Posts

Coretan Terbaru

Janji

Image
Semalam, setelah aku membacakan cerita karangan sendiri tentang bebek, sapi, dan ayam, Kevin tampak berbinar-binar. Jujur saja, baru kali ini, aku mengarang cerita sendiri untuknya. Setelah aku kehabisan bahan, akhirnya kuminta dia untuk mengambil buku-buku cerita miliknya. Dia pun mengambil buku yang bercerita tentang keluarga kelinci yang bernama Flopsy. Aku membacakannya sampai selesai.

Setelah ritual bercerita selesai, Kevin tampak belum mengantuk. Dia malah minta HP untuk nonton. Aku kasihkanlah HPnya Widut. Saat Kevin main HP itu aku juga ikut-ikutan buka HP. Setelah selesai menulis artikel, aku buka-buka game. Ndilalah kok Kevin mengintip saat aku main game. Dia pun malah tertarik dengan HPku. Segera saja HP ibunya dimatikan dan meminta HPku.
"Bah, aku mainan pohon wae", katanya sambil menunjuk-nunjuk gambar pohon di HPku. Tapi aku melarangnya. Meskipun Kevin boleh mainan HP tapi aku memberikan batasan-batasan tertentu untuknya. Salah satunya dia tidak boleh main game. …

Tertidur

Image
Siang kemarin, Kevin ngambek. Gara-garanya waktu dia ngajak baca buku tepat saat aku kebelet BAB.

"Bah, buku kuning mana?" tanyanya. Maksudnya adalah buku "Dunia Kali" yang kubeli beberapa hari yang lalu. Di buku itu ada gambar-gambar ilustrasi yang menarik baginya. Dia sudah menghatamkan buku itu (melihat-lihat gambarnya sampai selesai) saat hari pertama buku itu sampai.
Karena aku sedang menahan mules, aku hanya menunjuk buku itu sambil bergegas ke WC tanpa berkomentar apa-apa.
"Baca buku, bah", terdengar teriakan Kevin saat aku memulai ritual di dalam WC. Widut terdengar menenangkan Kevin yang sepertinya mulai ngambek. Benar saja! Saat ritualku telah paripurna dan aku nyamperi dia ternyata sudah ngambek level 2. Apa tandanya? Diam membisu sambil mecucu adalah tanda yang hakiki. Aku mengajaknya membaca tidak direspon. Langsung saja aku buka-buka buku Dunia Kali sambil ngoceh sendiri saat mendapati ada gambar. Lama-lama hal itu membuat Kevin tertarik ikut n…

Jam Mewarnai

Image
Sore tadi, bangun tidur, Kevin rewel gak ketulungan. Sampai adzan magrib berkumandang dia masih sesenggukan entah apa yang ditangisi. Dibujuk-rayu gak mempan, ditanya gak mau jawab, sebaliknya ia malah tambah ngamuk. Ia sepertinya habis mimpi main sesuatu. Hal itu tampak ia seperti berusaha mencari-cari sesuatu saat bangun tidur sebelum akhirnya menangis.

Singkat cerita, setelah dia mulai berhenti menangis, kuajak dia makan. Ritual makan kami seperti biasa yaitu sepiring atau senampan untuk bertiga. Sambil makan sambil kuajak bergurau dengan harapan dia tidak nangis lagi. Belum selesai ritual makan yang kami lakukan, dengan nada sendu, Kevin berkata:
"Abaaah, pancingan.", katanya dengan memelas. Dalam hati aku berkata "baru saja kutulis di FB lha kok sudah minta pancingan lagi". Karena suasana masih melo, aku mau tidak mau harus mengiyakan permintaannya. Jika tidak, ia akan menangis lebih heboh lagi daripada tangisan yang baru saja dikhatamkannya.
Aku mengajak Kevin m…

Mancing Ikan

Image
Sejak gagal main pancingan ikan di pasar malam karena kebelet pipis (cerita sebelumnya), Kevin seringkali merengek ngajak mancing ikan.

"Bah, kancingan, Bah." rengeknya. Aku tau maksudnya mau mengajak main pancingan ikan tapi karena dia salah dengar waktu di pasar malam jadinya dikira nama mainan itu adalah kancingan. Karena malam itu aku harus lembur kejar deadline, aku mengabaikan rengekannya dan mengalihkan perhatiannya ke hal lain. Baru besok malamnya kuturuti keinginannya sampai dia puas.
Setelah aku turuti kemauannya itu sampai puas, aku kira dia sudah tidak akan ngajak main pancingan lagi. Lha kok malah jadi semacam kecanduan. Setiap hari ngajak main pancingan hingga aku memutuskan untuk membelikannya sendiri. Dengan memiliki mainan sendiri apakah membuat drama pancingan berakhir? Ternyata tidak, sodara-sodara.
Saat kuajak ke alun-alun kidul kota Solo, doi berlari-lari dari kejauhan mendekati Odong-odong. Belum juga sampai di tempat odong-odong dia melihat permainan panc…

Aturan Tentang Pipis

Image
Aku bukanlah orangtua yang baik untuk ukuran pengagum teori pop seputar parenting. Sederet buku tentang parenting hanya sebatas kukagumi belaka dan berlalu begitu saja. Nyatanya aku masih suka sewenang-wenang menerapkan aturan untuk anak.

Salah satu aturan itu adalah: dilarang pipis sembarangan. Sejak Kevin belum bisa pipis sendiri, dia memang biasa dilarikan ke WC setiap kali ketahuan mau pipis. Usaha ini bukannya tidak mendapat tantangan. Orang tuaku maupun mertua sudah terbiasa memipiskan anak atau cucu-cucunya (tatur/nyatur) di samping tempat tidur, depan rumah, atau tempat strategis lainnya. Walhasil, usaha kami sering dianggap menambah keruwetan belaka. Tapi kami tetap bergeming. "Lebih repot lagi kalau setiap mau sholat mandi atau mengguyur setengah badan dulu.", pikirku waktu itu.
Saat Kevin bisa pipis sendiri seperti saat ini, aturan yang sudah kami tanamkan sejak dini itu telah mendarah daging dengannya. Budhe atau keluarga lainnya yang sedang mengajak Kevin dan saat…

Takut Patung

Image
Setiap kuajak jalan-jalan di komplek candi, museum, atau tempat lainnya, Kevin mesti berteriak histeris jika mendapati ada patung manusia di sana. Ia tidak pernah setakut itu jika bertemu dengan patung hewan sebesar dan semengerikan apapun itu, kecuali patung hewan itu sedang membuka mulut dan muat untuk dimasuki tubuh mungil si K. Kalau patung hewan yang sedang mangap seperti itu biasanya juga akan membuatnya girap-girap.

Saat kuajak bertandang di museum dirgantara Yogyakarya, Kevin malah berlari menjauhi pintu museum. Alasannya, ia ingin melihat helikopter yang berada di depan museum. Aku bujuk berkali-kali untuk masuk museum dulu baru lihat helikopter namun ia tetap bergeming. Usut punya usut ternyata dia takut dengan patung pejuang yang ada di depan pintu museum. Aku tersenyum kecut menyadari anak yang belum genap 3 tahun sudah pandai mencari alasan. Walhasil, agar dia mau ikut masuk museum harus digendong.
"Cengklek, Abah. Cengklek...", Rengeknya saat melihat patung manus…

Ditilang Karena Motret Razia

Image
Kejadian lucu ini terjadi kemarin saat pulang dari Semarang. Seorang polisi menghentikan kendaraanku dengan isyarat menggunakan tangan. Setelah berbasa-basi sebentar, pak pol memintaku untuk menunjukkan SIM dan STNK. 

Aku sempat merasa aman sebelum pak pol bertanya apa lampu utama kendaraanku nyala? Setelah aku tunjukkan kalau lampunya nyala, pak pol berkata "lain kali dinyalakan terus, ya", kemudian mengajakku ikut ke kantor.
Di kantor, seorang polisi memroses berkasku dan segera memberitahu kesalahanku dan waktu sidang untuk mengambil STNK. Tak lama setelah itu, dia menanyaiku apakah mau sidang sendiri atau titip? Aku bertanya kalau titip berapa? "Wah mahal kalau titip", kata pak pol kemudian membuka-buka buku tentang Undang-Undang Pelanggaran Lalu Lintas dan menunjukkan padaku pasal 293 ayat 2 yang denda pelanggarannya tertera 100ribu. Kontan saja aku menjawab titip mengingat PRku yang kubawa dari Semarang lumayan banyak. Setelah tandatangan dan menyerahkan uang 1…