Selasa, 21 Agustus 2018

Lalapan Antimainstream Favorit Abah K

Leave a Comment
Dibesarkan di daerah yang memiliki cuaca yang berbeda, ternyata membuat selera makan kami juga berbeda. Abah K dibesarkan di Bojonegoro, selera makannya cenderung ke segar dan pedas. Sementara aku yang dibesarkan di kaki Merbabu yang dingin, selera makannya cenderung ke pedas-gurih-manis.
Aku tidak akan bercerita tentang macam-macam lalapan yang sering disediakan oleh rumah makan pada umumnya, aku akan menceritakan kepadamu lalapan favorit abah K yang membuatku tercengang, bahkan sampai ndomblong karena enggak menyangka sayuran itu bisa dilalap.

Terong, Teman Menikmati Nasi Goreng Kilat

Nasi goreng kilat dengan bumbu yang dicincang, bukan ditumbuk halus, adalah salah satu menu andalan ketika abah K lapar dan aku malas masak. Biasanya aku memakan nasi goreng berteman lalap kol muda yang dicincang halus dan timun. Namun, tidak dengan abah K, lalapan favorit beliau justru terong ungu yang dipotong memanjang.

Saat pertama kali abah K meminta lalapan terong ungu, aku memastikan berulang-ulang,
"Abah, beneran mau terong mentah?"
"Iya."
"Hmm, digoreng dulu ya?" tanyaku, dulu pernah menikmati ayam goreng yang berteman terong goreng.
"Enggak, dikupas saja, potong memanjang." jawabnya, dalam bahasa Jawa.
Aku terpana. Mengupas terong sambil bertanya-tanya seperti apa rasanya. Saat abah K makan, aku semakin terpana betapa lahapnya ia, betapa lezatnya terong mentah di lidahnya. Sampai sekarang aku enggak berani mencoba lalapan terong mentah. Hahaha.

Babal, Nangka Bayi Kenangan Masa Kecil

Babal namanya, nangka bayi yang diameternya hanya sekitar 5 cm. Abah K mencarinya di  pohon nangka depan rumah. Awalnya, aku menyangka nangka bayi itu digunakan untuk bermain, ternyata DIMAKAN!

Abah K menyuruhku untuk mengambil cabe, garam dan terasi di dapur. Ia berjalan ke samping rumah untuk mencuci nangka bayi yang baru dipetiknya. Eh, Babal. Di teras, abah K duduk santai sembari bersandar. Menggigit Babal dengan penuh penghayatan, dicocol ke trasi dan garam, kemudian nyeplus cabe. 
"Ko ngene kok dipangan sih, Bah? Kaya ora ana panganan liya." aku tertawa sembari geleng-geleng.
"Iki panganan jaman mlarat, Yi." abah K mulai bercerita.
Babal menjadi andalan kala kelaparan melanda. Beramai-ramai dengan teman sepermainan, mereka mencari pohon nangka yang cukup mudah dijumpai di daerah kampung Bojonegoro, memetik babal barang satu-dua. Memakannya beramai-ramai.
Makan babal menjadi seolah menjadi salah satu agenda penting abah K ketika pulang kampung. Mengenang masa kecil, mensyukuri nikmat kehidupan sekarang. Mengenang masa kecil ini bisa jadi jalan untuk berhenti nyinyir. Eh.

Lalap Kacang Panjang Muda

Kacang Panjang muda jadi pilihan lalap cadangan ketika enggak ada terong mentah yang bisa menemani nasi goreng. Kacang panjangnya cukup dicuci, tanpa dicacah. Abah K memakannya begitu saja, menikmatinya seolah-olah lalap kacang panjang sangat lezat. Bagaimana dengan emak K? Sampai sekarang belum doyan. HAHAHA
Emak K hanya mengenal lalap kacang panjang yang dicacah halus, dicampur sambal parutan kelapa, dicampu kemangi dan timun, trancam namanya. Kalau trancam mah menjadi menu wajib warung makan prasmanan.

Tiga lalapan ini yang menjadi favorit abah K. Timun, kemangi, selada, kol, abah K juga doyan, tetapi enggak se-memorized saat makan lalapan penuh kenangan, aduh, apa sih bahasa yang pas? Jadi ketika kita makan, maka kita akan terkenang dengan kenangan yang telah lalu.

Perkara lalapan ini, mbak Arin mengingatkan tentang bahaya Toksoplasma yang mengintai sayuran mentah. Kamu harus baca agar tetap aman saat makan aneka lalapan, Makan Lalapan Terancam Toksoplasma? Duh, Gimana Ya? Jika kamu kehabisan ide lalapan, dan ingin meraskan lalapan yang lain dari biasanya, kamu harus membaca postingan mbak Ran 11 SAYUR YANG ENDEUS BUAT CAMPURAN LALAPAN.

So, apa yang terbesit di benakmu kala mendengar lalapan? :D





0 Komentar Anda:

Posting Komentar

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.