Posts

Showing posts from June, 2016

Romantika tanpa Kata

Image
Tulisan ini diikutsertakan dalam mini giveaway pengalaman yang menyentuh dalam rumah tangga yang diadakan oleh Riawani Elyta.
Tapi aku belum bisa membaca bibirnya Sms Asma membuat Zahra merinding. Ini kesekian kalinya Asma bercerita tentang seorang laki-laki. Zahra berfikir keras bagaimana caranya membalas sms Asma. Ia tahu, Asma begitu selektif memilih seorang laki-laki untuk menjadi pendamping hidupnya. “Zahra, ada yang mau… emm… ngajak kenalan!” pipi dan hidung Asma memerah. Zahra tertawa, meledek, “Cu-ma nga-jak ke-na-lan, ka-mu sam-pai ka-yak ke-pi-ting re-bus be-gi-tu?” Asma cemberut setelah menerjemahkan bibir Zahra dengan susah payah, “Kamu sih, ngomongnya jangan sambil ketawa. Susah nangkepnya, nih.” Zahra masih sibuk menghentikan tawanya, menarik nafas panjang, lantas menghembuskan pelan-pelan. Zahra mencolek jempol tangan kanannya ke bawah dagu secara berulang, matanya menggoda Asma. Mempraktikkan bahasa isyarat, Siapa… siapa? “Emm, seseorang…” Asma menggaruk-garuk jilbab ungunya…

Dampak Negatif Bermain Video Game

Era digital, dimana-mana akrab dengan video game. Saat awal-awal memasang Fiber Optic Indihome dulu, kami sengaja mensetting terbuka dengan harapan dimanfaatkan dengan baik oleh tetangga sekitar. Tetapi, ampun, anak-anak berbondong dengan mengendap-endap di rumah sebelah untuk mengakses video game hingga lupa waktu. Maka, kami pun mengubah setting menjadi rahasia hingga aku siap untuk menggunakan akses internet yang bermanfaat bagi anak-anak dengan berbagai program.  Dus, saat membongkar file kuliah, aku menemukan tugas terkait dampak buruk video game, Sebetulnya, apa saja dampak negatif bermain video game? Ini dia dikutip dari SymptomFind. a.Kurang tidur Anak sudah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar di sekolah dan beraktivitas. Namun, mereka ingin tetap bermain video game. Sehingga, banyak anak mengorbankan waktu berharga mereka untuk tidur dan menggunakannya untuk bermain video game. Pecandu video game yang kurang tidur maka dapat membahayakan kesehatannya. b.Hidup kotor K…

Rian Lutfi: Blogger Lebay yang Nggak Bikin Eneg

Image
Ada yang bisa mengalahkan cowok ganteng. Ganteng saja nggak cukup. Tahu, apa? Cowok yang humoris. (Qaala Abahnya Kevin pada suatu masa PDKT :p)
 Humoris? Bisa ditebak, tipikal orang yang humoris temannya banyak. Moodboster ketika jenuh melanda. Pemecah suasana sepi menjadi riuh redam. Memaksa orang nyengir nahan geli lantaran melihat ulahnya yang Out Of Topic, padahal sedang gundah gulana. Membuat tipikal serius garuk-garuk kepala sembari membatin, "Elu waras?"

Seperti itulah sosok Rian Rosita Lutfi yang bisa ditangkap dari tulisan blognya. Laiknya kompor mledug yang super lebay, memang. Tetapi lebaynya nggak bikin eneg. Tulisannya n994k 31k1n 54k1t m4t4. Apa cobak bacanya? Les dulu sama anak alay sana. Eh.

Berbeda dengan kebanyakan orang yang ketika nulis tentang keapesan bikin pembaca ketularan sebal dan gondok, blogger pegawai keuangan ini menyulap keapesan yang dialaminya menjadi lelucon yang memaksa sesiapapun yang membaca untuk tertawa. Termasuk aku yang tengah ngepo-i…

Menjadi Anggota Perpustakaan yang Bijak

Perpustakaan dengan koleksi ribuan buku, bahkan ratusan ribu tentu membutuhkan penataan yang optimal agar pengguna perpustakaan bisa menemukan buku yang dikehendaki dengan mudah. Sayangnya, ketika pustakawan sudah maksimal memanajemen perpustakaan, justru pengguna perpustakaan yang kurang mengapresiasi kinerja pustakawan. Sering kita menjumpai pengguna perpustakaan yang seenak sendiri menaruh buku-buku yang telah ditata sedemikian rupa oleh pustakawan. Mengabaikan susunan kode yang telah dicantumkan untuk memudahkan pencarian. Jika sudah begini, mesin pencari yang sering disebut dengan OPAC tidak banyak membantu. Katalog-katalog yang telah disusun hanya menjadi formalitas belaka. Akibatnya pencarian buku semakin sulit. Sangat tidak praktis jika harus meneliti rak demi rak untuk menemukan buku yang diinginkan. Mengunjungi perpustakaan menjadi hal yang sangat menyebalkan. Perpustakaan tak ubahnya gudang penyimpanan buku, kalah dengan supermarket yang menata barang-barangnya sedemikian ru…

MENCINTAI HUJAN

Image
Aku mencintai hujan. Menampung tetes airnya yang berjuta di telapak tangan. Membisikinya dengan salam untuk bapak, agar ia menyampaikan kepadanya yang telah menyatu dengan tanah.Bapak, lelakiku itu, meninggalkan emak sendirian menghidupi aku dan ketiga adikku. Menjadi seorang yatim bukan hal yang menyenangkan. Setidaknya untukku. Apalagi jika menjelang wisuda seperti ini, rindu kepada bapak akan mengkristal dalam tetes air mata, yang menyatu bersama tetes-tetes hujan. Aku merindukan bapak. Merindukan bau keringatnya ketika kami berbincang. Merindukan kata-katanya yang menyejukkan. Bayangan bapak selalu indah di mataku. Aku mencintai hujan. Menampung tetes airnya yang berjuta di telapak tangan. Memandang bulirnya yang bulat lekat-lekat, mengintip kembali kunjungan bapak dalam mimpiku di akhir hidupnya. Mimpi yang menyapaku saat hujan mengguyur deras di kaki Merbabu. Bapak mencium keningku. Tersenyum dengan senyumnya yang paling indah. Senyum yang dihiasi kumis tipisnya. Bapak memandang m…

Menjadi Konselor Keren untuk Anak SD/ MI

Anak SD/ Mi memiliki kondisi psikis yang berbeda dengan anak usia SMP, SMA apalagi setingkat mahasiswa. Kondisi psikososial anak SD/ MI, menurut Erick Erikson, masih berada dalam masa laten. Anak usia Sd atau MI masih belajar bagaimana cara membina hubungan dengan orang lain. Mereka belum mampu menjalani hubungan profesional antara konseli dan konselor layaknya layanan bimbingan konseling pada umumnya. Mereka masih belajar bagaimana membina hubungan dengan teman sebaya. Oleh karena itu dibutuhkan keahlian khusus untuk menjadi konselor bagi anak SD/ MI. Menurut Erick Erikson, pada masa laten, anak menyadari kebutuhannya untuk mendapat  tempat dalam kelompok seumurnya. Anak akan berusaha untuk mencapai tempat itu, namun di lain pihak, orang dewasa masih menganggap bahwa anak pada usia 6-11 tahun sebagai anak kecil. Ketidakpercayaan orang dewasa terhadap anak usia ini dapat menimbulkan perasaan rendah diri yang bisa menghambat perkembangan psikososial anak. Sebaliknya, jika anak merasa ma…