-hal lain yang sering dianggap bid'ah. Asal mereka menyampaikan dengan baik maka aku juga akan merasa biasa saja. Ada juga teman pendukung pak Prabowo ada juga yang mendukung pak Jokowi untuk pemilu raya tahun 2019. Ketika apa yang disampaikan biasa saja tanpa menjelekkan kubu yang bersebrangan maka aku juga akan biasa saja. yang menjadi masalah, sekali lagi, ketika sudah saling serang dengan menggoblok-goblokkan, menjelekkan masing-masing tokoh yang didukung teman yang berbeda, apalagi sampai mengangap kafir mereka yang berbeda pilihan.

Sumber: giphy

Aku bukanlah siapa-siapa. Unfriend atau tidak juga tidak akan berpengaruh apa-apa pada mereka. Tetapi jika aku tetap berteman dengan mereka dan melihat kecaman dan serangan itu menjadi pengaruh pada diriku. Paling tidak aku merasa tidak nyaman. Untuk itu lah aku memilih untuk melakukan unfriend massal.

0 Komentar Anda:

Posting Komentar

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.