Sabtu, 06 April 2013

Geografi Pertanian | Pembangunan Ekonomi

Leave a Comment

1.      Munculnya teori pembangunan sejak perang dingin

Masa-masa perang dingin memunculkan beberapa teori pembangunan, diantaranya: kapitalisme dan sosialisme. Keduanya muncul sebagai respon politik dari kedua pihak yang sedang melakukan perang dingin, yaitu Amerika dengan Uni Soviet. Seiring perkembangan zaman teori-teori pembangunan tersebut mengalami pembaharuan mengikuti dinamika kondisi sosial yang dipadukan dengan pertimbangan kajian akademik sehingga muncullah beberapa teori pembangunan seperti berikut:

1.      Teori Ekonomi Kapitalisme

2.      Teori Evolusi

3.      Teori Fungsionalisme

4.      Teori Modernisasi

5.      Teori Pertumbuhan Ekonomi (Rostow)

6.      Teori Motif Prestasi (McClelland)

7.      Teori Penciptaan Tenaga Kerja

8.      Teori Re-Direksi Investasi (Chenery)

9.      Teori Pemenuhan Kebutuhan Dasar (Basic Needs)

10.  Teori Pengembangan SDM (Human Resources Development)

11.  Teori Pembangunan Pengutamaan Pertanian (Agriculture First Development)

12.  Pembangunan Desa Terpadu (Integrated Rural Development)

13.  Teori Tata Ekonomi Dunia Baru (The New International Economic Order)

Disisi lain, pembangunan ekonomi di sektor agraris mengalami perubahan yang sangat lambat (evolusi pertanian). Berabad-abad pertanian dilakukan berdasarkan motif budaya.

2.      Perekonomian pada zaman pemerintahan otoriter (Indonesia)

Pemerintah otoriter Indonesia menerapkan control penuh atas pengelolaan sektor agraris. Pemerintah menerapkan panca sapta tani secara paksa (dengan kekuatan otoritasnya) akibatnya, banyak dampak negative yang ditimbulkan akibat penerapan panca sapta tani. Diantaranya degradasi lahan, keterpurukan petani miskin karena ketidaksesuaian antara input dan output pertanian.

Pemerintah otoriter menghilangkan kebebasan petani, menyeragamkan system budaya dengan budaya pertanian dan menghilangkan pertanian yang bermotif budaya menjadi pertanian yang bermotif ekonomi, namun meskipun banyak dampak negative, penerapan system pertanian ini juga berdampak positif, yaitu Indonesia mampu mencapai target swasembada pangan.

3.      Paradigma pengetahuan dan paradigma kesejahteraan

Kedua paradigma ini memunculkan konsep-konsep yang menjembatani masalah yang timbul akibat diterapkannya revolusi hijau.

rumah tani

Akademisisi melakukan kajian dan penelitian partisipatif untuk mengetahui lebih lanjut tentang permasalahan yang ada kemudian merumuskan potensi-potensi yang dapat dikembangkan. Akademisi melakukan penyadaran social terhadap masyarakat , mereka berusaha memadukan potensi petani dengan ilmu pengetahuan dalam hal ini adalah agroekologi. Semua itu dilakukan untuk merealisasikan konsep pembangunan pertanian berkelanjutan.

Agroekologi berusaha menggabungkan unsur-unsur baik dari pertanian konvensional maupun ekologi. Penerapan prinsip agroekologi dalam menciptakan system Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA) antara lain:

Ø  Relung ekologi bagi keanekaragaman fungsional

Ø  Saling melengkapi dalam agroekosistem

Ø  Sinergi di dalam agroekosistem

 

Prinsip-prinsip ekologi dasar LEISA:

Ø  Menjamin kondisi tanah yang mendukung bagi pertumbuhan tanaman, khususnya dengan mengolah bahan-bahan organic dan meningkatkan kehidupan dalam tanah.

Ø  Mengoptimalkan ketersediaan unsure hara dan menyeimbangkan arus unsure hara,khususnya melalui pengikatan nitrogen, pemompaan unsure hara, daur ulang, dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap.

Ø  Meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara, air, dengan cara pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air, dan pengendalian erosi.

Ø  Saling melengkapi dan sinergi dalam menggunakan sumber daya genetic yang mencakup penggabungan dalam system pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungsional yang tinggi.

4.      Sumberdaya lahan

Penerapan revolusi hijau menekankan pada hasil yang maksimal dengan menggunakan pupuk kimia yang berlebih menyebabkan dampak negative bagi unsure fisik dan social.

Dampak negative bagi unsure fisik diantaranya:

Ø  Struktur tanah menjadi pejaldan keras

Ø  Varietas tanaman menjadi rentan terhadap hama pestisida

Ø  Menurunnya kualitas air tanah

Ø  Ekosistem mengalami penurunan

 

Dampak negative bagi unsure social adalah:

Ø  Penurunan kualitas hidup

Ø  Kreativitas menurun

Ø  Terjadinya urbanisasi akibat berkurangnya lahan pekerjaan di sektor pertanian di daerah asal.

5.      System pembangunan global

System pembangunan global menerapkan beberapa konsep liberal dengan menerapkan pasar bebas.penerapan system ini mengakibatkan munculnya banyak kartel dagang yang dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat, termasuk di pedesaan yang bermatapencaharian sebagai petani. Petani yang awalnya berusaha dibidang pertanian dengan motif budaya berubah menjadi bermotif ekonomi.

Motif ekonomi yang dilakukan para petani mengakibatkan mereka terus berfikir bagaimana untuk memperoleh hasil produksi semaksimal mungkin tanpa memperhatikan dampak dari kegiatan produksi, akibatnya terjadi kerusakan lingkungan, perubahan iklim dan perubahan fungsi lahan akibat keterbatasan sumberdaya dan modal yang dimiliki petani serta akibat dari kebijakan pemerintah tentang kebijakan pro petani.

Masalah nasional yang muncul akibat dari penerapaan berlakunya system global menjadikan kehidupan serba sulit. Perdagangan bebas membuat pemerintah membuat upaya-upaya untuk memproteksi hasil produksi dalam negeri, membuat kebijakan-kebijakan baru di sektor agraris, namun kebijakan-kebijakan tersebut menimbulkan masalah baru yaitu korupsi akibat dari pengawas kebijakan yang kurang maksimal.

 

Sumber Gambar: http://cahayakembar-corp.blogspot.com/2010/03/80-pad-banyuwangi-dari-sektor-pertanian.html

0 Komentar Anda:

Posting Komentar

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.