Kamis, 17 Maret 2016

Mengenang Perjalanan Emak Deaf

1

Hidayah-Nya tidak tergantung pada sempurnanya telinga. Betapa banyak orang yang mendengar, tetapi sejatinya ia Ditulikan. 
Terlahir sebagai penyandang tuna rungu parsial, gangguan pendengaran yang masih bisa mendengar suara dengan ambang batas pendengaran pada telinga kanan 75 dB dan telinga kiri 87.5 dB, menyimpan kisah tersendiri. Dua puluh empat tahun hidup di dunia, jika dihitung dari ingatan terjauh tentang peristiwa tidak mengenakkan karena tidak bisa mendengar, maka aku sudah hidup dua puluh tahun dalam keadaan seperti ini.
Grafik Ambang Batas Pendengaran
Seorang nenek melambaikan tangan dari halaman rumah, mulutnya menceracau tak karuan ke arahku, mengisyaratkan agar segera menepi. Kaki mungilku panik berlari ke tepi jalan arah kanan sembari menoleh ke belakang, sebuah truk berwarna merah tengah berhenti.

Nenek itu kembali menceracau, "Ooo, dasar budheg!" 

Kilas kejadian dua puluh tahun lalu saat aku masih berseragam pink adalah ingatan terjauh yang masih terekam. Dua kata dari nenek saat aku tidak menepi meski diklakson berkali-kali oleh truk merah itulah yang membuatku sadar jika aku berbeda.
...

Sekolah Umum

Bapak dan Ibu tidak pernah sekalipun memberi kesempatan kepadaku untuk menapaki sekolah luar biasa. Semenjak TK aku menghabiskan hari-hariku di sekolah umum. Menjalani berbagai kegiatan akademik sebagaimana teman-teman yang mempunyai pendengaran normal. Bully-an budheg sudah menjadi makanan sehari-hari. Aku terbiasa diejek dan diremehkan. Untungnya, aku dipertemukan dengan guru-guru hebat yang mampu menempatkan aku sebagaimana mestinya; privat dan penempatan duduk di bangku paling depan.

Aku menghabiskan usia TK di TK PGRI dan usia SD di SD Noborejo 01 yang masih berada dalam satu komplek. Saat TK dan SD, orang tuaku berperan penuh dalam melobi guru-guru tentang keistimewaan yang kusandang, sehingga akademikku berkembang maksimal dan tidak ada masalah serius yang mengakibatkan aku tertekan. Paling-paling bully-an teman sebaya yang seringkali memanggil-manggil namaku untuk mengetes pendengaranku yang menjadi bahan tertawaan satu kelas.

Masalah datang saat menginjak SMP. Atas dorongan orang-orang, dengan dalih eman terhadap nilai ujian yang berhasil menyabet peringkat tertinggi, keluarga memutuskan untuk mendaftarkan aku di SMP favorit Salatiga; SMP N 1 Salatiga. Lokasi sekolah yang jauh dari rumah, serta anggapan bapak bahwa sudah tiba saatnya aku belajar mandiri, aku harus menjelaskan tentang keistimewaanku seorang diri. Sulit, tentu saja. Muncul perasaan ketakutan jika tidak diterima di lingkungan. Aku memilih diam saja saat masa orientasi.

Kediamanku bermetamorfosis menjadi bumerang. Teman-teman menganggapku orang aneh yang nggak nyambungan. Guruku tidak memperlakukanku dengan perlakuan khusus, aku tidak faham sama sekali pelajaran yang disampaikan. Serasa menjadi orang tolol, bengong sendirian saat pelajaran berlangsung.

Menghadapi situasi yang super eneg ini, aku memutuskan untuk curhat ke Dyah Septyaningrum dan Sabilla Frida Yulia, teman sebangkuku, tentang keadaan telingaku. Keputusan diambil, aku harus mencari surat keterangan dokter untuk menjelaskan tentang kedaanku kepada walikelas. Teman sebangku yang menjadi sahabatku hingga kini, membantu menjelaskan tentang keadaanku kepada teman-teman dan guru pengampu mata pelajaran.

Masa-masa SMP kulewati dengan berbagai kisah, baik suka maupun duka. Guru-guruku cukup bijak, aku memperoleh keringanan pada segala macam ujian mendengar. Pada saat kelas VIII dan IX, aku mengalami misskomunikasi dengan guru Matematika. Keduanya terkenal sebagai guru paling galak di sekolah. Masalahnya pun cukup klasik, aku tidak menyampaikan jika aku adalah penyandang tunarungu parsial yang membutuhkan contekan teman ketika ada soal atau catatan yang didikte. Overall, itu salahku sendiri. Tetapi ini tidak menjadi soal, tamparan kedua guru Matematika tersebut berujung manis setelah beliau kujelaskan tentang keistimewaanku; aku menjadi murid favorit dan mendapat perhatian khusus. Kebetulan passionku ada di Matematika. Hahahaha.

Perjalanan studi di SMP ditutup dengan manis. Aku pun melanjutkan ke SMA N 1 Salatiga. Di titik inilah masa-masa kritis kujalani. Aku tertekan dengan listening. Setiap dua minggu sekali guru bahasa Inggris melatih siswa untuk ujian listening sebagai persiapan TOEFL dan Ujian Nasional. Kadar stress memuncak, aku tidak bisa fokus dan berakibat pada anjloknya nilai akademik.

Menginjak kelas XII, aku mengajukan dispensasi ujian listening kepada guru bahasa Inggris untuk kemudian diteruskan kepada kepala sekolah. Tetapi, saat sampai ke Dinas Pendidikan Kota Salatiga, pengajuan dispensasi ini ditolak. Aku menyerah, membiarkan lima belas soal listening sia-sia. Hiks.

Menulis menjadi pelarian dari perasaan tertekan yang mengungkung. Masa-masa SMA inilah aku mulai mengungkapkan segala hal dengan menulis. Bahkan, saat sibuk-sibuknya persiapan UN aku malah menyibukkan diri mengikuti lomba-lomba menulis. Heuuuuu.
....

Menapaki Bangku Kuliah

"Di STAIN saja, Nduk." Ibu menyuruhku untuk mendaftar di STAIN Salatiga saja saat aku meminta ijin mendaftar ke UNS Surakarta.
"Ah, kesana langsung diterima kali, Bu. Masa lulusan SMA 1 ke STAIN?"
Ibu pun tepaksa mengijinkan aku mendaftar ke perguruan tinggi yang kucita-citakan.
Rupanya Robbuna tengah Menegurku yang kelewat sombong. Tidak ada satu pun perguruan tinggi yang memasukkan namaku ke dalam daftar calon mahasiswa yang diterima. Aku berada di dalam titik paling kritis. Memutuskan untuk rehat dari pencarian dan berdiam diri di rumah.
Satu tahun tanpa aktivitas berarti membuatku stuck. Kondisi psikisku semakin kacau. Stress karena tidak ada kegiatan yang berarti.
Sementara, aku tidak punya nyali untuk melamar pekerjaan karena pesimis ada yang legowo menerima karyawan dengan gangguan pendengaran sepertiku.
Setahun menganggur, aku pun memuutuskan untuk mendaftar kuliah di STAIN Salatiga sesuai dengan anjuran Ibu. Tebakanku tak melenceng, orang-orang menyayangkan lulusan SMA 1 Salatiga yang melanjutkan ke STAIN Salatiga, termasuk dosen yang mengajar di STAIN Salatiga.

"Lha, kamu kok kesini? Nyasar?"

Well, aku memutuskan untuk mengabaikan komentar dan berbenah diri. Menetapkan peta kehidupan impian yang ingin kujalani. Membuat beberapa target pencapaian dan menulikan diri dari komentar negatif orang-orang.
Outbond Rumah Pelangi (atas) dan Launcing Buku Mahkota untuk Emak (tengah dan bawah)

  • Rumah Pelangi

Aku menata kembali mimpi yang sempat terhenti saat aku mengalami kondisi psikis yang kacau. Mengumpulkan adik-adik tetangga di rumah untuk belajar dan bermain bersama. Kami menghabiskan ba'da maghrib untuk mengaji dan belajar bersama. Sore untuk membaca berbagai buku bacaan yang menjadi koleksi perpustakaan pribadiku. Hari libur pun kadangkala kami habiskan bersama dengan melakukan kegiatan baru; mengunjungi suatu tempat, mencoba kerajinan tangan, bahkan mencoba resep kue baru yang seringkali gagal tetapi tetap ludes dimakan bersama. 
Aku harus membagi waktuku untuk adik-adik Rumah Pelangi dan kesibukan kuliah, pun kegiatan organisasi yang lain. Tanpa mereka sadari, adik-adik tdi Rumah Pelangi telah melatihku untuk 'membaca' berbagai gaya mulut saat berbicara yang sangat membantuku saat bersosialisasi di luar.

  • Mahkota untuk Emak

Mahkota itu, apakah bisa kusampirkan di atas kepalamu, Emak? Sementara abah Muh mengharuskanku melafadzkan huruf demi huruf dengan sempurna sebelum aku menghafalkan surat cinta Robbuna.
Buku yang di-launching awal Maret 2012 silam adalah representasi kegalauaku lantaran merasa tidak mampu membuat ibu bangga. Keadaan yang berbeda dengan orang lain seringkali membuat sisi melankolisku muncul ke permukaan. Siapa yang tidak galau saat menyadari jika kita membutuhkan pengorbanan yang lebih daripada orang lain, sementara tidak ada hal spesial yang bisa menggantikan pengorbanan itu?
Sejak kecil, aku membutuhkan perhatian spesial, dari pengobatan berulang-ulang yang belum berjodoh dengan kesembuhan sampai sekarang hingga perlakuan spesial dalam akademik maupun sosial. Hal inilah yang menjadi pemicu semangat untuk menulis buku Mahkota untuk Emak, selain menjadi persembahan khusus untuk Ibu juga sebagai pengikat mimpi.

  • Komunitas Tuli Salatiga

Awal tahun 2013 menjadi titik awal perjumpaanku dengan komunitas tuli Salatiga. Tinggal di kampung yang jauh dari sekolah luar biasa membuatku sulit untuk bertemu dengan teman senasib yang sama-sama menyandang tuli. Bahkan saat SD aku merasa jika aku adalah satu-satunya orang yang mengalami tuli di kota kecilku. 
Berawal pemberitahuan dari sahabat tentang sosialisasi bahasa isyarat di Selasar Kartini, aku memberanikan diri untuk datang dan bergabung dengan mereka. Sambutan teman-teman tuli diluar dugaan. Aku belajar bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan teman-teman tuli.
Di titik ini, Allah kembali Mencubit, betapa aku selama ini kurang bersyukur atas apa yang Ia Berikan. Dengan ambang batas pendengaran yang nyaris mendekati tuli total (90 dB), aku masih bisa berbicara lancar, bersosialisasi dengan masyarakat umum, 'membaca' mulut tanpa mengalami kesulitan yang berarti, bahkan bisa sekolah di sekolah umum. Sementara, teman tuli yang memiliki ambang batas pendengaran mirip denganku harus mengunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dan kesulitan bersosialisasi dengan masyarakat umum.

Memulai lembaran Hidup Baru

Menjadi seorang penyandang tunarungu membuatku tidak berani bermimpi memiliki orang spesial. Jauh-jauh dari kata pacaran. Setiap kali ada orang yang bertanya tentang pacar, aku hanya bisa nyengir kuda. Sejujurnya, ini tidak murni karena prinsip tidak mau pacaran, tetapi tidak ada laki-laki yang mau menjadikan pacar. Nyaris semua laki-laki yang pernah PDKT denganku mundur teratur saat keinginan mereka untuk telpon kutolak mentah-mentah, Pacaran tanpa telpon-telponan mana asik? Haaa.
Maka, ketika datang seorang laki-laki nekat yang memberanikan diri untuk melamarku pada Maret 2014, titah yai dan orang tuaku tak bisa kubantah; "Jika istikharah bagus, terima saja, cinta bisa tumbuh seiring pernikahan, lelaki dengan pendengaran normal yang mau menikah dengan orang sepertimu seribu satu."
Pernikahan, 17 Juni 2014

Kami pun menikah pada bulan Juni 2014. Banyak penyesuaian yang harus kujalani saat awal-awal pernikahan, termasuk belajar membaca mulut suami. Salah paham sering terjadi, tetapi beliau tidak pernah sekali pun marah karena aku salah memahami ucapannya. Kisah tentang pertemuanku dengan suami akan kutulis kelak, penuh dengan drama dan air mata. Hahaha.

Purnama Kecil

Nak, boleh jadi Ibu tidak mampu mendengar tangisanmu, tetapi cinta akan mengalahkan segalanya, bukan?
Muhammad Kevin Muzakka, 27 Februari 2016

Sembilan belas hari yang lalu lahir purnama kecil pertama di keluarga kami setelah penantian satu tahun lebih. Ada keharuan yang menyeruak ketika aku memeluknya pertama kali. Kisah tentang kelahirannya bisa disimak disini.
Kelahiran dedek Kevin, purnama kecil pertama kami, adalah pembelajaran kehidupan bagiku. Bagaimana aku yang tunarungu mengelola segalanya. Sampai sekarang, aku masih berjuang untuk membangun bonding dengan dedek K. Targetku tak muluk-muluk, bisa bangun sendiri saat dedek K menangis tanpa merepotkan suami adalah kebahagiaan luar biasa. Pun, bagaimana aku mengelola waktu agar aku bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa mengganggu rutinitas keluargaku, sebab aku tak bisa meninggalkan dedek K dalam keadaan tidur sendirian, harus ada orang yang memberitahuku jika dedek K menangis ketika aku menyelesaikan pekerjaanku. Jika tidak ada seorang pun yang bisa dimintai tolong, maka aku hanya bisa menemani dedek K, atau menyelesaikan pekerjaan yang bisa dikerjakan sembari menggendong dedek K.

Aku dengan segala keterbatasanku, semoga bisa mempertanggungjawabkan apapun peran yang diberikan Robbuna padaku.

Terimakasih mbak Ika Puspita, telah membuatku kembali merenungi perjalanan. Mengingatkan tentang mimpi-mimpi yang tertunda. Membangkitkan kembali semangat yang meredup, jika dulu aku mampu melewati tantangan, kenapa sekarang tidak bisa?

Selamat milad, mbak Ika Puspita. Semakin berkah segalanya.

Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway

1 komentar:

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.