Rabu, 05 September 2018

Google Ibarat Sel Kanker Dalam Hidupku

Leave a Comment
Dulu, dulu... banget, aku mengenal Google hanya melalui layanan pencariannya yang kemudian membawaku untuk mengenal layanan emailnya. Setelah berkenalan beberapa saat kemudian berlanjut ke perkenalan pada layanan blogging. Tepatnya tanggal 4 April 2010 aku membuat blog ini. Hari ini, setelah bertahun-tahun menggunakan layanan Google dari yang gratis sampai yang berbayar membuatku menyadari bahwa layanan itu ibarat sel kanker yang menyerang hidupku. Bagaimana tidak? Selama bertahun-tahun, aku tidak menyadari kalau Google mengambil data perilaku penggunaan layanan untuk mengembangbiakkan layanan yang lain. Hingga detik ini, lebih dari 30 layanan Google kugunakan dan semuanya itu menyebar hampir ke seluruh lini kehidupanku.
Menikmati Parangtritis Pada Sore Hari
Pagi hari,  ketika bangun tidur, Gmail adalah salah satu layanan yang sering kugunakan pertama kali. Mengecek apakah ada email baru adalah kegiatan yang hampir rutin kulakukan. Setelah agak siang dan siap melakukan produksi maka blogging akan menjadi alat untuk pemanasan yang bagus untuk memulai segala aktifitas. Pola seperti itu berlangsung cukup lama sebelum sel kanker itu berkembang biak lebih lanjut diawali dengan diluncurkannya platform Android oleh Google.

Setelah menjadi developer Android beberapa saat, aku mengetahui betapa banyaknya layanan Google yang ada. Dari 30 layanan yang telah aku gunakan ternyata itu belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang ditawarkan. Aku akan mencoba menuliskan daftar layanan Google yang kugunakan:
  1. Pencarian Google > pencarian data dan informasi
  2. Gmail > layanan pesan elektronik
  3. Blogger > layanan blog
  4. Contact > penyimpanan kontak seperti nomor telpon, alamat email, dll.
  5. Analytic > menganalisa kunjungan blog dan perilaku pengunjungnya
  6. AMP > mempercepat loading blog
  7. Search Console > optimasi blog agar memiliki peringkat baik di mesin pencari Google 
  8. Google Earth > aplikasi globe digital
  9. Google Maps > peta digital yang diintegrasi dengan citra satelit
  10. Google site > mirip dengan blogger tapi lebih simpel
  11. Google Cloud Storage > Penyimpanan data 
  12. Virtual Machine > layanan vps berbasis cloud
  13. Youtube > layanan beragi dan menonton video
  14. Firebase > paket layanan firebase yang kugunakan sangat banyak seperti realtime database, cloud storage, cloud functions, messaging, authentication, crashlytic, analityc, ads, dan lain sebagainya
  15. Google plus > sosial media
  16. Google Photos > Penyimpanan video dan foto
  17. Drive > Penyimpanan file
  18. Translate > Layanan terjemahan
  19. Hangout > pertukaran pesan, video call, meeting, dll
  20. Bussiness > mengelola bisnis lokal agar tersedia di google maps
  21. Chrome > browser
  22. Android > Operasi sistem
  23. Play Store > toko aplikasi android
  24. Play Store Developer > Akun untuk menjadi developer android dan memasarkannya di google play
  25. Doc > membuat dokumen atau sekedar catatan ringan
  26. Slides > mempuat presentasi
  27. Sheet > membuat laporan keuangan
  28. AdSense > menambah pendapatan dari blog dan youtube
  29. Admob > menambah pendapatan dari aplikasi android
  30. Google for Education > layanan penunjang pendidikan
  31. Gboard > keyboard untuk ponsel android
  32. Google group > diskusi permasalahan google
  33. Streetview > melihat tempat yang ingin kukunjungi secara 3D
  34. Google Form > membuat atau mengisi formulir
  35. Scholar > mencari dan menyimpan referensi ilmiah (tapi ini sudah lama tidak aku gunakan lagi)
Cepatnya peningkatan jumlah penggunaan layanan Google itu ibarat cepatnya kembangbiak sel kanker. Setiap lini kehidupan berusaha dijangkau olehnya dengan cepat dan tepat sehingga aku tidak bisa lagi menoleh ke layanan lain.

Untuk mengangkat semua sel Google dari kehidupanku, membutuhkan perjuangan yang sangat berliku tentunya. Resiko pekerjaan dan jalinan sosial akan berdampak sekali. Untuk itu, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah meninggalkannya satu per satu.
Read More..

Senin, 03 September 2018

Yang Dihilangkan Itu Gengsi, Bukan Rasa Malu

Leave a Comment
Suatu ketika, aku pernah janjian ketemu dengan seseorang. Itu adalah kali pertamanya rencana kami bertemu. Aku belum tahu bagaimana orangnya dan seperti apa perangainya. Hanya saja, aku yakin kalau dia adalah orang yang baik. Setelah bersepakat bertemu di suatu tempat, aku pun berangkat ke sana sesuai waktu yang ditentukan. Seperti biasanya, untuk membunuh rasa bosan itu, aku selalu mencari warung kopi. Ketemulah warung kopi di seberang jalan dan langsung kuhampiri warung tersebut kemudian memesan minuman dingin yang tidak ada bahan kopinya sama sekali. Ya! warung kopi hanyalah jadi tempat pelarian untuk beragam masalah meskipun sebetulnya bukanlah kopi tujuannya ke situ. Sungguh malang nasibnya kopi kalau ketemu orang seperti diriku. hik..hik..

Hampir satu jam aku menunggu orang yang berjanji akan bertemu denganku di sekitar tempat itu. Rasanya batas kekuatan warung kopi untuk menahan rasa jenuh sudah habis. Aku pun membidikkan kamera ponselku ke beberapa spot paling bagus di sekitar tempat itu untuk membunuh kebosanan yang melakukan reinkarnasi. Beberapa menit kemudian orang yang aku tunggu datang menghampiriku. Ia datang bersama anak dan istrinya saat itu. Setelah basa-basi, dia dengan nada bercanda bilang "Ayo pindah ke tempat yang lebih memanusiakan manusia". Aku dengan sedikit terkejut mengiyakan ajakannya. Setelah membayar, aku pun menghampirinya.
Foto ini diambil saat numpang ngeces HP di sebuah warung dekat alun-alun utara Yogyakarta. Hanya sebagai ilustrasi belaka.
Mengenai urusan tempat nongkrong, aku jarang sekali mempermasalahkannya. Mengajak Widut dan si K di warung-warung pinggir jalan yang tampak kumuh pun biasa. Kalaupun ternyata akibat kekumuhan itu kemudian menghilangkan selera makan ya tidak jadi kumakan. Yang penting pikirku adalah niat infak terpenuhi. Melakukan akad bai' itu adalah bagian dari infak makanya aku tidak pernah mempermasalahkan harga entah itu terlalu murah atau terlalu mahal. Menawar pun terkadang hanya kujadikan formalitas belaka. Bukan karena aku merasa kaya, bukan! Ini lebih ke urusan melatih hati untuk bisa menerima qodlo' dan qodar dari Allah. "Semua itu hanya titipan", pikirku. Kalau semua itu titipan dari Allah kemudian dibelanjakan sesuai jalan yang dibolehkan-Nya kan tidak masalah. Boros? Ah tidak juga bagiku. Boros itu kan kalau belanja melebihi kapasitas. Misalnya aku cuma punya uang Rp 5.000 kemudian masuk ke Cafe kelas elit dan pesan masakan paling favorit di sana. Kalau aku bawa uang Rp.50.000 kemudian mampir di warung pinggir jalan hanya habis Rp. 20.000 kan tidak boros meskipun ujung-ujungnya tidak jadi kumakan apa yang kubeli. 

"Apa salahnya sih menjawab tidak bisa atau tidak tahu?", kalimat itu yang sering aku tekankan pada diri sendiri. Selain dari kelas tempat nongkrong, gengsi juga terkadang muncul agar tidak terlihat bodoh sehingga berusaha menjawab atau mengomentari semua hal yang ditanyakan atau dijumpai pada timeline Facebook. Tulisanku yang berjudul Jadi Programmer Itu Berat, Biar Aku Saja sedikit menguraikan sisi kehidupanku yang sering dianggap serba tahu pada hal-hal yang sebetulnya aku tidak tahu. Disamping urusan itu, aku juga sering kali dianggap lebih tahu mengenai urusan agama. Aku berusaha realistis dan menyampaikan apa adanya. Kalau memang tidak tahu ya kukatakan tidak tahu kalau tahu ya kusampaikan sesuai apa yang aku pahami meskipun terasa menyakitkan. Maka dari itu, ada sebagian yang mengatakan kalau aku terlalu jujur. Tampaknya memang aku butuh kelas privat untuk berbohong atau berdiplomasi, sih. Buktinya dari 15 anak yang nyanggar di sini sekarang tinggal 2 saja. Lainnya sudah pada hijrah ke jalan yang benar.
Sumber: Giphy
Aku sering merasa senang dihadapkan dengan beragam masalah. Salah satu contoh ketika aku memiliki konflik dengan seseorang kemudian membuatku merasa lebih benar dari dia maka hal itu membuatku senang. Ya! aku merasa memiliki kesempatan untuk mengukur seberapa tingkat kemampuanku dalam hal menundukkan gengsi. Kalau aku merasa benar kemudian sampai mengacuhkan orang tersebut bearti aku gagal akan tetapi kalau aku masih bisa ta'dzim apalagi sampai kuat ngalap berkah darinya maka aku berhasil. Jadi kesombongan yang ada itu bisa dikonversi menjadi alat yang sangat berharga nilainya bagiku.

Menghadapi orang-orang yang menentang apa yang kulakukan disini, misalnya tentang Sanggar Pelangi, tentang keputusanku pindah ke masjid, dan lain sebagainya yang kemudian memunculkan anggapan yang bukan-bukan, hal itu memang sangat menyenangkan bagiku. Banyak hal yang bisa kupelajari dari situ. Aku merasa memiliki banyak bahan untuk belajar menata hati dan pikiran. Belajar menghilangkan gengsi. Aku tidak malu untuk mengakui kalau aku kalah alim, kalah pintar, kalah kuasa, dan lain sebagainya. Paling tidak, aku tahu bagian diriku yang mana yang perlu diperbaiki. Kalau aku masih gengsi dan merasa berhak dan layak untuk dianggap ada dan berarti bagi masyarakat bearti itu tandanya aku gagal. Sudah sepantasnya seorang khodim yang sedang berhidmah tidak dihargai, bukan? Diabaikan adalah hal yang biasa. Banyak yang malu bertemu dan akrab denganku adalah hal yang wajar. Sekali lagi, di sini, aku niat untuk berkhidmah bukan berjuang. Jadi kalau aku diperlakukan layaknya gembel adalah hal yang normal belaka. Camkan itu, Dut.
Sumber: Giphy

Read More..

Jumat, 31 Agustus 2018

Dekat Tapi Terasa Berjauhan, Kok Bisa?

Leave a Comment
Aku seringkali merasa heran dengan perilaku wanita, terutama istriku sendiri. Setiap hari, aku bekerja di rumah dan selalu bertemu dengannya. Ketika ada waktu luang, aku sering mengajaknya keluar (jalan-jalan) meskipun hanya ke taman kota yang tak perlu mengeluarkan uang untuk jajan. Intinya, quality time itu selalu tersedia untuknya meskipun ya sekenanya saja. Tapi kok tetap saja ia sambat kalau sering merasa kangen padaku. Ciyee... ciyeee..
Dokumentasi jalan-jalan di sekitar Tuntang, kabupaten Semarang
Malam hari, usai sholat isya, ritual sambat kangen itu sering dilakukannya. Padahal! Seharian itu, aku juga selalu di rumah dan berkali-kali bertemu dengannya. Tidak hanya bertemu melainkan juga mengobrol ringan atau main-main dengan si K bareng meskipun sebentar. Tapi kok tetap saja ia bilang kangen padaku. Sebetulnya isyarat apa to itu? Aku pun jadi bertanya-tanya sebetulnya sebanyak apa sih perhatian yang dibutuhkan wanita? Lha wong aku yang setiap hari di rumah saja membuatnya seperti itu lalu bagaimana dengan wanita yang ditinggal kerja suaminya di luar rumah atau bahkan sampai LDR-an sampai berbulan-bulan baru bisa ketemu? Sedalam apa perasaan kangennya itu?

Perilaku itu, sambat kangen itu, sebetulnya sering membuatku jengkel. Bagaimana tidak jengkel jika sedang dikejar deadline malah ia sambat kangen dan tidak mau ditinggal meskipun hanya di kamar sebelah saja. Aku merasa kok doi seperti kurang syukur saja. Dibandingkan dengan teman-teman yang sering berinteraksi di dunia nyata maupun dunia maya, sebetulnya kehidupan kami jelas terasa sangat ideal dan dan diidamkan banyak orang. Siapa sih yang gak suka kerja hanya duduk-duduk di rumah saja? Siapa sih yang gak pengen bisa libur kerja kapan saja? Siapa sih yang tidak ingin bisa jalan-jalan malah mendapat bayaran? Siapa sih yang tidak ingin foto selfie saja dibayar? Update status Facebook, Instagram, Twitter, nulis di blog dibayar? Siapa yang tidak ingin itu semua? Kehidupan kami seperti itu.
sumber: giphy
Tapi bagaimana pun, meskipun jengkel, aku tidak pernah mengabaikan hal itu. Aku tetap memikirkan kok bisa fenomena seperti itu muncul. Aku pun kemudian membuka arsip-arsip pengetahuanku mengenai psikologi wanita yang dulu pernah kupelajari secara serius. Hasilnya membuatku dapat menyimpulkan bahwa pertemuan demi pertemuan yang terjadi setiap hari itu bukanlah pertemuan yang heart to heart. Hanya pertemuan formil saja seperti bertemunya rekan kerja yang satu dengan rekan kerja lainnya. Ketika bertemu ya bertanya sekadarnya atau ngobrol sekadarnya saja. membahas apa saja yang terlintas di kepala bukan apa yang dirasa dalam hati. Mungkin itulah penyebabnya meskipun setiap hari bertemu denganku tetapi ia masih merasa kesepian.

Aku mencoba melakukan kilas balik ke beberapa kejadian demi kejadian lampau yang bagiku sudah bisa menjadi pengerat hubungan dan penawar rindu seperti mengajaknya jalan-jalan atau sekedar makan di warung lesehan pinggir jalan. Kenapa hal itu tidak cukup baginya sebagaimana aku merasa cukup? Dari sini aku menarik kesimpulan seperti ini: Mungkin meskipun kita saat itu memang mengususkan waktu untuk jalan bareng akan tetapi kami memiliki urusan masing-masing dan fokus ke urusan masing-masing. Tanya jawab ya seputar urusan masing-masing dan karir masing-masing. Jarang sekali kok membahas menggunakan kata ganti kita tapi lebih cenderung ke kata ganti aku. Intinya saat itu adalah kita masih berupa dua entitas yang berbeda. Belum bisa membaur satu sama lain. kalaupun menggunakan kata ganti kami, itu pun demi ambisi masing-masing dan tidak ada kaitannya dengan perasaan antara satu dengan yang lain. Misalnya ambisi membangun A, B, C dan seterusnya.
sumber: giphy
Perenungan lebih dalam membawaku berpikir bahwa ternyata frekuensi pertemuan itu tidak menjamin suatu hubungan yang harmonis. Komunikasi yang intensif juga tidak menjamin kebutuhan batin terpenuhi. Perlu adanya saling memahami kebutuhan masing-masing. Resep dan dosis yang diberikan perlu disesuaikan dengan kebutuhan itu.

Jujur saja, aku belum bisa memetakan apa yang seharusnya dilakukan. Untuk itu lah aku menulis karena melalui tulisanlah komunikasi efektif bisa kami lakukan. Penyampaian ide, perasaan, dan beragam kebutuhan lainnya sangat efektif disampaikan melalui tulisan. Kecuali pembahasan urusan ranjang, saling sentil dan marah lewat tulisan terasa sangat menyenangkan. Apa karena kami terbiasa berkomunikasi lewat tulisan sehingga meskipun dekat terasa seperti berjauhan? Allahu a'lam.
Read More..

Jadi Programmer Itu Berat, Biar Aku Saja

Leave a Comment
Pernahkah kamu dimintai tolong untuk membetulkan handphone yang rusak? tv rusak? monitor rusak? mobil remot mainan rusak? printer rusak? Aku pernah. Seakan-akan, seorang programmer itu dianggap bisa menyelesaikan semua pekerjaan yang ada kaitannya dengan elektronik. Bahkan sampai istri yang rusak saja pernah diminta untuk betulin. Sumprit. Apakah semuanya berhasil dibetulin? Ya jangan tanya kalau masalah itu. Sebagian sih bisa tapi sebagian yang lainnya bisa dengan syarat ditukar dengan yang baru. Uhuk. Uhuk.
sumber: gipy
Suatu hari, ada yang datang bilang gini "tolong buatin ini, ya. gampang banget kok. Cuma gini, gini, dan gini". Aku mbatin "gampang sih kalo ngomong doang". Aku hampir keceplosan bilang gini "lha kalo gampang silakan bikin sendiri nanti tak bayar dua kali lipat dari harga yang kamu tawarkan". tetapi urung karena memang kan aku orang baik. Ahaay. Siapa kita....? Yak. Tul. Orang baik.

Di lain kesempatan, ada juga yang menganggap kalo kerjaannya programmer itu enak. Tinggal duduk sambil mencet-mencet tombol laptop sesekali menyeruput kopi dan mengepulkan asap rokok. Tampaknya begitu nikmat. "Pekerjaanmu enak, ya. Cuma duduk-duduk doang transferan lancar". Jika ada yang memiliki anggapan seperti itu, biasanya aku langsung menyahut begini "Iya. Enak banget. Aku butuh teman untuk bantu aku menyelesaikan pekerjaan, lho. Mau ikut kerja kayak gini?". Mendengar tawaran seperti itu, umumnya mereka pada mau. Akan tetapi berubah 180o Ketika sudah dijelaskan apa saja yang dibutuhkan dan cara kerjanya bagaimana. "Mumet ora, son?", batinku ketika melihat ekspresinya yang tiba-tiba berubah. Eh lha dalah... ternyata setelah mau pamit aku baru tahu kalau mujinya itu karena mau minjem uang. Modyarr.

Di sisi yang lain, ada juga yang menganggap kalau programmer itu layaknya pengangguran. Lha iya to masak saat umumnya manusia berangkat kerja kok ini malah nyari kehangatan di balik selimut atau dekapan sang istri. Ehem. Terus istri dan anaknya mau dikasih makan batu gitu? Kerja, dong, euy. Kerjaannya kok cuma makan, tidur, dan kelon mulu. Dikira ini bumi milik simbahnya apa? Orang model kayak gitu, biasanya, dikasih rokok sebatang sudah mingkem apalagi ditraktir ngopi. Wah sudah langsung seperti khodimul khos. Kalau dari kalangan ibu-ibu ya cukup dikirimi telor sekilo sudah cukup. Gak usah diambil hati, lah. Cukuplah sakit hati itu sama mantan yang meninggalkamu saat lagi sayang-sayangnya. Ehehehe... ehehehe... ehehehe
sumber: giphy
Tapi memang, jadi programmer itu sering kali memiliki banyak waktu luang untuk keluarga. Apalagi jika kita tidak terlalu tamak untuk menerima semua job yang masuk. Waktu untuk keluarga akan sangat berlimpah. Apalagi (lagi) kalau ditambah dengan bonus liburan dalam rangka rembukan membahas rancangan program yang mau dibuat. Sudah dapat liburan gratis, dapat uang, dapat proyek lagi. Sungguh seperti dunia ini hanya milik programmer belaka.

Jujur saja, jika disuruh memilih pekerjaan yang paling kuingini saat ini adalah ya jadi pengangguran dengan gaji tetap. Misalnya pergi ke sekolah pamitnya ngajar tapi sesampainya di sana hanya mainan sosial media terus muridnya disuruh belajar mandiri. Atau pergi ke kantor dengan alasan rapat tetapi sesampainya di sana buka gadget terus membidikkan kamera ke peserta rapat untuk dibuat streaming. Lumayan kan dapat penghasilan tambahan dari Yutub?

Pengangguran sedang bermain sepeda

Bai de way, aniway, busway, ondemande, saat ini aku tetap bangga menjadi programmer. Yak. Meskipun terasa berat di hati, di otak, dan di kantong. Bagaimana tidak bangga? Kurang beberapa bulan lagi, sudah hampir 10 tahun loh aku menekuni dunia pemrograman dan masih saja tetap miskin. Makanya biar aku saja, jadi programmer itu berat.
Read More..

Rabu, 29 Agustus 2018

Waktu Yang Tepat Untuk Bersih-Besih Pertemanan Facebook

Leave a Comment
Menjelang pemilu raya tahun 2019 nanti, spertinya saat ini adalah waktu yang tepat untuk bersih-bersih pertemanan facebook. Bukan karena berbeda pilihan yang membuat tidak tahan menjaga pertemanan di facebook, bukan. Melainkan karena perilaku buruk yang sering dilakukan kedua kubu pendukung calon presiden membuat hati tidak nyaman. Lha untuk apa to mempertahankan orang seperti itu di daftar pertemanan? Lha wong secara logika antara teman dan bukan teman di Facebook itu sebetulnya juga tidak ngaruh-ngaruh amat. Meskipun tidak dipungkiri juga banyak teman baik yang dikenal melalui Facebook tapi "kenalan" dari facebook itu apa harus menjadi teman secara resmi di facebook?

Ilustrasi unfriend teman facebook | Sumber: lifehacker.com
 Aku merasa biasa saja membatalkan pertemanan dengan pengguna facebook terutama yang sering menyebarkan hoax, mencacimaki, sumpah serapah, dan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan norma agama, hukum, maupun adat-istiadat. Lha wong niatku menggunakan facebook bukan untuk berdakwah, kok. Kalau ada yang mengganggu hati ya mending dihindari. Kalau sudah diingatkan tidak berubah ya mending diunfriend saja. Hidup di dunia nyata saja sudah ruwet masak di sosmed juga mau meruwetkan diri sendiri? Mending ikut faham kenthir yang bisa membuat hidup menjadi lebih nyaman dengan tertawa bersama.

Baru beberapa menit setelah aku menerbitkan Unfriend Teman Baru Diterima 5 Menit, aku membatalkan pertemanan lagi pada pengguna lain. Gara-garanya, ia tendensius mengatai orang mengolok adzan hanya karena membela orang yang dihukum karena dituduh melakukan penistaan agama karena merasa terganggu dengan suara adzan yang terlalu keras. Kurang lebih, apa yang dibagikannya berisi begini: kalau suka mengolok adzan maka jangan gunakan speaker masjid untuk mengumumkan jika ada yang meninggal. Gunakan whatsapp saja. Katakan kalau ada bangkai yang perlu dikubur. Sungguh! aku merasa terganggu dengan kata-kata itu. Makanya aku langsung unfriend saja meskipun dia adalah teman sekolah dulu dan pernah sangat akrab.

Sumber: giphy
 Daftar yang akan kuunfriend sebetulnya masih banyak. Aku memiliki teman di Facebook beragam. Ada yang mendukung kubu A ada yang mendukung kubu B. Ada yang dari partai C ada yang dari partai D. Aku tidak pernah mempermasalahkan perbedaan sudut pandang dan pilihan masing-masing teman. yang menjadi masalah bagiku adalah ketika ada sebagian dari mereka yang menyerang sebagian yang lain dengan kata-kata kasar, tendensius, dan seolah-olah yang berbeda dari mereka diangap salah dan bodoh. Jika sudah demikian maka machine learning yang kutanam di dalam otakku akan otomatis menggerakkan tangan untuk unfriend mereka.

Selama ini, aku tidak pernah merasa ada masalah dengan teman-teman yang tidak setuju dengan tahlilan, ziarah kubur, atau hal-hal lain yang sering dianggap bid'ah. Asal mereka menyampaikan dengan baik maka aku juga akan merasa biasa saja. Ada juga teman pendukung pak Prabowo ada juga yang mendukung pak Jokowi untuk pemilu raya tahun 2019. Ketika apa yang disampaikan biasa saja tanpa menjelekkan kubu yang bersebrangan maka aku juga akan biasa saja. yang menjadi masalah, sekali lagi, ketika sudah saling serang dengan menggoblok-goblokkan, menjelekkan masing-masing tokoh yang didukung teman yang berbeda, apalagi sampai mengangap kafir mereka yang berbeda pilihan.

Sumber: giphy

Aku bukanlah siapa-siapa. Unfriend atau tidak juga tidak akan berpengaruh apa-apa pada mereka. Tetapi jika aku tetap berteman dengan mereka dan melihat kecaman dan serangan itu menjadi pengaruh pada diriku. Paling tidak aku merasa tidak nyaman. Untuk itu lah aku memilih untuk melakukan unfriend massal.
Read More..