Rabu, 12 Oktober 2016

Dibalik Drama Roseola dan Liburan Ceria

39

Tak ada Emak yang tak panik ketika si kecil demam. Apapun yang tengah dihadapi oleh Emak, sebisa mungkin didelegasikan, bahkan di-cancel hanya untuk membersamai si kecil yang tengah demam. Meng-observasi perkembangannya, melakukan pertolongan pertama agar demam si kecil tidak semakin tinggi, memberikan ketenangan agar si kecil bisa istirahat.

Pun aku, pertengahan September bulan lalu seharusnya aku mengurus skripsi yang hanya tinggal bimbingan tahap akhir. Segala alat tempur sudah siap untuk mendaftarkan ujian, termasuk jadwal mengajak si K jalan-jalan ke Taman Bendosari dan pulang kampung ke Bojonegoro selepas bimbingan skripsi. Aku pun sudah meminta Abah K mengosongkan jadwal hari Senin untuk mengantarkan ke kampus. Tetapi sungguh, manusia yang merencanakan dengan sedetail mungkin, Tuhan pula lah yang menentukan. Aku menggagalkan semua urusan ketika Minggu pagi si K suhu badannya menghangat, tengah malam suhu badan si K semakin meningkat, nyaris mencapai 39 derajat celcius.

Wajah si K yang dihiasi bintik-bintik merah muda :'(

Pertolongan Pertama pada Demam

Di Eropa, umum terjadi fobia demam pada orang tua atau pengasuh anak. Jangankan di eropa, aku pun mengalami  tanda-tanda fobia meski tak begitu parah. Persendianku lemas jika menyadari suhu badan si K agak panas. Lalu, seperti apakah keadaan anak bisa dikatakan sebagai demam?

Definisi demam bervariasi, tetapi banyak yang mendefinisikan demam sebagai temperatur  sama atau lebih dari 38 derajat celcius. (Saripediatri vol 12, No. 6 April 2011)

Pantas, saat aku membawa si K ke bidan dua bulan yang lalu, bidan tidak memberi obat apapun karena suhu badan si K masih bisa ditolerir, 37 derajad celcius. Bidan hanya menganjurkan untuk disusui sesering mungkin. Menggendong sesering yang anak inginkan. Yap, ASI adalah obat terbaik bagi anak, dan menggenong dengan jarik adalah salah satu cara untuk memberikan rasa aman pada anak, sehingga anak bisa istirahat dengan tenang.

Setidaknya beberapa  tindakan dilakukan sebagai pertolongan pertama ketika si K demam sebagaimana yang kudapatkan dari literatur dan anjuran dokter.

  1.  Menempatkan si K pada ruangan bersuhu normal. Sebisa mungkin aku menghindari ruangan yang banyak angin karena suhu Salatiga cenderung dingin.
  2.  Memakaikan pakaian yang tidak tebal. Aku biasanya memakaikan  baju lengan panjang, tetapi menghindari penggunakan jaket tebal, karena suhu di Salatiga dingin. 
  3. Memberikan minuman yang banyak agar tidak dehidrasi. Karena si K masih ASI, aku pun sesering mungkin menawarkan ASI pada si K. 
  4. Kompres. Dasarnya tinggal di desa, aku memilih untuk menggunakan daun dadap yang diremas-remas dan dicelupkan di air hangat untuk mengompres ubun-ubun si K. Menggantinya setiap daun terlihat kering. Cara ini membuat tidur si K menjadi lebih relax.

Malam kedua, demam si K semakin tinggi. Mencapai 38,5 derajat celcius yang diiringi tangisan yang merengek. Duh, Nang, lutut Ibu semakin lemas. Abah K dan Mamak, neneknya si K, secara bergantian menggendong si K yang rewel karena Emaknya terlihat shock. Baru kali ini si K demam tinggi dan merengek. Karena demam si K mencapai 38,5 derajad celcius, akhirnya kami memutuskan untuk memberikan paracetamol  droops kepada si K.

Nah, jadi siapkan selalu termometer digital dan paracetamol agar kita dapat melakukan pertolongan demam dengan tepat. IDAI lebih merekomendasikan penggunaan termometer digital untuk di rumah, karena memiliki akurasi pengukuran yang tinggi, waktu pengukuran yang singkat, dan tentu saja murah. Hehehe, aku beli termometer digital hanya Rp.37.500,00. Sampai Hafal, deh, harganya. :p

Malam kedua kami lalui dengan harap-harap cemas. Hari ketiga demam, si K mulai tenang meskipun termometer  masih menunjukkan angka 37 plus. Si K mulai ceria, makan dengan lahap. Malam ketiga si K sudah tidur nyenyak.

Shubuh, aku menghirup nafas lega ketika menyadari panas si K mulai turun, tidak sepanas dua hari yang lalu. Angka di termometer menunjukkan 36,6 derajat celcius. Tetapi, saat mengajak si K jalan-jalan pagi, aku dikejutkan dengan munculnya bintik-bintik merah muda di wajah si K.

Doeng!

Aku pun bertanya kepada saudara yang lebih berpengalaman. Rata-rata menyangka si K terkena gabaken. Duh, bukannya gabaken itu gatal, ya? si K kan tidak garuk-garuk. Sms mbak Ipar yang menanyakan apakah kami akan pulang kampung kujawab dengan nada pesimistis. Abah K yang kusarankan untukpulang kampung tanpa kami pun hanya menggelengkan kepala, mana tega ninggal si K yang lagi sakit, katanya. Buyar sudah bayangan akan pulang kampung. Skripsi buyar, apakah liburan juga akan buyar?

Roseola, Nama Cantik yang Bikin Panik

Demam hilang, muncul bintik-bintik. Duh, gini banget rasanya jadi Ibu, ya. Aku mencari informasi dari manapun. Googling malah kesasar ke informasi yang bikin hati kebat-kebit, dari gejala DB, campak jerman, dll.  Akhirnya aku pun bertanya kepada seorang saudara nan jauh di Batam yang anaknya pernah terkena campak, cacar air dan demam berdarah. Hasilnya? Nope, gejalanya tidak sama.

Gerah mendapati Emak yang terlihat bingung dan panik, Abah K pun memutuskan untuk memeriksakan si K ke IGD. Dokter terlihat tenang saat memeriksa si K.

“Sudah nggak demam, ini mah roseola, Dek. Muncul bintik artinya sudah sembuh.” ujarnya, santai.

Eh, wait,’Dek’? Mhuahaha, Emak K syeneng dongs dipanggil Dek sama bu Dokter. Eike masih keihatan muda kan yak. :p Singkat cerita, tidak ada obat tambahan untuk si K. Bintik-bintik akan hilang dengan sendirinya dua atau tiga hari ke depan. Bu Dokter menganjurkan untuk tetap memantau suhu si K dan mencatat perkembangannya. Kenapa? Sebab riwayat demam sangat penting dalam menentukan diagnosa suatu penyakit.



Roseola disebabkan oleh virus herpes manusia tipe 6 dan 7. Biasa menyerang bayi usia 6 bulan sampai 2 tahun yang sebelumnya dalam kondisi baik.Roseola sendiri memiliki tanda-tanda spesifik yang membedakan dengan campak jerman, cacar air, campak maupun DBD, yakni: bintik merah muda ini keluar setelah demam turun. Bintik merah muda muncul pertama kali biasanya di leher dan dada, seringkali menyebar ke seluruh tubuh. Berbeda dengan DB, bintik pada roseola akan memutih ketika ditekan ke samping. Tenang, bintik ini tidak gatal.

Makanya, aku bingung, dengan bintik-bintik segini banyak kok si K nggak garuk-garuk sama sekali? Saking panik dan males-nya mencari sumber informasi, sebelum ke dokter IGD, aku membaluri tubuh si K dengan salep gatal dan tidak memandikan si K. Wkakakakak. Bau dong, Cyin. Setelah mendapat kepastian dari dokter IGD bahwa tidak ada pantangan mandi untuk bayi yang sakit roseola, si K kumandiin biar wangi lagi. :p

Libur Telah Tiba!

Libur telah tiba, hore hore, hatiku gembiraaaaa.

Emak K norak! :D

Biarin, dong. Bagiku, menghadapi si K yang sakit derajad stressnya jauuuuhhhh lebih tinggi daripada derajad stress lantaran wisuda harus tertunda lagi. Wkakakak. Ah, kalian yang Emak-emak pasti setuju, nggak usah ngetawain dakuh. :p

Aku langsung beres-beres, nyuci segala macam pakaian kotor setelah Abah K mengabarkan jika kita akan pulang kampung. Setelah urusan cuci-mencuci beres, aku menyiapkan segala perlengkapan kami agar liburan nanti berlangsung cerah ceria seperti senyum si K yang melelehkan hati Emaknya. :D

Persiapan agar liburan ceria setelah roseola menyapa tentu saja harus diperhatikan benar-benar karena si K masih dalam proses penyembuhan. Apa saja yang harus diperhatikan agar liburan ceria bisa dinikmati bersama keluarga meski anak masih piyik?

Pastikan kondisi anak sehat dan memungkinkan untuk bepergian

Poin yang paling penting dari segala poin sebelum bepergan adalah memastikan kondisi anak, apakah anak sudah sehat dan memungkinkan untuk diajak bepergian. Jangan sampai rewel-nya anak membuat perjalanan menjadi kacau-balau karena kita abai memperhatikan kondisi anak.

Saat Abah K menawarkan untuk pulang kampung, aku segera mengecek kondisi si K, apakah suhu badannya sudah stabil? Apakah bintik-bintik karena roseolanya sudah hilang? Apakah si K diare? Setelah memastikan jika semuanya baik dan terkontrol, kami memutuskan untuk pulang kampung.

Perhatikan perkiraan cuaca, jangan memaksa jika cuaca tidak memungkinkan

Saat pulang kampung pertengahan September kemaren, baik di Salatiga maupun di Bojonegoro sedang musim hujan. Kami pun mengira-ngira kapan berangkat ke Bojonegoro,kapan pulang ke Salatiga agar tidak bertemu hujan pada saat perjalanan. Dengan memanfaatkan prakiraan cuaca dari BMKG yang mengabarkan jika diperkiraan hujan turun pada sore hari, kami memutuskan untuk berangkat ke Bojonegoro dan pulang ke Salatiga pada pagi hari.
Perkiraan cuaca ini juga penting untuk menyiapkan perlengkapan si kecil. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah memiliki sistem imun yang lengkap dan kuat, imun si kecil masih lemah dan membutuhkan perlindungan tambahan. Siapkan selimut jika perkiraan cuaca dingin, ac mobil harus dicek jika perkiraan cuaca panas.
Dalam menentukan lokasi liburan ceria pun hendaknya kita juga memperhatikan cuaca. Jangan main ke air terjun saat hujan sedang berlangsung sepanjang hari. Jangan main ke pantai saat gelombang sedang pasang-pasangnya. Pilih tempat wisata yang memungkinkan anak liburan dengan ceria dan aman.

Si K mainan pasir, Kahyangan Api, Si K mainan Kerikil, Waduk Rowo Glandang

Persiapkan keperluan anak dengan rinci, untuk si K, selain baju dan perlengkapan mandi, aku menyiapkan:


1.       Termometer Digital

Termometer menjadi barang yang wajib dibawa ketika melakukan perjalanan panjang karena pengukuran suhu dengan menggunakan punggung tangan tidak efektif.

2.       Paracetamol

Untuk berjaga-jaga atas kondisi tak terduga aku juga menyiapkan paracetamol sebagai senjata pertolongan pertama pada demam. Anak kecil sangat rawan terkena demam. Jangan sampai mengalami anak kejang karena suhu terlampau tinggi dan terlambat memberi paracetamol karena tidak memasukkan paracetamol dalam perlengkapan liburan seperti yang dialami oleh seorang sahabat, sehingga anaknya harus dirujuk ke UGD.

3.       Mainan si K, aku menyediakan 3 mainan kesukaan si K untuk dibawa liburan.

4.      Makanan Pendamping ASI, aku menyediakan buah-buahan di dalam wadah tertutup untuk makanan selama di perjalanan.

Minimalisir barang bawaan, jika tidak memungkinkan jangan memaksakan diri membawa oleh-oleh

Abahnya si K sangat jarang merepotkan diri untuk membawa oleh-oleh. Bagi Abah K, perjalanan liburan jauh lebih menyenangkan jika barang bawaan sedikit mungkin. Kamil ebih memilih untuk memaketkan makanan atau oleh-oleh khas Salatiga daripada harus merepotkan diri membawa oleh-oleh. Seringkali setelah menikmati liburan ceria, kami sengaja ke pasar membeli seuatu untuk keluarga dan tetangga. Mhuahahaha, buka kartuuu!

Karena si K masih menyusui, Emak wajib makan makanan bergizi dan hepi

Bagi ibu menyusui, wajib  ‘ain menjaga kesehatan dan asupan gizi meski sedang liburan sekalipuan. Jika seenak jidat mengabaikan kesehatan dan asupan gizi, namanya EMAK DZOLIM. Heuheuuu, cem mana liburan kok malah berakhir tepar? Emak mah kudu bin wajib setrooong. Makanya, selama perjalanan pulang kampung sekaligus liburan ceria, aku tetap makan buah, coklat, sayur yang banyak agar asupan ASI si K tetap maksimal dan liburan benar-benar ceria. Eaaak.
Istirahat rutin. Jika perjalanan tergolong lama, biarkan anak merenggangkan sendinya

Mungkin kami tergolong orang tua yang selowww, selama 6 jam perjalanan Salatiga-Bojonegoro, terhitung tiga kali kami istirahat di jalan sekalian mencicipi aneka kuliner dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan utama. Kami sengaja memilih warung makan lesehan agar si K bisa ndlosoran dan bermain dengan ceria. Cara ini efektif untuk mengkondisikanagar si K tidur sepanjang perjalanan. Hahahaha, entah nanti jika si K sudah besar.

Jadikan Liburan Ceria untuk Merangsang Perkembangan Anak

Meski sedang liburan, learn is a must! Sangat sayang untuk melewatkan 1000 HPK si Kecil meski tenga liburan. Si Kecil bisa belajar tentangapapun selama liburan. Si K, selama liburan di kampung sengaja kubebaskan untuk mengeksplor apapun yang ada di sekitarnya. Dari butiran pasir, kerikil hingga tetesan air hujan. Dari beragam binatang ternak hingga teman-teman baru yang dijumpainya.

Meski awalnya si K bengong dengan teman-teman barunya, tetapi lambat laun si K bisa tertawa membaur dengan teman-temannya. Pun dengan butiran pasir dan kerikil, merekalah yang menjadi cherleader bagi si K untuk belajar merangkak dan duduk. Sebab, untuk menikmati butiran pasir si K harus merangkak ketepian karpet, untukbermain dengan kerikil di halaman, si K harus bisa duduk tegak.

Suasana liburan yang ceria, emaknya pun ceria karena tidak memikirkan segambreng gawean rumah sehingga terbawa hepi saat menemani si K bermain. Hal ini membuat si K enjoy untuk mengeksplor kemampuannya. Dan, yiha! Selepas liburan si K sudah bisa merangkak kesana kemari dan duduk tanpa harus dipegangi. Emak mana yang tidak senang jika perkembangan anaknya melaju cepat selepas demam akibat virus roseola?

Tempra Paracetamol, Sahabat Anak Pilihan Emak

Tempra Paracetamol merupakan paracetamol anak yang sudah dipercaya lebih dari 50 tahun. Lama kan, ya, sejak jaman neneknya si K. So, tak heran jika tempra direkomendasikan secara turun menurun sebagai obat penurun demam pada anak. Tempra cepat menurunkan demam dengan bekerja langsung di pusat panas. Khawatir penggunaan paracetamol? Memang, dokter pun berbeda pendapat tentang penggunaan paracetamol ini. Tetapi, sepanjang pengetahuanku, jika suhu badan anak sudah mencapai 38,5 derajad celcius, dokter akan meresepkan paracetamol karena khawatir akan terjadi kejang demam.

Tempra Paracetamol memiliki tiga varian yang bisa dipilih sesuai dengan usia anak, yakni:
  1. Tempra Drops yang diperuntukkan bagi bayi di bawah usia 2 tahun.
  2. Tempra Syrup untuk anak 2-5 tahun.
  3. Tempra forte untuk anak usia 6 tahun ke atas

Disediakan safety dropper dalam Tempra Paracetamol Drops. Safety dropper merupakan pipet yang dilengkapi dengan tutup agar dropper terjaga kebersihannya. Sementara sendok takar yang biasanya tersedia dalam paracetamol syrup, dalam Tempra Paracetamol Syrup dan forte diganti dengan gelas takar yang dilengkapi dengan berbagai macam ukuran mililiter agar pemberian dosis tepat.

Selama penggunaan Tempra Paracetamol sesuai dengan dosis dan aturan penggunaan, insyaAllah, aman. Selain itu, Tempra merupakan paracetamol yang tidak menyebabkan iritasi pada lambung.  Lalu, bagaimana penggunaan dosis yang katanya diukur sesuai dengan berat badan anak? Cem mana ribetnya?

Tenang, Tempra Paracetamol telah menyediakan panduan agar emak-emak seperti kita yang awam ini bisa memberikan dosis dengan tepat. Cukup kunjungi website Tempra dan masukkan berat badan atau umur anak disana. Tempra menyarankan untuk menggunakan berat badan agar dosis lebih tepat. Jika Bunda, Yanda, Kakanda tidak memiliki akses internet yang memungkinkan untuk mengakses website, bisa menggunakan panduan yang telah tertulis dalam kemasan. Bunda, Yanda, Kakanda bisa melihat di video ini bagaimana caranya menentukan dosis Tempra untuk anak.

Tetapi, Bunda, Yanda, Kakanda HARUS berkonsultasi ke dokter jika menjumpai keadaan ini: Terlanjur memberikan dosis yang berlebih pada anak, karena dosis paracetamol yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan hati. Demam anak belum turun sampai 2 hari. Kejadian demam berulang naik-turun dalam dua minggu terakhir atau lebih.

Liburan selesai, saatnya kembali ke rumah dengan semangat yang lebih hire lagi.Bergabunglah dengan fanspage facebook Tempra One Thousand Smile agar Bunda, Yanda dan kakanda terus mendapatkan informasi sekitar si Kecil dan dunianya. See ya next trip!

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan dan Taisho

Referensi:
Lubis, Inke Nadia Diniati. 2011. Penanganan Demam pada Anak. Sari Pediatri (Online Journal)
Kania, Nia. 2007. Penata Laksanaan Demam pada Anak. (Publikasi acara Kejang Pada Anak, Bandung)
Murtagh, John. Patient Information Roseola Infantum. (Online Journal)
BC Centre for Disease Control2009.A Quick Guide to Common Childhood Diseases. (Online Journal)
Www.Taisho.co.id
Www.temprarelief.ca



39 komentar:

  1. Wkwkwk..namanya cantik tapi bikin panik ya? Tapi Emak (dan aku juga), jadi belajar lagi ya..hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan menjudge dari nama pokoknya. Hahaha

      Hapus
  2. Demam salah satu cara tubuh buat memerangi virus jahat, tapi kalau berkelanjutan bikin deg2an, sedia tempra dimana pun bikin rada tenang karena bisa redakan demam anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, iya, Mbak. Lemes emaknya kalo anak demam. :D

      Hapus
  3. Klo punya balita memang harus bawa obat2 ya untuk jaga2 saat perjalanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kalo ada apa-apa biar nggak bingung.

      Hapus
  4. Wah senangnya ya bisa liburan ceria sm anak. Salam kenal mbak 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, mbak ARifah. :)

      Hapus
  5. Wiuhh..detail sekali menulis nyaa..save page dulu..buat pembelajaran nnt ..xixiix...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak diprin trus dilaminating sekalian? :p

      Hapus
  6. hmm.. roseola itu nama penyakit? mirip nama bunga yang dijadikan teh ya? hahaha baiklah abaikan. Sedikit mengutip kata-kata orang tua, anak sakit biasanya mau pinter, tapi kalau anak demam ya selain diselidiki sebabnya harus segera diberikan pertolongan pertama berupa parcet ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak..namanya mirip rosella hihihi..betewe tempra rasa anggur ini pernah bikin anakku bersandiwara dengan pura-pura batuk biar dikasih obat (wkt itu dia belum bisa baca) , setelah aku kasih tau kalo itu obat panas batuknya pun langsung sembuh wkwkwkwk

      Hapus
    2. roseola dan rosella beda tipis, tapi maknanya nggak nyambung sama sekali. :v

      Hapus
  7. Weleeeh, detail bener mak bagi pengalamannya. Anak sakit emang bikin panik ye heheehe. Bisa buat referensi nih kalau jumpa anak demam...

    BalasHapus
  8. Weleeeh, detail bener mak bagi pengalamannya. Anak sakit emang bikin panik ye heheehe. Bisa buat referensi nih kalau jumpa anak demam...

    BalasHapus
  9. Punya anak apalagi yang masih bayi & balita, punya termometer digital itu perlu banget ya, nggak boleh ngandelin telapak tangan aja trus bilang "anget nih anget" hu hu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya, aku pernah panik si K kok suhunya panas kalo pake telapak tanganku, tak tahunya badanku lagi dingin. :D

      Hapus
  10. Demam roseola kupikir sekilas tadi tuh teh rosela hahaha.
    Jangankan anak2, aku demam aja dicatat sm pak bojo hihihi...kalo nggak gt gk bs tau demamnya karna apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiiih, perhatian banget pak bojonya mbak Ning ini. :D

      Hapus
  11. Pertolongan pertama banget ya paracetamol kalo anak demam. Dan aku kenapa ikut lemes 38.5 derajat >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya, Mbak. andalan emak-emak. :D

      Hapus
  12. Wah, aku pikir Roseola tuh nama si dede wakakka ternyata Roseola itu disebabkan oleh virus herpes manusia tipe 6 dan 7.
    Makasih ilmunya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk, namanya canti yang menjebak, Mbak. :v

      Hapus
  13. Cantik-cantik menyebarkan penyakit. Aku penasaran bagaimana awal penyebarannya.

    K itu, meski meski sakit tetap ekspresif, bikin guemez pengen gigit!

    Btw, semua sudah diatur begitu, mom, Kelihatannya gak enak, tapi Allah tahu yang terbaik bagi kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa ditularkan melalui barang yang dipakai penderita, Mam. Baiknya kalo anak lagi sakit roseola nggak didekatkan dengan anak kecil yang lain dulu. Si K ini, mbaknya sempat ketularan. :v

      Iya, Mam. DOanya yaaaa. :*

      Hapus
  14. itu nama demamnya keren juga ya..macam nama bunga..moga sehat2 terus ya si kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, masih ada rubella, keren juga namanya. :p

      Aaamiiin, makasih, Mam. :)

      Hapus
  15. Demam memang bikin emak kebat-kebit yo, mbak.
    Tak pikir roseola ki ya gatel biasa, ternyata malah nggak gatel to. Tak catet mbak.

    BalasHapus
  16. kirain Roeola itu nama bunga yg bisa dibikin teh itu �� ternyata nama penyakit yak ��
    semoga K sehat terus ya ukh..

    BalasHapus
  17. habis roseola terbitlah liburan yaaa. Seneng deh kalau anak sehat waktu liburan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. hahaha, apalagi kalo liburan ke brunei, seneng deh. :p

      Hapus
  18. Jujur mbak saya kadang suka sedih kalau melihat anak kecil sakit karena masih kecil kok sudah merasakan sakit sungguh kasihan tapi dijaman yang modern seperti sekarang semua bisa diatas deh sepertinya.

    BalasHapus
  19. Memang obat obatan adalah hal terpenting saat bepergian apalagi membawa si kecil. bukannya apa-apa, jaga-jaga lebih penting biar ngga panik

    BalasHapus
  20. Wah harus antisipasi dengan adanya si cantik roseola ya...

    BalasHapus
  21. eh, kukira typo, nyebut rosela jadi roseola.
    rosela yang kutahu itu rosela tea
    ternyata penyakit ya >.<

    semoga si K selalu diberikan perlindungan ya kaaak

    BalasHapus
  22. Sebenarnya tak perlu panik ketika anak demam. Demam itu mekanisme pertahanan tubuh. Demam itu baik karena virus mati di suhu tinggi. Jaga saja si kecil dari dehidrasi. Tapi memang si patah hati banget lihat anak sakit. Apa lagi kalau roseola biasanya gejanya radang tenggorokan jadi susah makannya.

    BalasHapus

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.