Posts

Showing posts from April, 2016

Ibu Rumah Tangga Melek SNI: Pilar Sukses Mewujudkan Konsumen Cerdas

Image
Ibu adalah penggerak konsumsi dalam keluarga. Survey yang dilakukan pada 23-26 April pada Ibu Rumah Tangga yang tersebar di wilayah Indonesia, memperlihatkan bahwa 84 % penggerak konsumsi keluarga diatur oleh istri. Hanya 16 % yang menjawab jika penggerak konsumsi keluarga ada di tangan suami.[1] Begitu sentralnya posisi Ibu Rumah Tangga dalam mengatur konsumsi keluarga, di era MEA yang bebas, menjadi Ibu Rumah Tangga yang cerdas tidak bisa diremehkan lagi. Tentu saja, setiap Ibu Rumah Tangga berusaha untuk memilih barang yang terbaik bagi keluarganya, bukan? Tidak ada Ibu Rumah Tangga yang menginginkan keluarganya tertimpa sesuatu yang tidak mengenakkan akibat kelalaiannya dalam memilih sebuah barang/ jasa. Perilaku konsumsi Ibu Rumah Tangga dalam memilih barang masih perlu ditinjau kembali. Seluruh Ibu Rumah Tangga mengakui jika label SNI suatu produk penting, tetapi hanya satu orang, atau 5 % dari keseluruhan responden yang memperhatikan label SNI pada saat pembelian produk barang el…

Pelangi di Awal Sya’ban

Foto pelangi yang menampakkan diri di langit Salatiga membuatku terkesiap. Foto yang diupload oleh seorang tetangga kampung sukses membuatku berlarian keluar rumah. Nihil, langit sudah kembali abu, tak ada pendar pelangi sedikitpun. Aku menarik nafas dalam-dalam. Pagi itu aku tak menyaksikan pelangi meski hanya sekejap. Tidak. Saat aku bertanya kapan dia mengambil foto pelangi, aku kembali beristighfar, waktunya tak berselang lama ketika aku keluar rumah. Aku ingat, saat aku berlari ke kamar mandi, langit pagi menampakkan jingga yang tak biasa. Robbuna, ini yang kedua kalinya. Beberapa hari yang lalu aku mengalami kekecewaan yang sama saat mbak Kuni mengupload foto pelangi. Padahal belakangan ini aku selalu keluar rumah ketika hujan turun dan matahari bersinar. Aku mengamati hari, melihat pertanda alam, kalau-kalau pelangi muncul. Cantik, sekejap, tetapi maknanya selalu terbawa dalam hatiku. Aku tak ingat sejak kapan aku mengagumi pelangi. Menantinya saat musim hujan tiba. Membincangnya …

Arinta Adiningtyas; Being Full Time Mother at Home, Why Not?

Image
Emak-emak selalu saja identik dengan daster dan seabrek gawean yang nggak kelar-kelar. Apalagi jika punya batita, pagi bau ompol, siang bau bawang, mandi sore lima menit udah bau ompol lagi. Percayalah, dibalik anak-anak yang lucu nggemesin ada emak-emak rempong yang rela makan sembari nggendong batita yang tengah buang angin. Padahal pada saat masih gadis, sekedar  melihat kotoran ayam saja sidah jijai nggak mau melanjutkan ritual makan. Berbeda dengan Ibu pekerja, ritme full time mother berputar pada hal-hal itu saja, nyaris tak ada perubahan berarti. Jika full time mother tidak kreatif dalam memanage waktu dan kegiatannya, full time mother rentang terserang mati bosan, begitu emak-emak alay bilang. tetapi hal tersebut tidak terjadi pada Arinta Adiningtyas, Ibu Rumah Tangga yang rela melepas profesinya sebagai guru TK demi ikut suaminya. Istri penyayang, mana bisa pisah lama dengan sang suami? Ehm. Selain mengisi hari-harinya dengan seabreg aktivitas seperti laiknya emak-emak, Ari…

Pak Soleh

Perawakannya kurus tinggi. Rambutnya acak-acakan. Gurat tirus sangat kentara di wajahnya. Bajunya kumal dengan warna kusam, entah berapa lama baju itu melekat di badannya tanpa dicuci. Sepasang alis tebal bertengger di atas matanya. Ia melangkah mantap tanpa alas kaki meski sedikit bungkuk. Ada sisa-sisa ketegapannya di masa muda. Aku memanggilnya pak Soleh, kakak mbah Putri yang dikenal orang sebagai orang yang tak lagi waras. Dulu aku menganggapnya orang gila. Aku selalu memegang lengan bapak erat-erat ketika memasuki rumahnya yang pengap saat lebaran tiba. Rumah yang terlihat paling kumuh di Gentungan, sebuah dusun di Setandan pisang tersedia di pinggiran. Gelap, sesekali aku terbatuk-batuk tak tahan dengan asap yang mengepul dari pawon. Tak ada listrik di rumahnya, hanya satu senthir yang berhasil kutemukan menggantung di cagak. Rumah gedhek tanpa cat, tanpa paku. Rumah yang ia bangun seorang diri dengan bahan yang ada di sekitarnya. Ia tak mengenal paku, aku melihatnya seperti ora…

Katamu Aku Tuli

Katamu aku tuli, tetapi kenapa masih saja kamu menggertakku kala aku tak mampu menangkap katakatamu? harusnya, kamu maklum. Biarlah, dia tuli. Bukan begitu?

Katakata itu kembali terngiang. babakbabak yang membuat saya betah menangis lama kembali berputar di otak dengan sangat jelasnya kala saya mengikuti pelatihan kader PAUD hari kedua.Ya! babak yang menyadarkan saya bahwa saya tidak sama dengan teman-teman saya, membuat saya harus mengangguk kala Bu Enjang menjelaskan tentang CAP atau LABEL.Bahwa CAP atau LABEL yang ditujukan kepada kita saat kecil akan melekat kuat dalam otak. bahwa sakit akibat kata akan bertahan lebih lama daripada sakit akibat kekerasan fisik.

Saya tidak membual. saya tak lagi merasakan tamparan guru matematika saya saat SMP. Bahkan saya tak ingat lagi di mana cubitan ibu saat saya ngamuk gulingguling di lantai.Tetapi, katakata itu sangat melekat di hati saya, bahkan saya ingat detil kejadiannya. Padahal waktu itu saya masih duduk di TK NOL kecil, sekitar 4 tahu…

Elisa Karamoy; Pentingnya 1000 HPK si Kecil

Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) si kecil merupakan salah satu fase perkembangan yang tidak boleh dilewatkan oleh orang tua. Pada 1000 HPK, si kecil berada dalam usia Golden Age yang tidak akan terulang pada usia selanjutnya. Asupan nutrisi yang cukup serta stimulus yang diberikan kepada anak menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan oleh orang tua agar kemampuan si kecil pada 1000 HPK berkembang maksimal. Elisa Karamoy, blogger 3 anak, menuturkan jika stimulus sangat penting peranannya pada perkembangan 1000 HPK si kecil. Ibu Rumah Tangga yang memutuskan untuk menjadi full IRT pada saat kehamilan kedua menuliskan pengalamannya di blog pribadi tentang anak pertamanya yang belum mampu berbicara dan berjalan pada usia 18 bulan akibat kurangnya stimulus.

Di samping nutrisi yang cukup, ujar blogger yang berdomisili di Tangerang ini, si kecil juga memerlukan stimulus, rangsangan dari luar, untuk meningkatkan perkembangannya. Sebagai Ibu dari anak yang pernah mengalami ket…