Posts

Showing posts from February, 2016

Sayap-sayap Mawaddah; Ilmu, bukan Tabu

Image
"Iki penting, Nduk... Kowe suk yo ngalami." 1Dhawuh yai suatu malam, saat aku berada di hadapannya untuk membahas kitab Maratus Sholikhah. Mukaku bersemu merah, sangat kentara terlihat salah tingkah lantaran pembahasan kali itu merupakan hal yang sensitif; tentang kebutuhan pasangan suami-istri.
Hal Penting yang Dianggap Tabu
Yai mewajibkan aku mengaji kitab Maratus-Sholikhah sebelum mengaji kitab-kitab yang lain.Aku membutuhkan waktu nyaris satu tahun untuk mengaji kitab hijau yang tebalnya tak lebih tebal daripada buku saku UUD 1945. Semua perihal kerumah tanggaan dibahas disana, blak-blakan, termasuk perihal yang dianggap tabu; kebutuhan seks.
Barangkali, dulu aku mengaji dengan sedikit perasaan risih. Apatah lagi jika terkait dengan memuaskan pasangan saat berhubungan badan. Tetapi, kini aku menyadari betapa yang dulu kuanggap tabu, ternyata sangat sentral pengaruhnya bagi ketentraman rumah tangga.
Mawaddah. Sesuatu yang didengung-dengungkan setiap kali mengucapkan selama…

Ketika Bumil Baper

Masa sih sampe nggak bisa nyuci? Bumil nggak boleh malas, kasihan bayinya! Lihat tuh, si X nggak bisa diam dari tadi. Apa-apa dikerjakan. Lha kamu? Kamu ngapain aja di rumah? Nggak pernah keluar. Tidur ya? Blah blah blah...
Pernah mendapatkan pertanyaan semacam ini? Nyesek, ya. Atau malah menjadi orang yang selalu bertanya seperti itu? Kepo banget sih... Moga aja nggak, deh, asli jenis orang ini adalah jenis orang menyebalkan yang bisa membuat bumil makan beras mentah saat nyuci beras saking gemasnya. Ini mah WiDut doang kali. Hahahaha.
Trimester pertama dan kedua adalah saat super prihatin. Muntah, lemas, panas menjadi rutinitas sehari-hari. Sampai-sampai suami nggak berani meninggalkan dalam waktu lama. Aku harus dijaga jika nggak mau tetiba tepar di kamar. Jangankan masak, sekedar makan pun harus diantar ke kamar. Hingga datang trimester kedua, bukannya membaik, tubuhku malah gatal dan demam tinggi. Jiaaahhh. Gagal deh ambisi untuk membuktikan ke orang-orang jika aku juga bisa mandiri …

Kue Lekker Pembangkit Kenangan

"Pak, beli lekker campur." ujarku sembari duduk di kursi Taman.

Sembari menunggu lekker masak, aku memperhatikan keadaan sekitar. Betapa, sudah banyak yang berubah di alun-alun kota Salatiga. Taman mini yang lebih tertata, masjid yang jauh lebih megah dan indah, dan cuaca yang tak sedingin dulu.

Alun-alun kota adalah tempat favorit jeng-jeng bareng teman-teman. Kami menyebutnya alun-alun Pancasila. Aneka jajanan dengan harga yang ramah tersedia. Saat classmeeting adalah saat-saat yang ditunggu. Kami akan membuat janji dengan teman-teman sekomplotan untuk menghabiskan waktu bersama selepas jam sekolah dengan mengicipi aneka jajanan di Alun-alun Pancasila. Kami menempuhnya dengan jalan kaki beramai-ramai, bercanda ria di trotoar. Khas anak remaja.

"Niki, Mbak." Penjaja kue lekker memberikan lekker yang kupesan.


Aku tersentak dari lamunan. Lekker ini masih sama dengan lekker sepuluh tahun yang lalu. Gerobak biru, pembakaran arang, wajan hitam mini.

"Makasih, nggi…

Emak-emak Gendong

Image
"Sesuk adol jahene makde Tun, yo, Nduk. Sopo reti iso gawe tuku buku.1" ujar Ibu saat aku melaporkan jika membutuhkan buku paket penunjang.
Keesokan harinya, aku ikut ibu ke rumah makde Tun yang berjarak kurang lebih satu kilometer dari rumah. Ibu menenteng lipatan garung goni dan timbangan gantung. Di pundaknya tersampir selendang kecil lusuh berwarna coklat tua. 
"Dhe, ning ngendi jahene?2" celetuk Ibu saat sampai di halaman rumah makde Tun. Perempuan berambut keriting yang tengah nginang3 itu segera menggiring ibu ke kandang sapi. 
Tumpukan jahe terlihat tak jauh dari tumpukan rumput hijau persediaan pakan sapi. Aku turut menemani Ibu memilah-milih jahe. Mengelompokkan jahe berdasarkan jenis dan kualitasnya. Jahe gajah, jahe merah atau jahe keriting. Jahe yang busuk dipisahkan untuk dibuang. Setelah dipilah, jahe dimasukkan ke dalam karung untuk kemudian di timbang.
Timbangan yang telah dililit selendang diikat kuat-kuat di celah-celah pintu sebelum digunakan u…

Trust Me, BNI Ramah Deaf dengan #AskBNI

Image
Ada kekalutan yang melanda ketika harus  transfer ke bank untuk keperluan usaha suami sendirian, tanpa pendamping sama sekali. Sebagai penyandang tunarungu, aku sangat anti dengan urusan ranah publik, sebab biasanya pelayan publik memanggil antrian dengan panggilan suara.
"Dimana?" aku bertanya kepada suami.
"BNI." suami menjawab dengan singkat melalui sms. Transfer ini harus dilakukan dengan segera, sebab klien meminta pengerjaan website dipercepat.
Rasanya, aku ingin melempar tanggung jawab yang diberikan suami ke orang lain. Tetapi entah kenapa, hari itu semua orang kompak tidak bisa membantu. Aku pun bergegas ke BNI cabang Salatiga yang lokasinya persis di pusat keramaian kota dengan perasaan dag dig dug pless. Membayangkangkan bagaimana jika antrian melalui panggilan suara, apakah kejadian memalukan beberapa tahun yang lalu kembali terulang?
Saat itu, aku mendaftar ke sebuah bank untuk tugas sekolah. Terlihat bank penuh. Tempat duduk tidak ada satu pun yang k…

Gerimis Dua Tahun Lalu

Seharian gerimis menemani. Dingin semakin terasa tanpa tawamu, berkelebat kenangan pada gerimis dua tahun lalu.
Kau masih saja keras kepala.  Kubilang, aku akan menunggumu di terminal kota Bengawan. Aku sudah terbiasa menikmati perjalanan sendirian. Nyatanya, tetiba kabarmu membuatku tersentak; bis hijau mengantarmu ke terminal kota dingin; kotaku. Berteman payung bening di tangan, gerimis menemani pertemuan pertama. 
Aku ingat, saat itu aku terlambat dan kita bergegas menuju bis hijau, menuju kota bengawan. Menyambangi kampus hijau untuk bertanya tentang segala pernik penelitian tugas akhir; yang masih saja belum tunai sampai sekarang.
Perbincangan terjeda lantaran aku dan kau duduk di bangku yang berbeda. Diam-diam aku tertawa, bangku kosong di sebelah tersisa satu, tetapi kau memilih duduk di belakang. Lalu, ketika dua bangku di sebelah kosong, bergegas kau pindah ke depan. Berjarak satu bangku, tentu saja. 
Perbincangan pertama itu, kau tahu? aku sungguh kesulitan menerjemahkan g…