Sabtu, 08 Desember 2018

Pergeseran dari Tim Gamis ke Tim Celana dan Tunik

Leave a Comment
Bulan puasa kemarin aku pernah membuat blogpot di widiutami dot com, bareng dengan #BloggerKAH tentang tim gamis dan jilbab segiempat, eh, ternyata sekarang daku bergeser dari tim gamis ke tim celana dan tunik. Dulu juga tim daster addict, sekarang malah enggak punya daster babar blas, dasternya sudah pada pensiun tapi emak K enggak niat beli.

Why?

Si K yang mulai super aktif dan membutuhkan gerak leluasa dan lincah untuk mengikuti langkah-langkahnya menjadi alasan utama. Mobilitas yang semakin tinggi dan mengharuskan aku membonceng ataupun nyetir motor dengan membawa si K, harus mempehatikan benar-benar keamanan dan kenyamanannya, menjadi alasan kedua,

Gamis yang kumiliki biasanya kupakai saat di rumah. Jika keluar rumah dengan menggunakan gamis, aku masih memakai celana kulot sebagai dalamannya, biar kalau nenteng-nenteng ujung gamis auratnya tetap aman. Lha piye, si K itu kalau lompat lincah, jika emaknya ribet dengan gamis, aduh, bocahnya bakal melesat dan aku harus mengejarnya.

Bawahan celana panjang dan rok wanita muslimah yang semakin hari semakin beragam pilihannya, enggak kalah cantik dengan gamis, pun tetap mempehatikan syaiatnya membuatku semakin mantab untuk mengubah style tanpa harus menabrak aturan berpakaian perempuan muslim.
Tunik dan celana kulot favorit,abaikan jilbab yang enggak nyambung, ya!


Memilih Celana yang Nyaman untuk Emak-emak

Dalam memilih celana, daku tergolong cerewet. Cerewetnya ini bukan karena aku sok-sokan, tetapi aku memiliki kenangan buruk karena ceroboh memilih bahan celana.Kala itu aku buru-buru memilih celana kulot, kupilih celana yang sekianya enggak ketat dan enggak nerawang. Eh, ternyata celananya berbahan jersey.

Petaka datang saat aku tengah berdiri di dekat selokan, si K yang usil biasalah, lari sana-sini, naik turun selokan yang enggak ada airnya. Tiba-tiba, si K berpegangan erat pada ujung celanaku, aku yang enggak siap spontan memegang celana yang melorot. Celananya melar, NERAWANG! Byuhhhh. Untung enggak ada orang lain.

Pelajaran pertama, jangan memilih celana yang berbahan jersey jika aktivitasnya menuntut kelincahan. Sekalipun enggak nerawang, tetapi saat celananya enggak sengaja ketarik, otomatis bakal nerawang.Selain itu, celana berbahan jersey gampang melorot, enggak disarankan untuk emak-emak yang mobilitasnya tinggi. Tapi kalau emak-emak nyantai sih enak pakai jenis kain jercey, adem.

Terus, milih celana bahan apa dong?

Aku sekarang lebih memilih celana berbahan wolly crepe, katun atau kanvas. Bagi yang bisa memakai celana denim, celana ini nyaman digunakan. Emak K enggak nyaman karena celana denim biasanya ketat. Daku biasa menggunakan kain jenis denim untuk rok atau gamis.

Atasan Favorit Emak K

Berbicara soal atasan, emak K adalah fans tunik garis keras. Sejak dulu aku menyukai baju dengan panjang sampai selutut. Enggak nyaman memakai baju yang panjangnya cuma sepaha. Bukan apa-apa sih, hanya alasan kepraktisan saja.Enggak mau ribet memeriksa apakah ada aurat yang tersingkap saat jalan atau bergerak.

90% baju atasanku berjenis tunik dengan berbagai bahan. Ada yang jahit sendiri, ada juga yang beli jadi. Biasanya nih, atasan yang beli jadi lengannya kependekan. Maklum, tangan panjang. Tangan panjang dalam arti sebenarnya lho. Hahahaha

Bahan tunik yang nyaman untukku berbahan katun, satin, baloteli, toyobo. Yang enggak perlu disetrika? Bahan wollycrepe.Hahaha, sayang, bahan wollycrepe kalau dipakai di Bojonegoro gerah banget. Bahan denim juga lumayan enggak perlu disetrika. Dasar tim emak-emak malas nyetrika. Heuheuu.


Kalau kamu, tim gamis apa tim celana dan atasan, Mak? Tim apapun, yang penting paling nyaman di badan, ya.


Read More..

Jumat, 07 Desember 2018

Memecahkan Ketuban; Salah Satu Cara Induksi Persalinan

Leave a Comment
Aku tidak menyadari jika dulu juga mengalami induksi persalinan. Gara-gara membaca referensi terkait induksi persalinan, aku begumam,"Oh, memecahkan ketuban juga termasuk induksi persalinan."

Kukira, induksi persalinan hanyalah suntik dan infus yang memacu pembukaan demi pembukaan. Ternyata enggak, ada beberapa metode induksi persalinan yang dilakukan oleh penolong persalinan yang bisa dipilih sesuai dengan kondisi Ibu Hamil.

Induksi persalinan adalah proses stimulasi untuk mempercepat proses persalinan. Metode ini sangat beresiko dibandingkan dengan persalinan alamiah, sehingga membutuhkan pendampingan ketat dari tenaga penolong persalinan. Ada baiknya kita atau keluarga kita bertanya terlebih dahulu kepada dokter tentang konsekuensi juga resiko yang haus kita hadapi jika menyetujui tindakan induksi.

Jaman kelahiran si K dulu, aku mengalami kontraksi sejak jum'at dini hari jam 3 pagi, Jum'at jam 6 sore si K belum menampakkan tanda-tanda siap dilahirkan. Hingga kemudian aku dirujuk ke RSU Puri Asih pada hari Jum'at jam 11 malam. Hari Sabtu jam 12 malam, ketubannya pecah dan bidan yang mendampingi memutuskan untuk memecahkan ketuban agar pembukaan segera sempurna dan bayi bisa segera dilahirkan.

Rasanya?
Entah. Enggak kerasa. Malah lega luar biasa karena setelah ketuban pecah, bidan segera memberikan intruksi untuk ngeden. Akhirnya!



Beberapa Cara Induksi Persalinan

Induksi persalinan ternyata enggak cuma suntik dan infus. Ada beberapa cara Induksi Pesalinan yang bisa dilakukan oleh tenaga penolong yang bisa dipilih sesuai dengan kondisi  Ibu.
  • Membrane Sweep
Membrane Sweep dilakukan oleh tenaga peolong persalinan dengan cara menyapukan tangan di leher rahim untuk memisahkan kantung ketuban dengan leher rahim. Hal ini dilakukan karena ketika kantung ketuban dan leher rahim terpisah, tubuh akan mengeluarkan hormon Prostaglandin yang berperan sebagai pemicu persalinan.
  • Mematangkan Leher Rahim
Pada beberapa Ibu mengalami kondisi janin sudah siap dilahirkan namun leher rahim belum matang. Kematangan leher rahim ditandai oleh tenaga penolong persalinan sebagai pembukaan. Pembukaan 1-10 maksudnya adalah leher rahim sudah melebar dengan ukuran 1 cm, 2 cm hingga 10 cm. 10 cm adalah ukuran lebar yang dianggap sudah siap untuk melakukan persalinan.
Untuk membantu mematangkan leher rahim,dokter akan memberikan obat berisi hormon yang harus diminum, bisa juga dimasukkan obat melalui vagina, beberapa menggunakan kateter balon yang dimasukkan melalui jalan lahir.
  • Memecahkan Air Ketuban
Aku dulu mengalami kondisi dimana pembukaan sudah lebar tetapi ketuban tidak kunjung pecah meskipun aku sudah mengalami kontraksi lebih dari 24 jam. Sebelum melakukan pecah ketuban, bidan terlebih dahulu memonitoring detak jantung janin, begitu juga setelah ketuban dipecahkan, detak jantung janin akan diperiksa secara berkala.
Waktu itu setelah dipecahkan ketubannya, aku langsung disuruh mengedan meskipun perutnya harus didorong oleh 4 orang bidan. Hahahaha
  • Menggunakan Obat-obatan yang Diinfuskan ke Pembuluh Darah
Oksitosin, Homon sintesis untuk memicu persalinan disuntikkan ke dalam infus yang sudah dipasang ke pembuluh darah.Proses ini dilakukan jika leher rahim sudah mulai matang dan melunak. 

Apakah penting mengetahui jenis-jenis induksi persalinan untuk Ibu yang akan melahirkan? Sangat penting. Agar kita siap dan tidak panik ketika tenaga penolong persalinan memutuskan untuk melakukan tindakan induksi. Ilmu yang cukup akan membantu Ibu untuk rileks, rileks ini sangat penting saat proses persalinan. Ya, jika ada kesakitan dan berasa ingin nyakar suami itu mah wajar. Hehehehe
Read More..

Selasa, 23 Oktober 2018

Cara Romantis Kami Dalam Menjalin Hubungan

Leave a Comment
Kata-kata romantis ini sering kali dipertanyakan manakala kami seringkali terlihat konyol dalam mengekspresikan perasaan masing-masing. Ekspresi itu sering kali dipandang bukanlah sesuatu yang romantis melainkan ekspresi datar yang kurang baik dilakukan untuk menjalin hubungan.

Aku dengan istriku, Widut, memang jarang sekali menunjukkan kemesraan hubungan, manja-manjaan, atau sekedar foto selfie berdua. Sebaliknya kami malah sering tampak di publik dengan cara saling mengejek (jawa: ece-ecean) atau saling membully satu sama lain. Hal itu tentu saja kami lakukan dengan alasan yang sudah diperhitungkan meskipun tanpa adanya kesepakatan.


Kami menilai bahwa saling mengejek itu tingkatannya lebih tinggi dibandingkan dengan istilah romantis yang biasa digunakan secara umum. Kalau sekedar manja-manjaan atau pamer foto selfie menurut kami semua orang bisa melakukan hal itu meskipun sebetulnya hubungan sedang dilanda masalah yang runyam. Akan tetapi kalau saling bully lain lagi ceritanya.

Saling bully itu bagi kami menunjukkan kalau hubungan kami sedang baik-baik saja. Tidak mungkin ketika kami sedang ada masalah di dalam hubungan masih berani membully satu sama lain. Kalaupun sampai berani mungkin saja akan menjadikan masalah yang ada itu semakin genting. Lha, saat sedang dilanda masalah itu, kami bisa saja pamer foto selfie berdua atau pamer manja-manjaan untuk menutupi masalah yang sedang kami alami.

Widut pernah bercerita kalau ada temannya yang mengaku suaminya mendadak menjadi baik dan super perhatian. Setelah beberapa saat kemudian diketahui ternyata apa yang dilakukannya itu digunakan untuk menutupi rasa bersalahnya suami karena memiliki istri baru tanpa memberitahu istri yang pertama.

Ada juga teman yang hampir setiap hari memamerkan foto-foto kemesraan dengan pasangannya demi untuk mencari pengakuan bahwa hubungannya dengan pasangan sedang baik-baik saja. Padahal secara kenyataan, curhatannya mengenai masalah dengan pasangan sudah layak diterbitkan jadi novel melankolis best seller.

Tulisan ini bukanlah pleidoi untuk menyangkal bahwa kami tidak bisa romantis. Akan tetapi cara romantis yang kami lakukan berbeda dari kebanyakan orang. Bagi kami, hal yang paling romantis adalah bisa sama-sama merindukan Allah dengan menyadari akan kegoblokan diri sendiri. Saling membantu dan mengingatkan terhadap manisnya munajat kepada yang Maha Cinta adalah keromantisan yang sejati meskipun terkadang caranya bisa saja menyakitkan satu sama lain karena terbentur oleh nafsu. Dan hal itu tentu saja tidak akan kami tunjukkan di depan publik.

Quality time dan me time kami biasanya ya tidak lepas dari saling bully. Misalnya ada salah satu di antara kami yang melakukan sedikit kesalahan maka kami akan membullynya. Sehingga, hubungan kami ibarat sebuah kaca yang berguna untuk menunjukkan kesalahan masing-masing. Bukan untuk mencari kebaikan dan prestasi masing-masing. Karena dengan kesalahan itu, kita memiliki bekal untuk beromantis ria dengan sang Maha Cinta dengan  penuh rasa tak berdaya. Kenapa kami memilih saling mencari kesalahan? Karena kami tahu salah satu masalah hati kami ada di riya dan kesombongan. Untuk itulah kami berusaha saling mengorek kesalahan pasangan agar bisa saling memperbaiki diri. Dan aku benar-benar berpesan pada Widut untuk tidak sungkan atau tidak enak hati untuk menyatakan kalau akau salah. Aku takut sungkan dan tidak enak hati mengingatkan pasangan yang salah itu bisa menjadi malapetaka di masa depan, di hadapan sang Maha Cinta.

Kenapa harus mengingatkan dengan cara saling membuli? Silahkan baca lagi paragraf ke tiga di atas. wkwkwkw
Read More..

Rabu, 05 September 2018

Google Ibarat Sel Kanker Dalam Hidupku

Leave a Comment
Dulu, dulu... banget, aku mengenal Google hanya melalui layanan pencariannya yang kemudian membawaku untuk mengenal layanan emailnya. Setelah berkenalan beberapa saat kemudian berlanjut ke perkenalan pada layanan blogging. Tepatnya tanggal 4 April 2010 aku membuat blog ini. Hari ini, setelah bertahun-tahun menggunakan layanan Google dari yang gratis sampai yang berbayar membuatku menyadari bahwa layanan itu ibarat sel kanker yang menyerang hidupku. Bagaimana tidak? Selama bertahun-tahun, aku tidak menyadari kalau Google mengambil data perilaku penggunaan layanan untuk mengembangbiakkan layanan yang lain. Hingga detik ini, lebih dari 30 layanan Google kugunakan dan semuanya itu menyebar hampir ke seluruh lini kehidupanku.
Menikmati Parangtritis Pada Sore Hari
Pagi hari,  ketika bangun tidur, Gmail adalah salah satu layanan yang sering kugunakan pertama kali. Mengecek apakah ada email baru adalah kegiatan yang hampir rutin kulakukan. Setelah agak siang dan siap melakukan produksi maka blogging akan menjadi alat untuk pemanasan yang bagus untuk memulai segala aktifitas. Pola seperti itu berlangsung cukup lama sebelum sel kanker itu berkembang biak lebih lanjut diawali dengan diluncurkannya platform Android oleh Google.

Setelah menjadi developer Android beberapa saat, aku mengetahui betapa banyaknya layanan Google yang ada. Dari 30 layanan yang telah aku gunakan ternyata itu belum ada apa-apanya dibanding dengan apa yang ditawarkan. Aku akan mencoba menuliskan daftar layanan Google yang kugunakan:
  1. Pencarian Google > pencarian data dan informasi
  2. Gmail > layanan pesan elektronik
  3. Blogger > layanan blog
  4. Contact > penyimpanan kontak seperti nomor telpon, alamat email, dll.
  5. Analytic > menganalisa kunjungan blog dan perilaku pengunjungnya
  6. AMP > mempercepat loading blog
  7. Search Console > optimasi blog agar memiliki peringkat baik di mesin pencari Google 
  8. Google Earth > aplikasi globe digital
  9. Google Maps > peta digital yang diintegrasi dengan citra satelit
  10. Google site > mirip dengan blogger tapi lebih simpel
  11. Google Cloud Storage > Penyimpanan data 
  12. Virtual Machine > layanan vps berbasis cloud
  13. Youtube > layanan beragi dan menonton video
  14. Firebase > paket layanan firebase yang kugunakan sangat banyak seperti realtime database, cloud storage, cloud functions, messaging, authentication, crashlytic, analityc, ads, dan lain sebagainya
  15. Google plus > sosial media
  16. Google Photos > Penyimpanan video dan foto
  17. Drive > Penyimpanan file
  18. Translate > Layanan terjemahan
  19. Hangout > pertukaran pesan, video call, meeting, dll
  20. Bussiness > mengelola bisnis lokal agar tersedia di google maps
  21. Chrome > browser
  22. Android > Operasi sistem
  23. Play Store > toko aplikasi android
  24. Play Store Developer > Akun untuk menjadi developer android dan memasarkannya di google play
  25. Doc > membuat dokumen atau sekedar catatan ringan
  26. Slides > mempuat presentasi
  27. Sheet > membuat laporan keuangan
  28. AdSense > menambah pendapatan dari blog dan youtube
  29. Admob > menambah pendapatan dari aplikasi android
  30. Google for Education > layanan penunjang pendidikan
  31. Gboard > keyboard untuk ponsel android
  32. Google group > diskusi permasalahan google
  33. Streetview > melihat tempat yang ingin kukunjungi secara 3D
  34. Google Form > membuat atau mengisi formulir
  35. Scholar > mencari dan menyimpan referensi ilmiah (tapi ini sudah lama tidak aku gunakan lagi)
Cepatnya peningkatan jumlah penggunaan layanan Google itu ibarat cepatnya kembangbiak sel kanker. Setiap lini kehidupan berusaha dijangkau olehnya dengan cepat dan tepat sehingga aku tidak bisa lagi menoleh ke layanan lain.

Untuk mengangkat semua sel Google dari kehidupanku, membutuhkan perjuangan yang sangat berliku tentunya. Resiko pekerjaan dan jalinan sosial akan berdampak sekali. Untuk itu, cara terbaik yang bisa dilakukan adalah meninggalkannya satu per satu.
Read More..

Senin, 03 September 2018

Yang Dihilangkan Itu Gengsi, Bukan Rasa Malu

Leave a Comment
Suatu ketika, aku pernah janjian ketemu dengan seseorang. Itu adalah kali pertamanya rencana kami bertemu. Aku belum tahu bagaimana orangnya dan seperti apa perangainya. Hanya saja, aku yakin kalau dia adalah orang yang baik. Setelah bersepakat bertemu di suatu tempat, aku pun berangkat ke sana sesuai waktu yang ditentukan. Seperti biasanya, untuk membunuh rasa bosan itu, aku selalu mencari warung kopi. Ketemulah warung kopi di seberang jalan dan langsung kuhampiri warung tersebut kemudian memesan minuman dingin yang tidak ada bahan kopinya sama sekali. Ya! warung kopi hanyalah jadi tempat pelarian untuk beragam masalah meskipun sebetulnya bukanlah kopi tujuannya ke situ. Sungguh malang nasibnya kopi kalau ketemu orang seperti diriku. hik..hik..

Hampir satu jam aku menunggu orang yang berjanji akan bertemu denganku di sekitar tempat itu. Rasanya batas kekuatan warung kopi untuk menahan rasa jenuh sudah habis. Aku pun membidikkan kamera ponselku ke beberapa spot paling bagus di sekitar tempat itu untuk membunuh kebosanan yang melakukan reinkarnasi. Beberapa menit kemudian orang yang aku tunggu datang menghampiriku. Ia datang bersama anak dan istrinya saat itu. Setelah basa-basi, dia dengan nada bercanda bilang "Ayo pindah ke tempat yang lebih memanusiakan manusia". Aku dengan sedikit terkejut mengiyakan ajakannya. Setelah membayar, aku pun menghampirinya.
Foto ini diambil saat numpang ngeces HP di sebuah warung dekat alun-alun utara Yogyakarta. Hanya sebagai ilustrasi belaka.
Mengenai urusan tempat nongkrong, aku jarang sekali mempermasalahkannya. Mengajak Widut dan si K di warung-warung pinggir jalan yang tampak kumuh pun biasa. Kalaupun ternyata akibat kekumuhan itu kemudian menghilangkan selera makan ya tidak jadi kumakan. Yang penting pikirku adalah niat infak terpenuhi. Melakukan akad bai' itu adalah bagian dari infak makanya aku tidak pernah mempermasalahkan harga entah itu terlalu murah atau terlalu mahal. Menawar pun terkadang hanya kujadikan formalitas belaka. Bukan karena aku merasa kaya, bukan! Ini lebih ke urusan melatih hati untuk bisa menerima qodlo' dan qodar dari Allah. "Semua itu hanya titipan", pikirku. Kalau semua itu titipan dari Allah kemudian dibelanjakan sesuai jalan yang dibolehkan-Nya kan tidak masalah. Boros? Ah tidak juga bagiku. Boros itu kan kalau belanja melebihi kapasitas. Misalnya aku cuma punya uang Rp 5.000 kemudian masuk ke Cafe kelas elit dan pesan masakan paling favorit di sana. Kalau aku bawa uang Rp.50.000 kemudian mampir di warung pinggir jalan hanya habis Rp. 20.000 kan tidak boros meskipun ujung-ujungnya tidak jadi kumakan apa yang kubeli. 

"Apa salahnya sih menjawab tidak bisa atau tidak tahu?", kalimat itu yang sering aku tekankan pada diri sendiri. Selain dari kelas tempat nongkrong, gengsi juga terkadang muncul agar tidak terlihat bodoh sehingga berusaha menjawab atau mengomentari semua hal yang ditanyakan atau dijumpai pada timeline Facebook. Tulisanku yang berjudul Jadi Programmer Itu Berat, Biar Aku Saja sedikit menguraikan sisi kehidupanku yang sering dianggap serba tahu pada hal-hal yang sebetulnya aku tidak tahu. Disamping urusan itu, aku juga sering kali dianggap lebih tahu mengenai urusan agama. Aku berusaha realistis dan menyampaikan apa adanya. Kalau memang tidak tahu ya kukatakan tidak tahu kalau tahu ya kusampaikan sesuai apa yang aku pahami meskipun terasa menyakitkan. Maka dari itu, ada sebagian yang mengatakan kalau aku terlalu jujur. Tampaknya memang aku butuh kelas privat untuk berbohong atau berdiplomasi, sih. Buktinya dari 15 anak yang nyanggar di sini sekarang tinggal 2 saja. Lainnya sudah pada hijrah ke jalan yang benar.
Sumber: Giphy
Aku sering merasa senang dihadapkan dengan beragam masalah. Salah satu contoh ketika aku memiliki konflik dengan seseorang kemudian membuatku merasa lebih benar dari dia maka hal itu membuatku senang. Ya! aku merasa memiliki kesempatan untuk mengukur seberapa tingkat kemampuanku dalam hal menundukkan gengsi. Kalau aku merasa benar kemudian sampai mengacuhkan orang tersebut bearti aku gagal akan tetapi kalau aku masih bisa ta'dzim apalagi sampai kuat ngalap berkah darinya maka aku berhasil. Jadi kesombongan yang ada itu bisa dikonversi menjadi alat yang sangat berharga nilainya bagiku.

Menghadapi orang-orang yang menentang apa yang kulakukan disini, misalnya tentang Sanggar Pelangi, tentang keputusanku pindah ke masjid, dan lain sebagainya yang kemudian memunculkan anggapan yang bukan-bukan, hal itu memang sangat menyenangkan bagiku. Banyak hal yang bisa kupelajari dari situ. Aku merasa memiliki banyak bahan untuk belajar menata hati dan pikiran. Belajar menghilangkan gengsi. Aku tidak malu untuk mengakui kalau aku kalah alim, kalah pintar, kalah kuasa, dan lain sebagainya. Paling tidak, aku tahu bagian diriku yang mana yang perlu diperbaiki. Kalau aku masih gengsi dan merasa berhak dan layak untuk dianggap ada dan berarti bagi masyarakat bearti itu tandanya aku gagal. Sudah sepantasnya seorang khodim yang sedang berhidmah tidak dihargai, bukan? Diabaikan adalah hal yang biasa. Banyak yang malu bertemu dan akrab denganku adalah hal yang wajar. Sekali lagi, di sini, aku niat untuk berkhidmah bukan berjuang. Jadi kalau aku diperlakukan layaknya gembel adalah hal yang normal belaka. Camkan itu, Dut.
Sumber: Giphy

Read More..