Posts

Showing posts from November, 2015

Hamil Kebo Vs Hamil Kepompong

"Masa orang hamil segitunya?" Seorang teman meragukan kabar jika aku tengah tumbang dan tidak bisa bergerak banyak.Lalu dia melanjutkan, "Wong si A, B, C saja waktu hamil dulu bisa kuliah kok. Bahkan si D kuat tuh wira-wiri motoran sendiri."Belum hilang rasa begah dan mual-muntah yang dihiasi dengan meludah nyaris setiap menit, tubuhku terserang gatal. Bedak talk tidak mempan. Obat telan tidak diperbolehkan oleh dokter. Mandi dengan larutan Dettol menjadi satu-satunya ikhtiar, suami membalurkan larutan Dettol pekat setiap menjelang tidur. Jangan tanya rasanya, perih.Orang-orang kembali berkomentar, aku hanya curhat nggak jelas kepada suami, keluarga dan beberapa sahabat dekat tentang asam-manis yang kurasakan. "Boros banget tiap hari beli buah..."Satu. Aku nggak doyan makan, nyaris stres mikir apa yang harus kulakukan agar lambung tidak kosong karena apa yang kumakan muntah. Bau bumbu, muntah. Kerasa MSG, muntah. Makan coklat, muntah. Orang mengenalku tuk…

Lelaki November

Image
Hujan selalu mengingatkan tentangnya. Pertemuan pertama yang berteman rintik hujan satu setengah tahun silam. Ketika aku menyanggupi permintaanya untuk menemani ke Solo, berteman payung bening. Perbincangan di sepanjang perjalanan, saat pertama kalinya aku jatuh cinta pada cara menghadapi keistimewaanku dengan senyum dan kesabarannya. Diam-diam aku berdoa, agar kelak jika ia menjadi bagian dari hidupku, caranya ini mengabadi dalam keseharian. Dalam canda-tawanya, dalam sayang-jengkelnya, dalam kesederhanaan cintanya, dalam kemarahannya...
Kenanganku semakin larut dalam rintik air hujan. Semenjak pertemuan pertama, hingga liku Lelaki November menjadi bagian hidupku, rintik hujan acapkali mengakrabi. Aroma tanah yang membaur dengan rintik hujan, memancing otakku untuk memutar memori tentangnya, tentang aku dan lelaki Novemberku.
Lelaki November yang membuat hatiku luluh dengan caranya agar aku mampu memahami ucapannya. Yang selalu mengingatkanku tentang aku dan Mahkota untuk Emak... Tak s…

Sekolah Tawakal: 28 Weeks

Mulai merasakan linu. Awalnya berusaha biasa saja. Mengubah posisi tidur. Tetapi, semalam merasakan linu, kram dan perasaan terbakar di dada sekaligus.Rasanya? Jangan tanya, nangis sesenggukan sampai membuat suami bingung karena tak tahu apa yang harus dilakukan, sementara pekerjaan coding menunggu untuk segera diselesaikan.Perasaan terbakar ini menjalar sampai ke mata dan telinga, aku sempat menduga jika ini pertanda ketempelan setan. Wkwkwkwkwk. Fantasi yang sangat berlebihan. Ada-ada saja.Sampai sepagi ini, aku belum menemukan bagaimana caranya agar keluhan ini tidak terjadi lagi. Hanya berikhtiar dengan meminum obat yang mengandung kalsium. Allahumma 'afini fii badani...

Nggak Kuat Bayar Tarif Parkir

Agenda bejibun, bersiap keluar rumah jam 09.00 pagi setelah merampungkan cucian dua ember. Baru saja selesai menjemur, langit tiba-tiba gelap, dan, tak lama kemudian bressss. Hujan deras menyapa bumi Salatiga. Hopeless. Bermalas-malasan di rumah sembari menunggu hujan reda. Ibu hamil mana tega hujan-hujan?Adzan dzuhur hujan mulai reda. Aku mengusik suami agar segera berbenah untuk pergi ke Bank dan belanja beberapa keperluan, termasuk bahan pesanan undangan."Sudah dibawa semua?" Tanya suami sembari memakai jaket. Aku mengangguk mantab. Antrean bank BRI lumayan. 15 menit menunggu, aku sudah selesai dengan urusan lembaran biru dan merah. Keluar dari bank, bersiap memakai helm. Tetapi tunggu, aku sibuk mencari lembaran uang di dompet. Nihil. Masak iya hanya bawa uang press yang kusetorkan di bank tadi? Yess, aku ingat, uang kutinggal di rak obat dan belum kumasukkan kembali di dompet. Hahahaha."Abah, bawa uang? Seribu aja." Tanyaku dalam bahasa Jawa. Suami hanya mengg…

Sekolah Tawakal: 0-9 Weeks

Tespack positif? Senang? Bahagia? Pasti. Apatah lagi setelah penantian setahun lamanya dengan pertanyaan rempong yang mewarnai sehari-hari setelah menikah, "Sudah isi?". Tetapi tunggu, dua hari setelah tes, ada bercak darah di celana dalam. What its? Flek dengan darah kecoklatan seperti haid pada hari-hari terakhir. Kroscek sana-sini, jawaban lebih banyak yang mengkhawatirkan daripada yang membuat hati nyaman. Meluncur ke bidan, bidan tidak bisa memastikan, diberi rujukan ke spesialis obgyn. Hiks."Belum ada tanda-tanda kehidupan." Tutur dokter spesialis obgyn ketika melihat layar USG. Dag dig dug jedug. Kabar gembira tiga hari sebelumnya ternyata adalah awal dari perjalanan baru, sekolah tawakal. Dokter menyarankan agar kembali lagi dua minggu mendatang dengan memberikan secarik kertas resep obat yang harus ditebus di apotik.Flek masih berlanjut hingga hari ke lima. Dua hari lagi lebaran Idul Fitri. Suami berencana mudik ke Bojonegoro, dan aku? Apa harus ditinggal …