Rabu, 18 April 2012

Cerpen | Fadil Yang Merindukan Hujan

Leave a Comment
Fadil adalah seorang pemuda yang tinggal di daerah Sumatera barat, dia memiliki sifat keingintahuan yang sangat tinggi sehingga sering muncul berbagai pertanyaan dipikiranya. Stiap pagi dia selalu melihat televise untuk menunggu acara favoritnya yaitu sajian berita pagi, pada hari itu dia melihat bahwa di Sumatera bagian timur sedang terjadi hujan yang sampai mengakibatkan banjir, diapun bertanya kepada ayahnya,
“Ayah, kenapa disini tidak terjadi hujan, yah?”,
“Karena hujannya habis di Sumatera bagian timur”,
“Tapi kenapa, yah?”,
“Ya, karena jatah hujannya sedikit”. Jawab ayah setengah bercanda.
“Kalau sedikit kok sampai kebanjiran yah? Apa karena mereka terlalu serakah yah jadi tidak mau berbagi hujan dengan kita?”,
“hus, Ngawur kamu, hayoo, sini tak kasih tau.” Kemudian ayah meminta selembar kertas untuk dibuat pesawat mainan, setelah pesawatnya jadi ayah meminta Fadil untuk menerbangkan pesawat tersebut melintasi sebuah meja.
“Ini maksudnya apa yah, apa dengan ini hujan akan turun?” Tanya Fadil setelah berhasil menerbangkan pesawat melintasi meja.
“Bukan, nanti kamu juga bakal tau sendiri”, jawab ayah enteng lalu mengajak Fadil keluar rumah, sesampainya di halaman rumah, ayah meminta Fadil untuk menerbangkan pesawatnya melintasi rumah, namun setelah mencobanya berulang kali Fadil tidak pernah berhasil membuat peswatnya terbang melintasi rumah, setiap dilemparkan, pesawanya menabrak dinding rumahnya lalu jatuh lagi didepan rumah hingga pada akhirnya dia menyerah dan berkata,
“Yah, tak mungkin lah pesawat ini bisa melintasi rumah setinggi itu, coba ayah saja yang lemparkan pesawat”,
Sambil tersenyum ayahpun mengambil pesawat kertas yang masih tergeletak di halaman rumah lalu menjelaskan semuanya,
“Fadil, pesawat kertas ini hanyalah sebagai contoh kenapa hujan tidak terjadi di daerah kita, pesawat kertas ini tidak mampu melintas diatas rumah karena rumahnya terlalu tinggi sedangkan tenaga yang kamu gunakan untuk mendorongya sangat kecil, begitu pula dengan hujan, uap air yang dibawa dari laut china tidak dapat melewati pegunungan barisan karena gunungnya terlalu tinggi, sebelum melewati pegunungan barisan, uap air telah mengalami kondensasi[1] setelah mencapai ketinggian tertentu, karena udara disekitar titik-titik air sudah tidak mampu lagi menampung, maka titik-titik air tersebut jatuh sebelum melewati pegunungan barisan, jadi hujannya tidak sampai keseni, dalam istilah ilmu geografi daerah kita dinamakan daerah Bayangan Hujan”.
“Jadi yah, kalau ingin hujannya sampai kesini, kita harus memindakan gunung agar tidak menghalangi hujan?.”
Ayah pun tersenyum mendengar pertanyaan Fadil, lalu fadil bertanya lagi,
“Tapi bagaimana caranya memindahkan gunung sebesar itu, yah?”
“Belajarlah yang rajin, suatu saat pasti kamu akan tahu caranya”.

                                                                             Oleh : budairi Al-Asrori


[1] Perubahan uap-uap air menjadi titik-titik air di lapisan udara (atmosfer).

0 Komentar Anda:

Posting Komentar

Komentarlah yang baik.
Tujukkan Karakter Bangsa Indonesia.