Jumat, 31 Agustus 2018

Jadi Programmer Itu Berat, Biar Aku Saja

Leave a Comment
Pernahkah kamu dimintai tolong untuk membetulkan handphone yang rusak? tv rusak? monitor rusak? mobil remot mainan rusak? printer rusak? Aku pernah. Seakan-akan, seorang programmer itu dianggap bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang ada kaitannya dengan elektronik. Bahkan sampai istri yang rusak saja pernah diminta untuk betulin. Sumprit. Apakah semuanya berhasil dibetulin? Ya jangan tanya kalau masalah itu. Sebagian sih bisa tapi sebagian yang lainnya bisa dengan syarat ditukar dengan yang baru. Uhuk. Uhuk.
sumber: gipy
Suatu hari, ada yang datang bilang gini "tolong buatin ini, ya. gampang banget kok. Cuma gini, gini, dan gini". Aku mbatin "gampang sih kalo ngomong doang". Aku hampir keceplosan bilang gini "lha kalo gampang silakan bikin sendiri nanti tak bayar dua kali lipat dari harga yang kamu tawarkan". tetapi urung karena memang kan aku orang baik. Ahaay. Siapa kita....? Yak. Tul. Orang baik.

Di lain kesempatan, ada juga yang menganggap kalo kerjaannya programmer itu enak. Tinggal duduk sambil mencet-mencet tombol laptop sesekali menyeruput kopi dan mengepulkan asap rokok. Tampaknya begitu nikmat. "Pekerjaanmu enak, ya. Cuma duduk-duduk doang transferan lancar". Jika ada yang memiliki anggapan seperti itu, biasanya aku langsung menyahut begini "Iya. Enak banget. Aku butuh teman untuk bantu aku menyelesaikan pekerjaan, lho. Mau ikut kerja kayak gini?". Mendengar tawaran seperti itu, umumnya mereka pada mau. Akan tetapi berubah 180o Ketika sudah dijelaskan apa saja yang dibutuhkan dan cara kerjanya bagaimana. "Mumet ora, son?", batinku ketika melihat ekspresinya yang tiba-tiba berubah. Eh lha dalah... ternyata setelah mau pamit aku baru tahu kalau mujinya itu karena mau minjem uang. Modyarr.

Di sisi yang lain, ada juga yang menganggap kalau programmer itu layaknya pengangguran. Lha iya to masak saat umumnya manusia berangkat kerja kok ini malah nyari kehangatan di balik selimut atau dekapan sang istri. Ehem. Terus istri dan anaknya mau dikasih makan batu gitu? Kerja, dong, euy. Kerjaannya kok cuma makan, tidur, dan kelon mulu. Dikira ini bumi milik simbahnya apa? Orang model kayak gitu, biasanya, dikasih rokok sebatang sudah mingkem apalagi ditraktir ngopi. Wah sudah langsung seperti khodimul khos. Kalau dari kalangan ibu-ibu ya cukup dikirimi telor sekilo sudah cukup. Gak usah diambil hati, lah. Cukuplah sakit hati itu sama mantan yang meninggalkamu saat lagi sayang-sayangnya. Ehehehe... ehehehe... ehehehe
sumber: giphy
Tapi memang, jadi programmer itu sering kali memiliki banyak waktu luang untuk keluarga. Apalagi jika kita tidak terlalu tamak untuk menerima semua job yang masuk. Waktu untuk keluarga akan sangat berlimpah. Apalagi (lagi) kalau ditambah dengan bonus liburan dalam rangka rembukan membahas rancangan program yang mau dibuat. Sudah dapat liburan gratis, dapat uang, dapat proyek lagi. Sungguh seperti dunia ini hanya milik programmer belaka.

Jujur saja, jika disuruh memilih pekerjaan yang paling kuingini saat ini adalah ya jadi pengangguran dengan gaji tetap. Misalnya pergi ke sekolah pamitnya ngajar tapi sesampainya di sana hanya mainan sosial media terus muridnya disuruh belajar mandiri. Atau pergi ke kantor dengan alasan rapat tetapi sesampainya di sana buka gadget terus membidikkan kamera ke peserta rapat untuk dibuat streaming. Lumayan kan dapat penghasilan tambahan dari Yutub?

Pengangguran sedang bermain sepeda

Bai de way, aniway, busway, ondemande, saat ini aku tetap bangga menjadi programmer. Yak. Meskipun terasa berat di hati, di otak, dan di kantong. Bagaimana tidak bangga? Kurang beberapa bulan lagi, sudah hampir 10 tahun loh aku menekuni dunia pemrograman dan masih saja tetap miskin. Makanya biar aku saja, jadi programmer itu berat.

0 Komentar Anda:

Posting Komentar

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.