Sabtu, 26 Januari 2019

Selamat Menempuh Hidup Baru, Mak!

Leave a Comment
Tidak pernah terbayangkan dalam imajinasi sekalipun jika kami harus segera pindah ke Semarang di awal tahun 2019. Baru saja pulang liburan di kampung halaman selama 2 minggu, titah untuk segera ke Semarang langsung bertandang. Enggak menunggu nanti, kami hanya diberi waktu 1 minggu untuk sekedar 'benafas' di rumah sebelum hijrah ke Semarang.

Bacanya ngos-ngosan, ya? Apalagi yang mengalami, drama demi drama harus kami hadapi.

Setiba di Semarang, sambil mencari kontrakan yang cocok kami menginap di rumah pak Boss. Enggak ada yang usil, semua baik-baik. Mbak-mbak asisten, istri pak Boss, dan juga anak-anaknya sangat welcome.  Masalah datang ketika si K yang terbiasa main bebas harus kubatasi karena aku sungkan mengotori rumah yang standar kebersihananya jauh di atas standar kebersihanku.

Kan enggak lucu kalau kami menjadi biang keladi berantakannya rumah. Selama di rumah pak Boss, jam menonton si K melonjak drastis. Bahkan sampai si K merasa bosan nonton dan meminta bermain, aku masih memaksa si K tetap nonton karena saat itu sudah malam. Ya gimana, masa yang lain istirahat kami malah ramai bermain?

Lika-liku Mencari Kontrakan

Mencari rumah memang kayak jodoh, bahkan lebih rumit...
Allright. Awal di Semarang, aku mencari info perihal kontrakan dari beberapa sahabat. Minggu kedua, kami survey kontrakan satu demi satu. Ada yang cocok harga dan rumahnya, eh, enggak cocok lingkungannya. Ada yang cocok lingkungannya, eh, rumahnya berhalaman sempit dan enggak memungkinkan si K bermain.

Gusti Allah... Mudahkan... Mudahkan.

Pak Boss sempat menyarankan untuk ngekost dulu di kost dekat kantor abah K. Kami segera survey dan syock mendapati harga pebulannya 650k, dengan kamar berukuran 2 x 3 meter, kamar mandi luar dan dapur keroyokan.

Allah, itu pun halamannya enggak leluasa digunakan bermain si K. Aku langsung meminta abah K untuk menunda ngekost dulu. Better mencari kontrakan sekalian, pikirku. Apalagi jika pindah-pindah melulu juga kasihan si K, adaptasi berulang, rewel terus-terusan.

Di tengah keputusasaan, abah K mengusulkan untuk bertanya kepada setiap orang di kampung yang menurut kami mempunyai suasana yang enak. Seorang Ibu paruh baya menunjukkan sebuah kontrakan di depan mushola.

Kontrakan berukuran mungil dengan lantai belum dikeramik dan dinding yang belum tuntas dicat. Ingatanku langsung melayang ke jaman aku masih kecil. Rumahnya mungil, hanya seukuran ruang tamu rumah Ibu.

Aku mengambil nafas dalam-dalam, berulang-ulang merapal mantra; ini saatnya untuk berjuang. Abah K sempat menangkap ekpresiku yang enggak biasa. Kami sempat konflik sebentar. Aku merasa abah K sengaja mengajak kami susah, abah K merasa istrinya tidak siap diajak berjuang.

Here We are, Rumah Sederhana yang Penuh dengan Cinta

Dengan berbagai pertimbangan, juga dengan Bismillah, akhirnya kami memilih untuk mengontrak di rumah sederhana depan mushola. Agar enggak cuma duniawi saja yang upgrade, tetapi juga ibadahnya.

Hari itu hari jum'at kala kami memutuskan untuk segera menempati rumah kontrakan. Baru saja menginjakkan kaki di rumah, Ibu pemilik kontrakan yang sudah kami anggap sebagai Ibu sendiri datang menawarkan bantuan dan membeikan sebaskom piring, gelas sendok, ceret.

Menjelang maghrib, Mbak di depan rumah mengantarkan berkatan berisi nasi, urab dan aneka lauk. Pagi harinya, si Mbak memberi ceret ungu dan serantang lauk opor yang enak banget. MaasyaAllah. Aku sungguh bersyukur dengan lingkungan yang ramah dan saling berbagi ini.

Allahumma ya Allah, Hamba memohon kepada-Mu, rumah yang penuh berkah dan memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar, tetangga yang saling berlomba-lomba dalam kebaikan, juga sisa umur yang penuh berkah.




Read More..

Kamis, 10 Januari 2019

Pindahan Ke Semarang

Leave a Comment
Ahad, 6 Januari 2019 yang lalu, kami pindahan ke Semarang. Mengendarai speda motor yang baru kami beli sehari sebelumnya yaitu Sabtu, 5 januari 2019. 

Tahun baru ini, kami tidak memiliki resolusi apa-apa selain melunasi semua hutang-hutang. Sebetulnya, beli motor pun tidak masuk ke dalam rencana. Namun tampaknya Allah memberikan isyarah untuk membelinya meskipun dengan cara kredit ke Abah yai. 🤣

Si K rewel ketika hendak berangkat ke Semarang. Ia tampak enggan sekali berangkat dengan mengajukan beragam alasan. Sepertinya ia sudah tahu kalau akan tinggal di Semarang agak lama makanya merasa berat meninggalkan Salatiga.

Setibanya di Semarang, setelah menaruh barang-barang di warung Bakso ONO, aku mengajak si K jalan-jalan untuk mengenal lingkungan barunya. 

Pertama, aku mengajaknya ke Taman Tirto Agung. Di sana ia main prosotan dan membeli sebuah balon terbang. Setelah beberapa saat di sana, aku ajak dia pindah ke Taman Bumirejo. Di sana, si K hanya main prosotan saja namun tampaknya sangat puas.

Si K bermain prosotan di Taman Bumirejo, Banyumanik, Semarang

Si K bermain prosotan di Taman Bumirejo, Banyumanik, Semarang
Read More..

Sabtu, 08 Desember 2018

Pergeseran dari Tim Gamis ke Tim Celana dan Tunik

Leave a Comment
Bulan puasa kemarin aku pernah membuat blogpot di widiutami dot com, bareng dengan #BloggerKAH tentang tim gamis dan jilbab segiempat, eh, ternyata sekarang daku bergeser dari tim gamis ke tim celana dan tunik. Dulu juga tim daster addict, sekarang malah enggak punya daster babar blas, dasternya sudah pada pensiun tapi emak K enggak niat beli.

Why?

Si K yang mulai super aktif dan membutuhkan gerak leluasa dan lincah untuk mengikuti langkah-langkahnya menjadi alasan utama. Mobilitas yang semakin tinggi dan mengharuskan aku membonceng ataupun nyetir motor dengan membawa si K, harus mempehatikan benar-benar keamanan dan kenyamanannya, menjadi alasan kedua,

Gamis yang kumiliki biasanya kupakai saat di rumah. Jika keluar rumah dengan menggunakan gamis, aku masih memakai celana kulot sebagai dalamannya, biar kalau nenteng-nenteng ujung gamis auratnya tetap aman. Lha piye, si K itu kalau lompat lincah, jika emaknya ribet dengan gamis, aduh, bocahnya bakal melesat dan aku harus mengejarnya.

Bawahan celana panjang dan rok wanita muslimah yang semakin hari semakin beragam pilihannya, enggak kalah cantik dengan gamis, pun tetap mempehatikan syaiatnya membuatku semakin mantab untuk mengubah style tanpa harus menabrak aturan berpakaian perempuan muslim.
Tunik dan celana kulot favorit,abaikan jilbab yang enggak nyambung, ya!


Memilih Celana yang Nyaman untuk Emak-emak

Dalam memilih celana, daku tergolong cerewet. Cerewetnya ini bukan karena aku sok-sokan, tetapi aku memiliki kenangan buruk karena ceroboh memilih bahan celana.Kala itu aku buru-buru memilih celana kulot, kupilih celana yang sekianya enggak ketat dan enggak nerawang. Eh, ternyata celananya berbahan jersey.

Petaka datang saat aku tengah berdiri di dekat selokan, si K yang usil biasalah, lari sana-sini, naik turun selokan yang enggak ada airnya. Tiba-tiba, si K berpegangan erat pada ujung celanaku, aku yang enggak siap spontan memegang celana yang melorot. Celananya melar, NERAWANG! Byuhhhh. Untung enggak ada orang lain.

Pelajaran pertama, jangan memilih celana yang berbahan jersey jika aktivitasnya menuntut kelincahan. Sekalipun enggak nerawang, tetapi saat celananya enggak sengaja ketarik, otomatis bakal nerawang.Selain itu, celana berbahan jersey gampang melorot, enggak disarankan untuk emak-emak yang mobilitasnya tinggi. Tapi kalau emak-emak nyantai sih enak pakai jenis kain jercey, adem.

Terus, milih celana bahan apa dong?

Aku sekarang lebih memilih celana berbahan wolly crepe, katun atau kanvas. Bagi yang bisa memakai celana denim, celana ini nyaman digunakan. Emak K enggak nyaman karena celana denim biasanya ketat. Daku biasa menggunakan kain jenis denim untuk rok atau gamis.

Atasan Favorit Emak K

Berbicara soal atasan, emak K adalah fans tunik garis keras. Sejak dulu aku menyukai baju dengan panjang sampai selutut. Enggak nyaman memakai baju yang panjangnya cuma sepaha. Bukan apa-apa sih, hanya alasan kepraktisan saja.Enggak mau ribet memeriksa apakah ada aurat yang tersingkap saat jalan atau bergerak.

90% baju atasanku berjenis tunik dengan berbagai bahan. Ada yang jahit sendiri, ada juga yang beli jadi. Biasanya nih, atasan yang beli jadi lengannya kependekan. Maklum, tangan panjang. Tangan panjang dalam arti sebenarnya lho. Hahahaha

Bahan tunik yang nyaman untukku berbahan katun, satin, baloteli, toyobo. Yang enggak perlu disetrika? Bahan wollycrepe.Hahaha, sayang, bahan wollycrepe kalau dipakai di Bojonegoro gerah banget. Bahan denim juga lumayan enggak perlu disetrika. Dasar tim emak-emak malas nyetrika. Heuheuu.


Kalau kamu, tim gamis apa tim celana dan atasan, Mak? Tim apapun, yang penting paling nyaman di badan, ya.


Read More..

Jumat, 07 Desember 2018

Memecahkan Ketuban; Salah Satu Cara Induksi Persalinan

Leave a Comment
Aku tidak menyadari jika dulu juga mengalami induksi persalinan. Gara-gara membaca referensi terkait induksi persalinan, aku begumam,"Oh, memecahkan ketuban juga termasuk induksi persalinan."

Kukira, induksi persalinan hanyalah suntik dan infus yang memacu pembukaan demi pembukaan. Ternyata enggak, ada beberapa metode induksi persalinan yang dilakukan oleh penolong persalinan yang bisa dipilih sesuai dengan kondisi Ibu Hamil.

Induksi persalinan adalah proses stimulasi untuk mempercepat proses persalinan. Metode ini sangat beresiko dibandingkan dengan persalinan alamiah, sehingga membutuhkan pendampingan ketat dari tenaga penolong persalinan. Ada baiknya kita atau keluarga kita bertanya terlebih dahulu kepada dokter tentang konsekuensi juga resiko yang haus kita hadapi jika menyetujui tindakan induksi.

Jaman kelahiran si K dulu, aku mengalami kontraksi sejak jum'at dini hari jam 3 pagi, Jum'at jam 6 sore si K belum menampakkan tanda-tanda siap dilahirkan. Hingga kemudian aku dirujuk ke RSU Puri Asih pada hari Jum'at jam 11 malam. Hari Sabtu jam 12 malam, ketubannya pecah dan bidan yang mendampingi memutuskan untuk memecahkan ketuban agar pembukaan segera sempurna dan bayi bisa segera dilahirkan.

Rasanya?
Entah. Enggak kerasa. Malah lega luar biasa karena setelah ketuban pecah, bidan segera memberikan intruksi untuk ngeden. Akhirnya!



Beberapa Cara Induksi Persalinan

Induksi persalinan ternyata enggak cuma suntik dan infus. Ada beberapa cara Induksi Pesalinan yang bisa dilakukan oleh tenaga penolong yang bisa dipilih sesuai dengan kondisi  Ibu.
  • Membrane Sweep
Membrane Sweep dilakukan oleh tenaga peolong persalinan dengan cara menyapukan tangan di leher rahim untuk memisahkan kantung ketuban dengan leher rahim. Hal ini dilakukan karena ketika kantung ketuban dan leher rahim terpisah, tubuh akan mengeluarkan hormon Prostaglandin yang berperan sebagai pemicu persalinan.
  • Mematangkan Leher Rahim
Pada beberapa Ibu mengalami kondisi janin sudah siap dilahirkan namun leher rahim belum matang. Kematangan leher rahim ditandai oleh tenaga penolong persalinan sebagai pembukaan. Pembukaan 1-10 maksudnya adalah leher rahim sudah melebar dengan ukuran 1 cm, 2 cm hingga 10 cm. 10 cm adalah ukuran lebar yang dianggap sudah siap untuk melakukan persalinan.
Untuk membantu mematangkan leher rahim,dokter akan memberikan obat berisi hormon yang harus diminum, bisa juga dimasukkan obat melalui vagina, beberapa menggunakan kateter balon yang dimasukkan melalui jalan lahir.
  • Memecahkan Air Ketuban
Aku dulu mengalami kondisi dimana pembukaan sudah lebar tetapi ketuban tidak kunjung pecah meskipun aku sudah mengalami kontraksi lebih dari 24 jam. Sebelum melakukan pecah ketuban, bidan terlebih dahulu memonitoring detak jantung janin, begitu juga setelah ketuban dipecahkan, detak jantung janin akan diperiksa secara berkala.
Waktu itu setelah dipecahkan ketubannya, aku langsung disuruh mengedan meskipun perutnya harus didorong oleh 4 orang bidan. Hahahaha
  • Menggunakan Obat-obatan yang Diinfuskan ke Pembuluh Darah
Oksitosin, Homon sintesis untuk memicu persalinan disuntikkan ke dalam infus yang sudah dipasang ke pembuluh darah.Proses ini dilakukan jika leher rahim sudah mulai matang dan melunak. 

Apakah penting mengetahui jenis-jenis induksi persalinan untuk Ibu yang akan melahirkan? Sangat penting. Agar kita siap dan tidak panik ketika tenaga penolong persalinan memutuskan untuk melakukan tindakan induksi. Ilmu yang cukup akan membantu Ibu untuk rileks, rileks ini sangat penting saat proses persalinan. Ya, jika ada kesakitan dan berasa ingin nyakar suami itu mah wajar. Hehehehe
Read More..

Selasa, 23 Oktober 2018

Cara Romantis Kami Dalam Menjalin Hubungan

Leave a Comment
Kata-kata romantis ini sering kali dipertanyakan manakala kami seringkali terlihat konyol dalam mengekspresikan perasaan masing-masing. Ekspresi itu sering kali dipandang bukanlah sesuatu yang romantis melainkan ekspresi datar yang kurang baik dilakukan untuk menjalin hubungan.

Aku dengan istriku, Widut, memang jarang sekali menunjukkan kemesraan hubungan, manja-manjaan, atau sekedar foto selfie berdua. Sebaliknya kami malah sering tampak di publik dengan cara saling mengejek (jawa: ece-ecean) atau saling membully satu sama lain. Hal itu tentu saja kami lakukan dengan alasan yang sudah diperhitungkan meskipun tanpa adanya kesepakatan.


Kami menilai bahwa saling mengejek itu tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dengan istilah romantis yang biasa digunakan secara umum. Kalau sekedar manja-manjaan atau pamer foto selfie menurut kami semua orang bisa melakukan hal itu meskipun sebetulnya hubungan sedang dilanda masalah yang runyam. Akan tetapi kalau saling bully lain lagi ceritanya.

Saling bully itu bagi kami menunjukkan kalau hubungan kami sedang baik-baik saja. Tidak mungkin ketika kami sedang ada masalah di dalam hubungan masih berani membully satu sama lain. Kalaupun sampai berani mungkin saja akan menjadikan masalah yang ada itu semakin genting. Lha, saat sedang dilanda masalah itu, kami bisa saja pamer foto selfie berdua atau pamer manja-manjaan untuk menutupi masalah yang sedang kami alami.

Widut pernah bercerita kalau ada temannya yang mengaku suaminya mendadak menjadi baik dan super perhatian. Setelah beberapa saat kemudian diketahui ternyata apa yang dilakukannya itu digunakan untuk menutupi rasa bersalahnya suami karena memiliki istri baru tanpa memberitahu istri yang pertama.

Ada juga teman yang hampir setiap hari memamerkan foto-foto kemesraan dengan pasangannya demi untuk mencari pengakuan bahwa hubungannya dengan pasangan sedang baik-baik saja. Padahal secara kenyataan, curhatannya mengenai masalah dengan pasangan sudah layak diterbitkan jadi novel melankolis best seller.

Tulisan ini bukanlah pleidoi untuk menyangkal bahwa kami tidak bisa romantis. Akan tetapi cara romantis yang kami lakukan berbeda dari kebanyakan orang. Bagi kami, hal yang paling romantis adalah bisa sama-sama merindukan Allah dengan menyadari akan kegoblokan diri sendiri. Saling membantu dan mengingatkan terhadap manisnya munajat kepada yang Maha Cinta adalah keromantisan yang sejati meskipun terkadang caranya bisa saja menyakitkan satu sama lain karena terbentur oleh nafsu. Dan hal itu tentu saja tidak akan kami tunjukkan di depan publik.

Quality time dan me time kami biasanya ya tidak lepas dari saling bully. Misalnya ada salah satu di antara kami yang melakukan sedikit kesalahan maka kami akan membullynya. Sehingga, hubungan kami ibarat sebuah kaca yang berguna untuk menunjukkan kesalahan masing-masing. Bukan untuk mencari kebaikan dan prestasi masing-masing. Karena dengan kesalahan itu, kita memiliki bekal untuk beromantis ria dengan sang Maha Cinta dengan  penuh rasa tak berdaya. Kenapa kami memilih saling mencari kesalahan? Karena kami tahu salah satu masalah hati kami ada di riya dan kesombongan. Untuk itulah kami berusaha saling mengorek kesalahan pasangan agar bisa saling memperbaiki diri. Dan aku benar-benar berpesan pada Widut untuk tidak sungkan atau tidak enak hati untuk menyatakan kalau akau salah. Aku takut sungkan dan tidak enak hati mengingatkan pasangan yang salah itu bisa menjadi malapetaka di masa depan, di hadapan sang Maha Cinta.

Kenapa harus mengingatkan dengan cara saling membuli? Silahkan baca lagi paragraf ke tiga di atas. wkwkwkw
Read More..