Senin, 13 Juni 2016

MENCINTAI HUJAN

Leave a Comment

Aku mencintai hujan. Menampung tetes airnya yang berjuta di telapak tangan. Membisikinya dengan salam untuk bapak, agar ia menyampaikan kepadanya yang telah menyatu dengan tanah.

Bapak, lelakiku itu, meninggalkan emak sendirian menghidupi aku dan ketiga adikku. Menjadi seorang yatim bukan hal yang menyenangkan. Setidaknya untukku. Apalagi jika menjelang wisuda seperti ini, rindu kepada bapak akan mengkristal dalam tetes air mata, yang menyatu bersama tetes-tetes hujan.
Aku merindukan bapak. Merindukan bau keringatnya ketika kami berbincang. Merindukan kata-katanya yang menyejukkan. Bayangan bapak selalu indah di mataku.
Aku mencintai hujan. Menampung tetes airnya yang berjuta di telapak tangan. Memandang bulirnya yang bulat lekat-lekat, mengintip kembali kunjungan bapak dalam mimpiku di akhir hidupnya. Mimpi yang menyapaku saat hujan mengguyur deras di kaki Merbabu.
Bapak mencium keningku. Tersenyum dengan senyumnya yang paling indah. Senyum yang dihiasi kumis tipisnya. Bapak memandang mataku lekat-lekat. Tatapan matanya sangat dalam, seolah-olah ia tengah mengukir wajahku dalam bola matanya agar tak ada yang bisa menghapus wajahku di bola matanya yang sebening kaca.
 Bapak kembali mencium keningku, mengelus-elus rambutku. Melangkah menjauh, tanpa meninggalkan seucap kata pun. Bapak pergi, dengan senyumnya. Dengan wajah beningnya. Wajah yang tak ada kesakitan di dalamnya. Bapak  sudah sembuh?
“Bapak...” aku mendesis, memanggilnya lirih.

Tanganku mengambang di udara. Tunggu, bapak jangan curang. Aku ingin melukis wajahmu di hati, agar tak ada seorang pun yang mampu mengotori meski hanya sebutir debu.  Melukis di balik ruas dua belas pasang tulang rusuk yang tersembunyi.

Bapak tetap menjauh dengan langkahnya yang tegap. Sarung hijau kebanggaannya melambai-lambai tertiup angin. Bapak, bapak bisa melangkah tegap?
“Nur...” sebuah suara memanggilku. Bukan, bukan suara bapak. Bapak akan memanggilku dengan panggilan khusus untukku; Nduk... Aku mengerjap-ngerjapkan mata. Mencari sumber suara.
“Mimpi...” aku bergumam setelah melihat Siti duduk di hadapanku sembari mengelus tanganku dengan pandangan heran. Ternyata aku tertidur dengan mukena yang masih terpasang. Aku ingat, tadi aku ketiduran selepas shubuh. Sesuatu yang selama ini pantang kulakukan.
Aku melempar mata ke luar, hujan tengah turun dengan derasnya. Jika hujan begini, bapak akan mengajakku berbincang sembari merapal doa-doa.
Ah, bapak. Kenapa semua menghadirkan bapak.  Aku masih merasakan dengan kedatangannya dalam mimpi. Kecupannya di kening terasa sangat nyata. Usapan tangannya yang kasar masih tertinggal di pipi.
“Bapak...”
Kenapa bapak memandangku lekat-lekat dalam mimpi? Kenapa? Seolah-olah tak akan berjumpa lagi. Bapak apa kabarnya di rumah?
“Nur, mimpi?” tangan Siti menyentuh bahuku.
Aku memandang matanya, mengangguk. Mataku basah. Aku memeluk Siti, menumpahkan tangis di pundaknya. “Bapak, kenapa aku mimpi bapak seperti itu...”
“Mungkin bapak kangen kamu, Nur.”
Aku menangis sesunggukan. Aku juga kangen bapak...
“Aku ingin pulang, ketemu bapak...”
Siti menggeleng, “Telepon saja, Nur, KKN kita belum selesai. Lagian jauh, hujan...”
Aku meninggalkan bapak untuk KKN. Kanker getah bening menggerogoti badannya. Jika bukan karena KKN, aku tak akan meninggalkan bapak, tidak, tidak akan....
Aku memeluk bapak selepas mengganti kemejanya. Wajahnya terlihat lebih pucat, matanya sayu. Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin memeluk bapak. Wo Jah yang saat itu sedang menengok bapak, ikut menghambur memeluk bapak; adik angkat satu-satunya. Seolah-olah itu terakhir kali bapak bisa memelukku.
“Nur...” Siti kembali menegurku, menyentakku dari lamunan tentang bapak. “Nggak baik mikir yang nggak-nggak. Doakan bapak.”
Aku mengangguk. Mengusap air mata dengan kasar. Bertekad ke kampung sebelah secepatnya untuk menelepon bapak. Di kampung tempat aku KKN tak ada sinyal. Di luar, teman-teman KKN tengah mempersiapkan karnaval TPA. Siti mengajakku bergabung. Aku bangkit setelah merapikan mukena. Memakai jilbab yang tersampir di dipan dengan kilat. Kesibukan menundaku untuk menelepon orang rumah.
“Nur, yang sabar, ya...” Adi, ketua kelompok KKN menegurku saat aku keluar kembali dari mengambil karton di kamar.
Aku memandang seisi ruangan, teman-teman memandangku dengan mata berkaca-kaca. “Ada tamu, rombongan dosen. Kamu kesanalah, Nur. ”
Dadaku berdesir. Teringat mimpiku setelah shubuh tadi. Ada apa dengan bapak? sendi lututku lemas, aku buru-buru duduk, menundukkan kepala dalam-dalam. Jangan, jangan itu. Aku mengusir bayangan berita yang tak mengenakkan.
“Nur, “ pak Wido memanggilku, aku mendongak. “tadi kami sedang nengok kelompok KKN di kampung sebelah, ketemu saudaramu.”
Aku menahan nafas. Di kampung ini tak ada sinyal, hanya kampung sebelah yang ada sinyal telepon, “katanya, ada telepon dari rumah, minta disampaikan jika bapak...”
Air mataku tumpah seketika, aku tak tahu apa kelanjutan kata-kata pak Wido. Tiba-tiba Siti memelukku. Mengelus-elus punggungku. Bapak yang menatap mataku dalam-dalam...
“Nur, mau pulang?”
Aku mengangguk. Menarik nafas dalam-dalam. Menghapus air mata dengan kasar. Aku harus kuat, agar bisa ketemu bapak...
Aku pulang ditemani Adi. Sepanjang perjalanan aku menumpahkan sesak dengan membaca yaasin seperti yang diajarkan bapak jika menerima berita kematian. Hujan membasahi kaca-kaca bis. Hujan, aku merapalkan doa-doa untuk bapak. Bapak yang tak pernah mengeluh jika hujan tiba.
“Nduk, hujan itu rahmat Allah, “ aku teringat ketika menemani bapak menikmati hujan di teras depan rumah, “hujan itu patuh dengan titah Gusti Allah. Saatnya menguap ya menguap, saatnya menyirami ya turun.”

Aku kecil menampung percikan air hujan dengan telapak tangan, bapak memandangku dengan tersenyum. “Hujan nggak pernah nuntut balasan dari apa-apa yang disirami. Begitu turun dia akan merembes, gabung dengan yang lain untuk berbagi dengan makhluk-makhluk lain yang butuh, termasuk manusia. Nanti jika saatnya tiba, hujan akan menguap lagi. Begitu terus. Nggak pernah nuntut balasan. Nggak pernah berhenti bergerak.”

“Kayak bapak, ya?” aku tertawa sambil memercikkan air hujan ke arah bapak.
Bapak mengelak, tertawa sampai badannya bergoncang, “Hahaha, nanti, Nduk. Jangan jadi air kubangan yang jadi sumber penyakit.  Terus bergerak, ikuti titahnya Gusti Allah. Kayak hujan. ”
Mata bapak memandang air hujan yang tumpah dengan penuh kekaguman, seolah hujan adalah kekasih yang lama dinantikan. Bibir berkumis itu komat-kamit. Aku mengamatinya lekat-lekat.
“Bapak, baca apa?”
Bapak menoleh ke arahku yang masih asik memainkan bulir-bulir hujan. “Baca doa, Nduk.”
Aku mengkerutkan kening. Bapak tertawa menggeleng-gelengkan kepala melihat reaksiku.
“Anak bapak ternyata belum pinter,” bapak mengolokku.
“Eeh, Bapak sembarangan!” aku menyolot, memercikkan air hujan ke arah bapak dengan lebih ganas.
“Hujan ini, Nduk, mengaminkan doa-doa kita. Alam takluk. Hujan dzikir sama Gusti Alloh. “ mata bapak menyisiri pemandangan di sekitar rumah, aku mengikuti arah pandangan bapak.

“Lihat itu, Nduk. Papringan goyang-goyang, ikut irama hujan. Ikut dzikir. “

Aku melihat ke arah depan, di belakang rumah gedhek yang hampir rubuh. Serumpun bambu bergoyang-goyang, damai. Mataku mengitari sekitar, menemukan pohon-pohon lain bergoyang, melakukan hal yang sama, bergoyang-goyang. Tenang. Aku memejamkan mata, menikmati irama hujan dan semilir angin yang memainkan anak rambutku.
“Kamu tahu, Nduk? Kenapa saat hujan hati jadi adem? Tidur jadi enak? “
Aku membuka mata, menggeleng.
“Karena saat hujan alam ikut dzikir. Doa mustajab saat pikiran tenang, hati lapang. Itulah kenapa, saat hujan doa mustajab. Karena alam tenang, adem, Nduk....”
Tiba-tiba ada seorang lelaki tambun tetangga sebelah yang lari menerjang hujan, “Kehujanan, Kang?” bapak berteriak.
“Iya, sial bener hujan turun.” Sahutnya tak kalah berteriak.
“Emangnya kenapa, Lek?” aku bertanya lantang.
“Meh blonjo udan. Becek semua jalannya. Nggak bisa jualan aku hari ini.” Suaranya timbul tenggelam di tengah suara hujan.
“Iki lho, Pak. Goro-goro udan kumbahan ra ono sing garing. Anak’e sesuk sekolah meh nganggo opo? Sragame teles kabeh. “ istrinya menyahut ketika lelaki tambun itu sampai di teras.
Bapak hanya tersenyum menggeleng-geleng. Aku melongo mendapati sumpah serapah.
“Nduk, orang yang suka ngumpat hujan itu nggak tahu jika hujan itu rahmat Gusti Allah. Saat-saat doa terijabah.” Bapak menyeruput teh manis yang dihidangkan emak. “Coba kalau hujan nggak turun, kebayang gimana repotnya.”
Aku menggaruk-garuk kepala, “Iya, capek.”
Aku pernah membantu bapak menyirami bayam saat musim kemarau. Bolak-balik mengusung dirigen berisi air. Repot. Pegal.
“Nduk ingat saat merapi meletus?”
Aku mengangguk lekas-lekas. “Saat itu gusti Allah nurunin hujan tiap hari, biar abunya nggak begitu bahaya. Waktu kita kesana cuaca lagi panas, gimana coba?”
Aku menggeleng, nggak ingat.
“Saat itu nafas jadi sesak. Pasirnya pada beterbangan. Nduk lihat polisi yang nyiramin jalan dengan air dari selang berulang kali?”
Aku mengangguk dengan ekspresi datar.
“Polisi baru nyiramin ke depan, nggak ada lima meter di belakangnya udah kering lagi tuh tumpukan pasirnya. Terbang lagi. Kalau nggak hujan berhari-hari?”
“Yang merasa dirugikan karena hujan itu karena nggak paham seni hidup. Jika hujan, mau belanja bawa mantol. Jika hujan nyuci harus jauh-jauh hari.” Bapak melirik kepadaku yang tertawa terbahak-bahak sembari melirik ke tetangga sebelah, “hush, ra ilok ngono kuwi. Pas hujan, sambil motoran atau jalan kaki, ngrapal doa, dzikir, sholawatan. Nikmat’e, Nduk. Subhanallah...”
Hujan. Bapak selalu saja riang ketika hujan turun. Menyempatkan berbincang sebelum tidur. Bercengkerama sembari menikmati ketela rebus. Menyampaikan petuah-petuah saat alam mendukung hati menjadi lapang.
 Kepergian bapak pun diiringi hujan. Tetes-tetes air mengaminkan doa-doa kerabat yang ditinggalkan. Seolah bapak ingin menghadirkan dirinya pada bulir-bulir hujan, agar kami yang merinduinya bisa terobati dengan menikmati hujan. Hujan yang mengirimkan kesejukan bagi kami yang kehilangan.

Hujan. Aku mencintai hujan. Menampung tetes airnya yang berjuta di telapak tangan. Aku menutup buku bersampul hijau yang membincang tentang hujan. Hujan tenang yang iramanya membuat otak berada pada kondisi alfa. Kondisi dimana doa-doa begitu mustajab, energi ikhlas mencapai titik puncaknya. Aku menarik nafas dalam-dalam, mengenang bapak.  Hujan bagiku adalah pengganti sapaan bapak. “Sebab, bulir hujan menyimpan rahmat Allah, Nduk...”


Dedicated for: ayah Abidin di pulau seberang, lapang kuburmu, ayah.

0 Komentar Anda:

Posting Komentar

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.