Posts

Showing posts from January, 2016

Atusa | Asosiasi Tuli Salatiga dengan Segudang Karya

Image
Tak ada satu pun manusia yang bisa memilih dilahirkan cacat ataupun sempurna. Jika boleh memilih, semua orang pasti memilih dilahirkan dalam keadaan sempurna, fisik yang prima, wajah yang tampan atau cantik, orang tua yang kaya raya, serta keluarga yang harmonis. 
Bagaimana jika Tuhan Menggariskan jalan hidup dengan kondisi telinga yang tidak berfungsi optimal?
Beragam reaksi atas Garis Tuhan tersebut. Ada yang merutuk, menuduh bahwa Tuhan sungguh tidak adil. Sebagian pasrah, toh, sudah ditakdirkan seperti ini, tetapi tidak ada yang dilakukan lebih lanjut. Sebagian yang lain menerima, legowo atas apa yang Digariskan oleh Tuhan, tetapi tetap berikhtiar, meyakini bahwa ada sesuatu yang indah, yang Disembunyikan oleh Tuhan atas apa yang telah menimpanya.


Atusa, Asosiasi Tuli Salatiga, adalah salah satu perkumpulan yang mewadahi teman-teman tuli untuk legowo dan terus berkarya menemukan berlian indah yang Disembunyikan Tuhan pada diri kami, para penyandang tuli. Atusa dibentuk secara mand…

Gerakan #TuliNgaji

Image
"Kami prihatin, teman-teman sedikit yang paham tentang islam." cerocos kak Henry, senior Atusa Salatiga, dengan menggunakan gerakan tangan yang lincah, dua tahun yang lalu. Keprihatinan atas minimnya fasilitas publik yang mengakomodasi penyandang tuli yang beragama Islam, sudah cukup lama menjadi topik diskusi kami di beberapa kesempatan.
Beberapa teman tuli yang termasuk deaf ringan, atau sering disebut sebagai hard of hearing, masih bisa mengikuti pengajian dengan memperhatikan gerakan mulut pembicara. Beberapa bisa melafadzkan al-Qu'an karena diprivat oleh guru yang pantang menyerah. Selebihnya, pasrah dengan keadaan, nothing to do. Sementara, keberadaan kyai/ ustad/ tokoh agama yang mampu berbahasa isyarat sangat jarang. Tak heran jika tidak sedikit teman-teman tuli yang pemahamannya mengenai ilmu islam dasar minim, mengingat sedikitnya sumber ilmu yang bisa direguk oleh mereka.


Setelah melalui diskusi di jagad facebook, seorang penggagas yang mempunyai adik penyand…

Bolehkah Menjadi Istri yang Pencemburu?

"Wong cemburuan ki cepet pikun," dhawuh yai, orang yang cemburuan cepat pikun.

Wah, repot. "Lha, masa mboten pareng cemburuan, Yai?"

Yai hanya tersenyum mendengar reaksiku, masa tidak boleh cemburu? Diam begini, aku termasuk golongan pencemburu berat. Jangankan jalan berdua dengan perempuan lain, sekedar bercanda akrab dengan perempuan pun aku diam-diam manyun. 
"Kulo cemburuan, Yai. Repot." ujarku saat itu, sekitar satu bulan sebelum aqad nikah.
Lagi-lagi, lelaki dengan senyum khas-nya itu hanya berdehem. Mengusap wajah beliau dengan surban. Aku salah tingkah, keceplosan curhat saat membahas Kitab Maratus Sholikhah sering terjadi.
"Hmm, boleh, tetapi tidak berlebihan."
Perbincangan tentang cemburu ini terus berlanjut, beliau menuturkan keadaan-keadaan dimana istri boleh cemburu, pun situasi dimana istri tidak diperkenankan menampakkan rasa cemburu yang berlebihan karena dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya dalam rumah tangga.

Situasi yang Membo…

Langkah Kecil Menghilangkan Sekat Dunia Difable dan Dunia Normal

Image
Tatapan curiga; Gelagat menarik diri; Cenderung pendiam, atau sebaliknya, bertingkah sangat menyebalkan; adalah sedikit dari berbagai macam tingkah laku penyandang difable yang ditangkap oleh orang-orang normal. Sombong, tatapan menghina, tatapan meremehkan, tatapan kasihan; merupakan sedikit diantara berbagai macam tingkah orang normal yang ditangkap oleh penyandang difable. Perbedaan sudut pandang tersebut menyebabkan adanya sekat tebal antara orang normal dan penyandang difabel. Sekat ini tidak begitu berpengaruh terhadp orang normal, namun sangat berpengaruh pada penyandang difable. Tak heran jika banyak penyandang difable yang menjadi beban bagi lingkungannya karena gagal dalam mengembangkan dirinya sendiri.
Kok sepertinya sok tahu tentang sudut pandang ini? Apakah ini mengada-ada?
No. Its real, Dear. Sebagai penyandang tunarungu tipe hard of hearing, atau sering disebut sebagai kesulitan pendengaran, aku seolah berada di dunia abu-abu. Di Dunia orang normal, aku menjadi makhluk a…

Perempuan Tangguh

Image
Setiap berkunjung suami langsung mendekatinya. Jika hanya ada aku, di ruang tamu dengan kursi panjang sepasang, suami akan bergegas menidurkan diri di kursi panjang dengan kepala di pangkuannya. Ada kedekatan yang sangat intim diantara mereka berdua. Bercanda. Bercerita. Tentang apapun, tentang kehidupan kami, tentang Salatiga yang dingin, tentang perjalanan kami saat pulang kampung. 

Usianya kutaksir lebih dari sembilan puluh. Aku tak menyangka jika lebaran kemaren adalah pertemuan yang terakhir dengan beliau. Masih melekat kuat di ingatan saat beliau menyodorkan rempeyek kedelai khusus untukku, menyodorkan makanan yang sekiranya bisa kumakan, karena saat itu tengah mabok berat.


Satu-satunya mbah dari suami yang sempat kukenal kini telah tiada. Ada kesedihan yang menghentak, kehilangan yang diam-diam menjalar. Apatah lagi suami baru saja sampai di Pati saat menerima kabar duka ini, pun aku tidak bisa bertandang kesana karena kehamilanku telah menjajaki usia tua. Hanya mampu berdoa u…

Hati-hati, Bajumu juga Dihisab, lho.

Image
"Aku nggak mau jika nanti saat yaumul hisab nunggu kamu yang kelamaan dihisab bajunya. Tak tinggal lho, ya."  Ucapan suami yang selalu terngiang-ngiang ketika ingin hunting baju. Ucapan singkat yang berhasil membuatku urung membeli baju jika tidak benar-benar urgen. Ucapan yang menahan lisan untuk menyampaikan jika ingin beli gamis/ baju saat jalan-jalan bareng suami, padahal beliau bukan tipikal suami yang pelit, amplop gajian, ATM, dan everything hasil keringat beliau istrinya yang megang. Beliau hanya memegang uang sekedar untuk nongkrong di angkringan.
Fitrahnya perempuan pada umumnya, selalu ribet urusan penampilan. Selalu merasa kekurangan baju, padahal baju segambreng begitu hingga almari nggak muat. Pusing setiap kali akan keluar, bukan lantaran stock baju habis, tetapi saking banyaknya pilihan baju, itu pun masih berkata; nggak ada baju. Hayo, ngaku.

Seorang kyai--Allahu yarham--, aku lupa siapa nama beliau, membatasi bajunya hanya tiga lembar. Sarung tiga lembar, …

Lika Liku Bumil dan Skripsi

Saat menginjak semester tujuh, aku masih sempat mengerjakan proyek penelitian. Dari penyusunan proposal, penelitian hingga laporannya harus selesai dalam jangka waktu satu bulan. Aku menikah saat semester enam. So, dengan sangat pede aku yakin jika skripsi selesai cepat. Apa bedanya dengan proyek hibah penelitian yang bisa selesai meski harus jungkir balik, dengan bantuan suami, tentu saja.
Menjelang semester delapan awal, judul skripsi sudah diajukan, dan aku pun telah menyusun proposal dengan bekal rujukan seadanya, yang penting mendapatkan dosen pembimbing terlebih dahulu, batinku.
Awal tahun ternyata terjadi jadwal kacau yang membuatku super duper malas melanjutkan proposal yang telah kususun, dari jadwal KKL yang tidak jelas juntrungnya hingga jadwal KKN yang super duper mepet dan membuatku hampir stres, apalagi aku didaulat untuk menjadi sekretaris KKL, begadang menyelesaikan laporan dan mengurus tetek bengek administrasi di balik kesibukanku sebagai Ibu Rumah Tangga tentu saja…